25 Agustus 2013

Dahlan Iskan Guru Menulisku

Gara-gara dalam satu minggu ini saya menulis terus mengenai sosok Pak Dahlan Iskan berkaitan dengan isu pencalonannya menjadi peserta konvensi Partai Demokrat, akhirnya banyak yang menganggap saya ini adalah tim sukses atau tim relawannya Pak Dahlan Iskan.

Padahal sesungguhnya saya itu bukanlah tim suksesnya beliau (secara resmi). Saya hanyalah menulis mengikuti kata hati saya pribadi saja. Mengenai tentang pencapresannya itu sendiri memang sebenarnya beliau adalah figur yang saya inginkan untuk menjadi presiden mendatang. Beliaulah yang menurut Akal Sehat saya adalah calon presiden yang terbaik yang layak didukung untuk menjadi presiden mendatang.

Saya tidak mendewa-dewakan Pak Dahlan Iskan itu seperti layaknya saya menjadikannya "Tuhan Ke-2". Salah, itu salah besar..!! Saya hanya kagum dengan pribadi beliau, sepak terjangnya dalam membangun bisnis, pengalamannya menjadi birokrat, sifat-sifat sosialnya, dan masih ada satu lagi yaitu....

Beliau itu adalah 'Guru Menulis' saya...

Ya. Beliau saya anggap sebagai 'Guru Menulis' terbaik saya. Memang saya tidak pernah menjadi muridnya secara langsung, murid dalam diklat kepenulisan, atau pelatihan menulis. Bahkan sayapun tidak pernah mengikuti kursus-kursus tentang kepenulisan yang seperti itu.

Dari saya masih kecil, waktu saya masih SD, saya masih ingat betul bahwa pelajaran yang paling saya benci itu adalah pelajaran Bahasa Indonesia, karena selain guru yang mengajarnya terkenal killer, disana juga ada materi belajar yang berupa : mengarang..!!

Saya betul-betul mati kutu jika ada PR atau Ujian dan itu berupa ujian mengarang..!! Saya merasa tidak berbakat menulis sama sakali. Bahkan dalam satu lembar folio untuk lembar mengarang, maksimal hanya bisa saya tulis setengahnya lebih sedikit saja. Itupun sudah saya akali : hurufnya saya buat berjarak agak renggang dan hurufnya saya buat besar-besar, maksud saya biar bisa memakan baris yang banyak. Hahahaha.....

Tapi ternyata cara saya itu tetap saja tidak menolong. Kualitas menulis (mengarang) saya parah sekali. Betul-betul parah. Dan hal itu terus berlanjut saat saya naik kelas SMP dan SMA. Bandrol bahwa saya tidak berbakat dalam hal mengarang atau tulis menulis itu terus melekat.

Hingga akhirnya ketika kuliah di ITS Surabaya saya sering membaca Harian Jawa Pos. Entah itu di kost teman, di warung makan, atau di warung kopi dapat dengan mudah menemukan koran Jawa Pos itu tadi. Memang barangkali itu menjadi salah satu daya tarik warung makan, mereka menyediakan koran biar para konsumen mau membeli di warung itu sambil membaca.

Dan memang sepertinya memang benar. Karena saya sendiri selalu mencari warung makan yang menyediakan koran Jawa Pos-nya agar bisa meng-update berita, atau membaca artikel-artikelnya. Atau setidaknya iseng-iseng baca ramalan bintang atau jadwal siaran langsung sepakbola di TV.

Dari situ pula akhirnya saya sering membaca tulisan-tulisan Pak Dahlan Iskan itu. Kisah-kisah perjalanannya ke luar negeri, entah itu untuk kepentingan bisnis atau untuk kepentingan yang lain, seringkali dia tuliskan dengan bahasa yang sangat menarik. Seringkali tulisan itu dibuat berseri, sehingga membuat penasaran si pembacanya tentang kelanjutan tulisannya.

Tulisan catatan-catatan ringannya, kisah pengalaman perjalanannya ke china, hingga kisah serial bersambungnya mengenai operasi "Ganti Hati"-nya itu sangat-sangat membuat saya takjub dan akhirnya jadi jatuh cinta dengan tulisan Pak Dahlan Iskan.

Tulisan yang seringkali deskriptif sekali, bisa menggambarkan dengan detail apa-apa saja yang dialaminya itu hingga seolah-olah si pembaca bisa terhipnotis menjadi 'lakon' dalam tulisannya itu. Alur tulisannya juga runtut dan asyik disimak, tidak lompat-lompat ga karuan. Dan biasanya disisipi atau diakhiri dengan kata-kata yang menggelitik. 

