23 Mei 2016

Kenapa Saya Menulis?

Ada sebuah Quote menarik yang pernah mengusik hati saya beberapa waktu yang lalu. Quote itu bunyinya kurang lebih seperti ini : "Jika kamu ingin mengenal dunia, membacalah. Dan jika dunia ingin mengenal kamu, maka menulislah..!"

Yes, dari quote itu secara sederhana pesannya bisa kita tangkap bahwa membaca dan menulis itu merupakan dua hal yang tidak terpisahkan.
  

Saya teringat lagi saat berdiskusi dengan Om saya, Prof. Ir. Daniel M. Rosyid Phd, yang kebetulan salah satu guru besar di ITS Surabaya. Om Daniel pernah memberikan wejangan kepada saya. Wejangannya itu adalah agar saya bisa menulis setidaknya satu buah buku dalam seumur hidup saya. 

"Dik Hatta, usahakan kamu bisa menulis setidaknya satu buah buku, yang nanti bisa jadi warisan berharga untuk anak cucumu, serta mereka bisa mendapatkan manfaat dari buku yang kamu tulis itu. Jangan sampai seumur hidupmu, kamu hanya sekali nulis buku saja, yaitu buku skripsi."

Jleb..!! Kata-kata itu masih terus terngiang ditelinga saya, bahkan sampai saat ini.

Masalahnya saat itu adalah saya masih belum suka dengan yang namanya kegiatan menulis. Ya, saya benci sekali dengan yang namanya menulis. Dari saya SD, SMP, hingga SMA, saya selalu mendapat nilai yang kurang dalam kegiatan menulis.

Bahkan jika ujian Bahasa Indonesia biasanya selalu ada poin penilaian mengarang. Ini yang paling saya benci. Saya selalu tidak bisa menulis lebih dari setengah lembar folio. Bahkan hurufnya pun sudah saya tulis besar-besar dan spasi yang lebar pun juga tidak menolong. Hahaha..

Tapi memang pelan-pelan saya jadi mengerti, saya susah menulis itu mungkin karena salah satunya karena saya kurang banyak pengetahuan yang saya miliki. Karena kurang membaca..! Ini menjadi salah satu penyebab utamanya, dan itu saya pikir ada benarnya.

Hingga suatu saat saya baru menemukan soul membaca itu ketika masuk bangku kuliah. Tetapi buku-buku yang saya sukai malah tidak ada hubungannya dengan kuliah saya. Saya lebih suka membaca buku-buku bertema bisnis, motivasi, pengembangan diri, entrepreneurship dan sejenisnya. 

Sampai disini masih belum cukup. Saya masih belum memiliki role model penulis yang cocok dan bisa satu jiwa dengan saya. Saya tidak bisa membuat tulisan bergenre fiksi, tapi lebih suka membuat tulisan yang mengalir seperti orang ngoceh.

Hingga akhirnya saya menemukan salah satu 'guru' menulis yang cocok. Beliau ini kalau bikin tulisan selalu saja bikin saya menarik untuk membacanya. Gaya bahasanya pun juga renyah enak dibaca. Mengalir begitu saja bahkan juga bisa mendeskripsikan sesuatu secara detail. Bahkan tidak jarang diselingi joke-joke yang bikin pembacanya tersenyum.

Siapakah dia? Dia adalah Pak Dahlan Iskan. Ya, saya banyak belajar gaya bahasa menulis dari tulisan-tulisannya beliau. Meskipun begitu saya berusaha untuk menemukan gaya bahasa menulis saya sendiri.

Hingga akhirnya saya mengenal Komunitas Tangan Di Atas ditahun 2006 saya bisa mengenal yang namanya blog ini. Maklum saja, waktu itu oleh foundernya TDA, Pak Roni Yuzirman, para anggota TDA 'diwajibkan' agar bisa punya blog sendiri. Dipaksa harus bisa.

Mau gak mau akhirnya bikinlah blog saya ini, alamatnya pun juga agak sedikit nyleneh www.thehattainstitute.com. Hahaha..

Dengan menggunakan blog inilah akhirnya bisa saya jadikan sebagai tempat untuk mengasah kemampuan menulis saya. Menulis dengan cara saya sendiri, dengan bahasa saya sendiri, menulis dengan gaya saya sendiri. Suka-suka saya sendiri, lhah kan juga ini blog saya sendiri.

Hingga akhirnya baru akhir-akhir ini saja saya coba sedikit berpikir dan merenung. Konon salah satu amal jariyah yang tidak terputus itu adalah ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. Dan ilmu itu salah satunya kan bisa kita sampaikan dalam bentuk tulisan.

Akhirnya saya terinspirasi untuk membuat tulisan-tulisan yang bisa memberikan manfaat kepada yang membacanya. Salah satu tulisan yang pernah saya buat adalah mengenai "Perjalanan Bisnis Tasya Souvenir", yang bahkan saat itu bisa sampai 63 episode. Dimana tulisan itu saya buat di notes FB pribadi saya DISINI

Pengen banget saat itu kumpulan tulisan itu bisa diterbitkan menjadi sebuah buku. Tapi ternyata dua naskah yang coba saya masukkan ditolak oleh penerbit. Dan jujur saja penolakan tersebut sempat membuat saya malas untuk menulis lagi.

Namun ada teman saya yang memberikan semangat untuk terus menulis, untuk terus memberikan manfaat kepada orang lain yang membaca tulisan kita. Bahkan ada juga yang menyarankan untuk dijadikan sebuah ebook dan itu dijual..! Hahaha..

Akhirnya ada juga tulisan saya yang saya jadikan ebook dan saya bagikan gratis. Salah duanya adalah Ebook "Kaya Dari Bisnis Undangan Pernikahan" (bisa didownload DISINI) dan yang satunya lagi Ebook "Asyiknya Bisnis Undangan Pernikahan" (bisa didownload DISITU).

Memang Ebook itu masih jauh dari kata sempurna, tapi setidaknya saya ingin bisa memberikan manfaat kepada orang lain yang mau membaca ebook saya itu tadi.

Kembali lagi bicara mengenai "Kenapa Saya Menulis?", nah ini yang akhir-akhir ini kembali membuncah dalam pikiran saya. Saya ingin sekali bisa memberikan 'warisan' ilmu yang bermanfaat kepada anak cucu saya nanti, sehingga anak-cucu saya nanti bisa bangga dengan ayah dan kakeknya hingga mereka bisa 'pamer' buku ayah/kakeknya itu sembari bilang gini : "Eh bro, aku punya buku bagus banget yang isinya mungkin bermanfaat buku kamu, dan ini bukunya yang nulis ayah/kakek saya lhoo.."

Sebuah impian yang mungkin saat ini masih mustahil dan belum terwujud, tapi saya ingin impian ini bisa terwujud apalagi saya menemukan teman-teman yang memiliki passion yang sama di Kelas Menulis Online.

Semoga saja semangat menulis ini akan selalu ada dan semua bisa saling mensupport mendukung untuk mewujudkan impiannya masing-masing.


Salam menulis..

Hatta N. Adhy PK, ST