18 Maret 2013

Jangan Menabung Untuk Membeli Rumah

Hampir semua orang pasti akan memiliki keinginan untuk bisa memiliki atau membeli rumah sendiri. Biar tidak perlu nebeng dengan orang tua, nebeng dengan mertua, ataupun menjadi kontraktor.

Namun tidak semua orang bisa memilikinya. Kecuali mereka yang memperoleh warisan dari orangtuanya, menikah dengan orang yang sudah memiliki rumah, memperoleh rejeki nomplok undian berhadiah rumah, atau memiliki penghasilan yang besar sehingga bisa dipakai untuk membeli rumah.

Lalu yang biasanya kita temui adalah dengan melakukan hal seperti ini : menabung dulu, ngumpulin duit dulu, baru kalo udah terkumpul sejumlah uang yang dibutuhkan baru dipake buat beli rumah.

Dengan kata lain adalah menabung dulu untuk membeli rumah..!

Saya yakin pasti Anda juga akan pernah berpikir seperti itu kan? Tenang saja, Anda juga ada banyak temannya kok. Saya pun dulu juga termasuk orang yang berpikir kalo pengen beli rumah maka saya musti nabung dulu sampai terkumpul sejumlah yang dibutuhkan, baru dibelikan rumah. Alias membeli rumah dengan menabung.

Itu pikiran saya duluuuuuu... Itu duluuuuuuuuu....

Dan ternyata sekarang saya baru paham kalo pendapat seperti itu adalah kurang efektif (untuk tidak mengatakan salah).

Lha kok bisa? Beberapa dari Anda pasti akan bertanya seperti itu.

Okeeeeeee... Inilah ilustrasi sederhananya... Ilustrasi sederhana dengan menggunakan contoh langsung dengan perhitungan sederhana namun realistis. 

Katakan saja saat ini Anda memiliki keinginan untuk membeli rumah seharga 240 Juta. Anggap aja untuk mudahnya, rumah yang Anda incar dan ingin dibeli itu harga per Bulan Januari 2013 adalah seharga 240 Juta. Poin Penting PertamaHarga 240 Juta per Bulan Januari 2013.

Lalu Anda melakukan metode, membeli rumah dengan menabung dulu. Anggap saja, dalam satu bulannya dari penghasilan yang Anda miliki setiap bulan Anda merasa sanggup untuk menabung sebanyak 2 Juta/bulan.

Bila proses menabung ini Anda lakukan secara rutin dan teratur (tidak ada bolongnya), maka jumlah tabungan sebanyak 240 Juta itu akan bisa Anda dapatkan selama :
= 240 juta / 2 juta
= 120 bulan

Jika 1 tahun ada 12 bulan, maka  Anda membutuhkan waktu menabung selama :
= 120 bulan / 12 bulan
= 10 tahun

Poin penting kedua : dengan menabung rutin per bulan sebesar 2 Juta, maka 10 tahun Anda baru bisa mengumpulkan uang sebanyak 240 Juta, yang rencananya akan Anda gunakan untuk membeli rumah yang Anda incar di Bulan Januari 2013 seharga 240 Juta itu.

Tentu ini dengan catatan : Pertama, Anda menabungnya rutin setiap bulan tidak ada yang bolong. Kalo ada yang bolong, sudah pasti akan mundur lagi (tidak 10 tahun). Kedua, menabungnya juga rutin 2 juta per bulan. Kalo ada bulan dimana Anda tidak bisa menabung sebanyak 2 juta, misalkan cuman bisa nabung 1 Juta, ya tentu saja akan mundur lagi juga.

Nah sekarang pertanyaan saya : ketika Anda selesai menabung dan terkumpul uang sebanyak 240 juta itu, kira-kira Anda langsung bisa membeli rumah yang Anda inginkan itu atau belum???

Jawabannya : KEMUNGKINAN BESAR TIDAK BISA...!!!

Ya..!! Saya tulis besar-besar : KEMUNGKINAN BESAR TIDAK BISA...!!!

Pasti ada yang berkomentar, "Kok tidak bisa? Kan harga rumah 240 Juta dan uangnya sudah terkumpul 240 Juta kok gak bisa dibeli? Kenapa?"

Coba perhatikan lagi tulisan diatas...
Poin Pertama : Harga rumah 240 Juta itu di Bulan Januari 2013.
Poin Kedua : Tabungan terkumpul 10 tahun kemudian (Januari 2023)

Pertanyaasn sederhana dari saya : "Kira-kira, mungkin gak kalo rumah yang di tahun 2013 dijual dengan harga 240 juta, sepuluh tahun kemudian di tahun 2023 juga dijual dengan harga yang sama 240 Juta?????"

Jawabannya pasti : GAK MUNGKIN. Harga Rumah/Tanah pasti akan mengalami kenaikan.