Dan hebatnya, gaya bahasa tulisannya itu bisa tetap bertahan hingga sekarang. Sungguh luar biasa...!!

Dari situlah, waktu itu Pak Dahlan Iskan masih belum jadi Dirut PLN ataupun Menteri BUMN, akhirnya saya menjadi ketagihan membaca tulisan-tulisannya. Namun sayang, meskipun saya sudah senang membaca tulisan-tulisannya, problem saya susah menulis atau mengarang tetap saja lekat dalam diri saya. Saya masih belum bisa menulis dengan baik. Itu terus berlangsung sampai akhirnya saya lulus kuliah.

Untung saja akhirnya saya bisa kenal dengan yang namanya ngeblog ini. Yang dulu tidak tahu apa-apa tentang ngeblog, akhirnya mau gak mau belajar juga. Dari situ saya menganggap bahwa blog ini sebenarnya adalah mirip-mirip seperti diary, hanya saja ini berupa diary online yang bisa dilihat oleh orang yang bisa mengakses blog kita.

Dengan adanya blog ini akhirnya ada sisi positifnya. Saya jadi mau dan berani untuk belajar menulis atau mengarang. Dan sejarah saya bisa menulispun akhirnya dimulai dari blog ini.

Saat itu saya juga masih bingung dengan 'identitas gaya menulis' yang akan saya pakai itu gimana. Sebab saya perhatikan banyak sekali penulis-penulis yang masing-masing memiliki gaya khas penulisan yang sendiri-sendiri. Saya bingung, mau ngikut model tulisannya siapa ya? Nulis gaya sastra saya gak pas, nulis seperti Emha Ainun Nadjib (kebetulan juga suka baca bukunya) juga gak bisa, nulis seperti Pak GM (Goenawan Muhammad) juga gak bisa.

Ya akhirnya saya belajar menulis yang mengalir saja. Menulis seperti saya ngomel plus dengan deskripsi seperlunya. Dan kadang-kadang membuat si pembaca biar bisa merasa menjadi 'lakon'-nya. Ya pengennya sih nyiptain gaya sendiri.

Namun lama kelamaan saya merasakan, 'Ruh Cara Menulis Dahlan Iskan' seringkali hinggap dalam tulisan saya. Maaf, setidaknya ini menurut pandangan saya pribadi lho yaa.. Saya jadi merasa enjoy dengan gaya menulis seperti Pak Dahlan Iskan itu.

Awalnya memang kualitas tulisan saya jeleeeeeekk sekali. Dibaca ulang saja males, hehe.. Namun saya terus berusaha untuk memperbaiki teknik cara menulis. Dengan sering mengikuti tulisan-tulisan Pak Dahlan Iskan, baik yang berupa catatan kecil, CEO NOTE, hingga Manufacturing Hope itu akhirnya saya bisa banyak belajar dari tulisan beliau.

Sejak itu saya jadi berani menulis. Saat ini setidaknya sudah 5 serial tulisan yang sudah pernah saya tuliskan (namun belum dibukukan) :
  • Perjalanan Bisnis Tasya Souvenir (50 tulisan)
  • 9 Keajaiban Asyiknya Bisnis Souvenir Pernikahan (9 tulisan)
  • 9 Cara Menemukan Ide Bisnis (9 tulisan)
  • 10 Cara Paling Mudah Sukses Menjalankan Bisnis MLM (10 tulisan)
  • 12 Jalan Menjadi Jatuh Cinta Pada MLM (12 tulisan)
Itulah mengapa saya merasa kagum dengan Pak Dahlan Iskan itu. Saya tidak taklid buta mendewa-dewakan beliau. Namun dalam hal yang satu ini, berhubungan dengan dunia tulis-menulis ini, saya mengakui bahwa beliau adalah salah satu inspirasi saya dan salah satu 'Guru Menulis' terbaik saya.

Andai saat itu saya tidak mengenal tulisan-tulisannya, tidak familiar dengan tulisan-tulisannya, serta tidak belajar mem-'bedah' tulisannya, dan tentu saja bila saya tidak belajar ngeblog, tentu bakat menulis saya masih dodol seperti waktu saya masih SD.

Karena itu saya bersyukur bisa mengenal dan membaca tulisan-tulisan beliau yang sering membangkitkan 'hope', hingga akhirnya saya jadi bisa membangkitkan dan menumbuhkan kemampuan menulis saya.

Terimakasih Pak Dahlan Iskan...
Terimakasih 'Guru Menulis' terbaikku...


Klaten, 25 Agustus 2013

Salam,

HATTA N ADHY PK,ST