18 Mei 2014

Jebakan Betmen Lamis Lamis Lambe

Jujur saja kali ini saya ingin menuliskan "curhat pribadi" berkenaan dengan hasil Konvensi Partai Demokrat yang diumumkan oleh SBY pada Jumat sore kemarin. Mengikuti perkembangan dan perjalanan berlangsungnya konvensi ini hingga akhirnya diumumkan hasilnya Jumat sore kemarin membuat saja jujur saja menjadi jengkel.

Memang, saat tulisan ini saya buat, semuanya masih bisa terjadi. Segala kemungkinan masih mungkin saja tak terduga hingga sampai pendaftaran capres-cawapres betul-betul ditutup oleh KPU.

Yang membuat saya jengkel itu tidak lain adalah ketidakkonsekwenan-nya Partai Demokrat terhadap berlangsungnya konvensi dan menyikapi hasil konvensi yang dihasilkan.

Oke, saya belum pernah dalam satu periode pemilu sampai sebegitunya 'berkampanye' terhadap satu figur tertentu. Namun ketika ada seorang figur Dahlan Iskan digadang-gadang berpeluang maju menjadi capres dan bisa mendapatkan peluang melalui konvensi, saya jadi senangnya bukan main.

Bahkan jujur saja sebelumnya saya tidak sreg dan tidak cocok kalo abah maju mendapatkan tiket capresnya melalui Partai Demokrat. Sebab dengan image Demokrat yang saat ini banyak kadernya 'kecipratan oli' membuat banyak stigma negatif di mata masyarakat. Agak berat untuk meyakinkan akar rumput untuk kembali memilih Demokrat dalam pileg kemarin.

Hal ini pasti disadari oleh elite partai, kemungkinan untuk bisa meraih suara yang banyak dalam pileg sepertinya berat sekali. Pemberitaan-pemberitaan yang banyak melibatkan para kader berlambang mercy ini membuat masyarakat jadi antipati dan malas untuk memilih Demokrat.

"Ah kemarin nyoblos Demokrat ternyata kadernya banyak yang terlibar korupsi. Kalo mau nyoblos Demokrat lagi saya malas..."

Kurang lebih begitulah suara yang sering saya temui di lapangan.

Sadar dengan peluangnya yang kecil, akhirnya dicari cara agar bisa mendongkrak kembali kepercayaan masyarakat kepada Demokrat. Hingga akhirnya dimunculkan adanya Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. Dimana ini menjadi media untuk menjaring calon-calon presiden yang berkualitas yang kelak bisa diajukan oleh Partai Demokrat menjadi calon presiden dalam pemilu 2014. Kira-kira begitu.

Akhirnya dijaringlah beberapa nama yang akhirnya ikut menjadi kandidat peserta konvensi ini. Termasuk akhirnya Pak Dahlan Iskan yang sebelumnya tidak tertarik untuk mengikuti konvensi ini akhirnya bersedia untuk ikut. Khusus Pak Dahlan ini ternyata bukan inisiatifnya sendiri, melainkan diminta oleh SBY untuk mendaftar.

Namun, karena sebagai orang jawa, Pak Dahlan juga merasa, "Ini bener-bener serius atau nggak ya? Atau jangan-jangan hanya cuman lamis-lamis lambe". Seperti itulah yang diutarakan Pak Dahlan. Dan setelah dibujuk 2-3 kali untuk ikut mendaftar, akhirnya Pak Dahlan ikut juga.

Oke, sampai disini mungkin masih belum kelihatan jebakan betmennya, sebab figur Pak Dahlan masih dibutuhkan oleh SBY sebagai salah satu peserta konvensi, agar (mungkin) konvensi ini laku buat dijual ke masyarakat.

Kira-kira begini : "Ini lho di Demokrat ada bakal calon presiden yang bersih (dari kasus-kasus korupsi) dan banyak prestasinya"......

Dan bisa jadi SBY juga menyadari bahwa Pak Dahlan ini punya nilai jual yang tinggi dengan prestasi-prestasinya, disamping disisi lain Pak Dahlan juga memiliki basis pendukung di akar rumput yang luar biasa. Inilah yang mungkin dibidik, menjadikan Pak Dahlan menjadi vote getter bagi Demokrat.

Dan jujur saja saya juga merasakan seperti itu. Saya rela dan mau memilih Demokrat karena ada figur Pak Dahlan disana. Bahkan di keluarga pun saya juga sering 'berpromosi' agar memilih Demokrat biar Pak Dahlan bisa maju menjadi capres.

Namun ketika pileg sudah selesai dan suara yang didapatkan oleh Demokrat juga sudah jelas, hanya kisaran 10%, plus hasil konvensi yang sudah diumumkan, sekaligus mendengarkan bagaimana sikap SBY terhadap hasil konvensi, ujung-ujungnya membuat saya jengkel. Jengkel sekali malah.

Jengkelnya kenapa?

Ya sudah pasti jengkel dengan sikap SBY yang tidak tegas. Begitu hasil Quick Count pemilu sudah beredar, tidak ada tanda-tanda yang serius untuk menggoreng partainya untuk bisa segera mencari 'jodoh' dalam koalisi. Semua masih tenang-tenang saja.

Okelah, ada alasan proses konvensi belum selesai, mungkin alasan itu bisa diterima. Namun ketika proses konvensi sudah selesai dan hasilnya sudah diumumkan, juga tidak ada tanda-tanda bagaimana menyikapi langkah selanjutnya.

