05 Agustus 2013

Saya Tidak Suka Sedekah Ke Pengemis Atau Pengamen

Kali ini saya akan coba sharing pengalaman pribadi mengenai memberikan uang kepada pengemis atau kepada pengamen. Entah itu bila saya temui di jalanan atau mereka yang datang keliling dari rumah ke rumah.

Sudah barang tentu Anda sering menjumpai, pengemis atau pengamen, entah itu ketemu di jalan, di lampu merah, di dalam bus, atau mungkin yang keliling dari rumah ke rumah. Kadang Anda berada pada dilema pilihan : "Ini saya kasih (uang, entah receh atau nonreceh) atau gak usah saya kasih ya?" Saya yakin Anda sudah pernah berada pada posisi dilema tersebut.

Saya pribadi saja dengan istri juga sering, bahkan amat sering sekali bertolak belakang pendapat dalam hal ini. Saya cenderung kurang setuju memberikan mereka itu uang, tetapi istri saya lebih cenderung mudah kasihan dan ingin memberikan uang kepada pengemis atau pengamen itu.

Bahkan tidak jarang hanya karena hal sepele itu saja bisa jadi 'keributan' kecil, hehehe...

Kalo alasan istri saya sih simple saja yaitu "Anggap saja itu uang sedekah atau berbagi rejeki dengan mereka, urusan mereka nanti mau dipakai buat apalagi ya nanti jadi tanggung jawab mereka yang kita beri itu". Sedangkan alasan tidak kesetujuan saya, nah ini yang mau saya bahas khusus dalam tulisan saya kali ini.

Masalah tidak setujunya saya untuk tidak memberi uang kepada pengemis atau pengamen itu tentu saja ada beberapa alasannya. Nah, berikut ini adalah beberapa alasannya :

  • Membuat tidak produktif, sebab dengan begitu mereka akan berpikir bahwa dengan kerja begitu saja (mengemis atau mengamen) itu sudah menghasilkan uang.
  • Membudayakan mental malas. Yup, saya melihatnya adalah seperti itu. Seringkali saya temukan ada pengamen atau pengemis yang masih muda, badannya gagah tegap dan segar bugar. Namun sayang sekali pekerjaannya seperti itu, padahal saya rasa seharusnya masih bisa bekerja dengan lebih bermartabat.
  • Tidak mengajarkan kerja keras. Daripada memberi kepada para pengamen atau pengemis itu, saya pribadi malah lebih suka membeli barang (misalnya koran) kepada pengasong. Sebab ada sisi lain yang harus saya apresiasi, yaitu kemauan kerja keras untuk berusaha supaya dagangannya itu laku.
  • Mempermanenkan profesi mereka. Kalo saya selalu memberi mereka setiap kali saya bertemu, maka secara tidak langsung kita ikut andil mempermanenkan profesi mereka itu. Coba saja kita mulai 'memboikot' untuk tidak memberi mereka uang, maka mereka akan berpikir lagi cari pekerjaan lainnya yang bisa menghasilkan uang. Tidak dengan menjadi pengemis dan pengamen.
Tentu saja Anda boleh setuju atau tidak setuju dengan beberapa alasan saya itu tadi. Sekali lagi ini pendapat dan alasan saya secara pribadi lho yaa. Disisi lain saya pun juga mempunyai fakta yang membuat saya semakin memperkuat untuk tidak suka memberi uang kepada pengamen dan pengemis itu.

Silakan Anda sesekali main di Jogja, mainlah di daerah Pasar Beringharjo Jogja atau di sekitar trotoar di depan monumen yang ada di perempatan kantorpos besar. Anda pasti bisa dibuat geleng-geleng.

Secara tidak sengaja saya memperhatikan seorang pengemis yang hanya wira-wiri meminta-minta kepada para turis diseberang jalan di depan Beteng Vredeburg. Hampir 2 jam lebih saya perhatikan gerak geriknya, dari cara merayu, cara dia meyakinkan, cara memelas, sampai cara membuat para turis menjadi iba hingga mau memberinya selembar uang ribuan atau 2 ribuan. Bener-bener saya geleng-geleng dibuatnya.

Setiap orang yang memberi uang langsung dia masukkan ke dalam sakunya. Hingga setelah kurang lebih 2 jam itu dia lalu istirahat. Saya lihat dia tidak jauh darinya. Ternyata dia mengeluarkan uang-uang itu tadi lalu menatanya. Dikelompokkannya sesuai dengan nominal, lalu di lak-lak i (misal setiap uang seribuan terkumpul 10 lembar, lalu dijadikan satu).

Saya curi lihat, dari hasil 2 jam saja bisa mengumpulkan uang sekitar 80-ribu an..!!! Ya, saya tidak salah lihat. Hampir 80 ribu lhoo..!! Padahal itu baru 2 jam saja. Coba kalo dia dalam sehari 'jam kerja'-nya sampai 8-10 jam. Bisa Anda perkirakan sendiri berapa jumlah penghasilannya.

Bila ditotal-total dalam sebulan, bisa jadi mereka itu bisa memiliki penghasilan diatas 3-4 Juta..!!

Itulah kenapa, saya tidak setuju untuk memberi uang kepada mereka itu... Lha wong kadang yang Anda kira mereka itu miskin itu ternyata salah besar..

Trus apa dong yang saya lebih sukai untuk memberi ke orang? Kalo Saya pribadi Lebih Suka Yang ini : membeli suatu barang kepada pedagang (asongan), tapi yang jelas mereka ada usaha untuk menjual sesuatu (dalam hal ini barang).

Misalkan saya beli koran Jawapos seharga 4 ribu, lalu saya kasih duit 5 ribu, trus uang kembaliannya bisa diambil si penjaja koran itu...

Nah disini ada sisi perbedaannya yang jelas. Si penjaja koran ini BEDA dengan mereka yang mengemis dan mengamen itu. Si penjaja koran ini harus berpikir, berusaha gimana caranya supaya koran yang dijualnya itu bisa laku. Dia bisa dapat penghasilan dari komisi penjualan koran yang berhasil dijualnya itu. Nah, kalo saya memberikan sisa uang kembalian supaya diambil itu tidak sama dengan memberi cuma-cuma. Itu bisa berarti sebagai apresiasi atas kerja kerasnya berusaha untuk menjual korannya.

Ketemu titik perbedaannya kan...??

Nah, tentu ada juga ada yang berpendapat lain. Bahkan istri saya saja juga berpendapat seperti ini : "Yang Penting Niat Untuk Sedekahnya kan?" Waduuuhhh, repot juga kalo alasannya seperti ini. Memang iya, yang penting kita niat sedekah. Namun kita masih bisa juga berpikir logis kira-kira mana ya yang lebih pantas untuk kita beri sedekah. Gitu kaaann??

Trus enaknya sedekah kemana dong? Kalo saya pribadi Lebih Baiknya Adalah Sedekah Ke : panti asuhan anak yatim, ke masjid, atau ke lembaga-lembaga yang sudah terpercaya dalam mengelola zakat-infak-sedekah. Itu lebih pas dan lebih tepat sasaran.

Sekali lagi ini dari sudut pandang saya pribadi lho yaa.. Anda boleh setuju, namun juga tidak dilarang memiliki pandangan lain...

Semoga menginspirasi..

Salam,

Hatta N Adhy PK,ST