Pemenang konvensi, dalam hal ini Pak Dahlan Iskan, mau digimanain nasibnya? Mau digodog jadi capres lalu mencarikan pasangan cawapresnya bersama mitra koalisi? Mau diajukan sebagai cawapres dari capres-capres yang sudah ada? Atau mau dimasukkan laci saja? Ini tidak ada penyikapan yang serius.

Sungguh bukan sebuah contoh sikap yang baik. Ketika awalnya disuruh ikut konvensi sudah diikuti bahkan hingga selesai dan diumumkan menjadi pemenang. Padahal judulnya saja "Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat", ya sudah seharusnya si pemenang diusahakan semaksimal mungkin diajukan sebagai capres. That's it..!!

Lalu ada-ada saja alasan, "Suara partai demokrat yang kecil, yang hanya sekitar 10%, menyulitkan Demokrat untuk mengajukan capresnya sendiri". Hoiiiiiiiiiiii....!!! Hooooooooiiii....!!! Masa SBY lupa sih ya? Lha dulu ketika suara Demokrat hanya dapet 7% saja ternyata bisa membentuk poros koalisi. Ternyata bisa diajukan oleh rekan-rekan koalisi tersebut sebagai capres. Dan bahkan bisa menang..!! 

Hooooooooiiii mana semangatnya yang dulu ituuuuu??? Hal inilah yang saya pertanyakan lagi. Kalo dulu dengan modal 7% saja bisa percaya diri membentuk koalisi, bisa percaya diri maju sebagai capres dan akhirnya malah bisa menang. Seharusnya ya saat ini juga bisa saja (andaikata) mau dan serius..!

Jujur saja saya tidak habis pikir dengan alasan tersebut. Mungkin bisa diibaratkan pertandingan belum dimulai tapi sudah menyerah.

Atau jangan-jangan, seperti yang saya baca dibeberapa media, sesungguhnya yang diinginkan jadi pemenang sebenarnya adalah PEW. Namun karena proses konvensi yang selalu disorot oleh media, dan terlebih lagi Pak Dahlan juga orang media jadi bisa tahu, ditambah lagi lembaga surveynya yang kebetulan juga benar-benar independen, akhirnya suara PEW kalah jauh dengan Pak Dahlan, maka nasib konvensi demokrat cukup sampai disini saja. Cukup sampai diumumkan pemenangnya saja. Tidak perlu dilanjutkan maju jadi capres, soalnya tidak sesuai dengan yg diinginkan.

Kalo memang dari awal yang dikehendaki sebagai capres Demokrat itu adalah PEW, lha lalu buat apa diadain konvensi-konvensi nan segala? Malah cuman habis-habisin duit saja. Mendingan dari awal duitnya dipakai untuk fokus 'menggoreng' PEW agar laku dijual. Jadi duitnya tidak mubadzir.

Terlebih lagi seperti yang dilansir dalam detik.com tadi siang, ternyata Demokrat memutuskan untuk berkoalisi dengan Golkar dengan pasangan yang diajukan adalah ARB dan PEW. Andaikata berita ini benar, sungguh hal ini bisa mencederai pembelajaran proses politik di negeri ini. Pemenang konvensi yang sudah berjuang mati-matian seakan tidak ada artinya.

Atau jangan-jangan (lagi), ada juga yang menilai jika Pak SBY ingin cari aman setelah nanti tidak menjabat. Jadi memasang jagoan di dua kaki. Di kaki yang satu memasang besan dan kaki yang lainnya memasang iparnya. Jadi siapapun yang menang masih bisa aman. Namun semoga saja pemikiran itu tidak benar.

Untung saja Pak Dahlan Iskan itu orangnya tidak emosian, tidak terlalu banyak menuntut dan gila kekuasaan, dan selalu bisa menerima apapun hasilnya. "Siap menjadi capres, siap menjadi cawapres, dan siap tidak jadi apa-apa" hal itulah yang sering beliau ucapkan.

Jadi, Andaikata sampai batas akhir penutupan pendaftaran capres-cawapres oleh KPU nanti ternyata nama Pak Dahlan tetap tidak diajukan oleh Demokrat, entah itu sebagai capres atau cawapres. Atau bahkan Demokrat malah mencalonkan calon yang lainnya (bukan Pak Dahlan sebagai pemenang konvensi), itu berarti apa yang dikatakan Pak Dahlan sebagai 'LAMIS LAMIS LAMBE' ternyata terbukti. Dan Pak Dahlan sudah terkena Jebakan Betmen Lamis Lamis Lambe itu.

Dari kacamata saya pribadi, Andai saja Demokrat masih ngotot mengajukan calon lain selain pemenang konvensi, sepertinya kok saya merasa Demokrat akan menggali kuburannya sendiri. Suara-suara para Dahlanis saya yakin akan banyak beralih ke capres lainnya.

Namun semuanya masih memungkinkan segalanya, apalagi dimasa-masa injury time nanti. Saya berharap Pak Dahlan masih bisa diajukan sebagai capres, dan bisa digandengkan dengan Mahfud MD. Atau misalkan menjadi cawapres, saya lebih cenderung memilih Pak Dahlan untuk menjadi cawapresnya Prabowo saja.

Itu pendapat saya. Bagaimana dengan Anda??