Bisa jadi, ketika ditahun 2023 itu harga rumahnya sudah menjadi 500 Juta..!!!

Ngumpulin uang tabungan capek-capek 10 tahun, terkumpul 240 Juta, eh ternyata 10 tahun kemudian harga rumahnya sudah menjadi 500 Juta...!!

Nah itulah yang saya bilang, "Jangan Menabung Untuk Membeli Rumah".

Semoga bisa dipahami, dimengerti dan diambil sisi positifnya....


Salam,


Hatta N Adhy PK,ST

Apa Itu KPR?

Bagi beberapa orang, istilah akronim KPR mungkin sudah amat sangat familiar sekali. Dan mungkin pula buat beberapa yang lain masih belum tahu apa artinya.

Lalu Apa itu KPR? KPR itu adalah singkatan dari Kredit Pemilikan Rumah. Kredit yang diberikan oleh Bank untuk memfasilitasi pembelian rumah bagi para nasabahnya.

Sebelum membahas lebih lanjut, akaan sedikit saya beri ilustrasi terlebih dahulu mengenai hal pembelian property (rumah) agar nanti lebih mudah memahaminya...

Rumah adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Selain sebagai tempat berteduh juga sebagai tempat berkumpul bersama dengan anggota keluarga.

Namun tidak semua orang diberikan kelebihan rejeki sehingga bisa membeli rumah sendiri. Ada yang masih nebeng ortunya, ada pula yang setia jadi kontraktor (tukang ngontrak rumah, hehehe..). Atau misalkan mau membeli rumah dengan tunai pun juga harganya mungkin jauuuuuuhh dari kemampuan kita.

Nah, dari situlah dijembatani oleh Bank dengan adanya KPR itu. Semua orang (yang lolos kualifikasi Bank), diberikan kesempatan oleh Bank untuk dibantu membelikan rumah buat kita, dengan menggunakan fasilitas KPR itu.

Ilustrasi gampangnya adalah seperti berikut ini :

Misalnya kita mau membeli rumah yang seharga 100 Juta. Kalo kita punya uang cash sebesar 100 Juta ya tentu tidak ada masalah. Tinggal bayar 100 Juta, bayar pajak-pajaknya, urus jual belinya, SELESAI..! Itu kalo kita punya uang cash 100 Juta.

Lha kalo kita tidak punya uang cash 100 Juta itu gimana dong? Padahal kita ngebet pengen beli rumah itu.

Ya tenang saja, secara sederhananya : "ayo kita 'urunan' sama Bank untuk beli rumah..!"

Bentuk urunannya gimana? Ya Kita urunan sejumlah uang tertentu, misalnya 20 Juta. Lalu kekurangannya nanti yang urunan pihak Bank. Jadi kalo kita urunan 20 Juta, maka Bank akan urunan sebesar kekurangannya yaitu 80 Juta. Kalo dikumpulin semuanya kan bisa klop 100 Juta, hingga akhirnya rumah yang kita inginkan bisa kita beli dengan urunan bersama Bank.

Dalam Bahasa Bank, uang urunan kita yang 20 Juta itu biasa disebut dengan Uang Muka atau DP (Down Payment). Sedangkan uang urunan dari Bank yang 80 Juta itu disebut dengan KPR.

Nah, dengan dijembatani KPR ini tentu akan memudahkan kita untuk bisa membeli rumah tanpa perlu menabung dulu bertahun-tahun.

Hanya saja, karena kita sudah diurunin sama Bank sebesar 80 Juta itu tadi, maka kita musti punya kewajiban buat  mengangsur uang urunan 80 Juta tadi ke Bank. Dimana besarnya cicilan, lamanya waktu cicilan bisa disesuaikan dengan kemampuan kita sebagai nasabah. Dari contoh ilustrasi ini artinya Bank memberikan Kredit KPR sebesar 80 Juta kepada nasabah.

Dari pengalaman dilapangan biasanya untuk KPR memang akan mempersyaratkan sbb :
a. Besaran Uang Muka (DP) sekitar 20-30%
b. Plafond KPR sekitar 70-80%

Untuk beberapa Bank, khusus untuk KPR pembelian rumah yang baru yang mana developernya bekerjasama dengan pihak Bank bahkan ada yang cukup dengan Uang Muka (DP) 10% saja dan plafond KPRnya 90%.

Dengan cara seperti ini maka :

... Kita bisa dengan mudah membeli rumah yang kita inginkan dengan Bantuan Bank...

... Rumah yang dibeli dengan 'urunan' itu sudah bisa atas nama kita...

... Karena Bank Urunan lebih banyak, maka Sertifikatnya (sementara) disimpan oleh Bank dulu sebagai jaminan sampe pembayaran angsurannya lunas...

Okeee...!! Kira-kira penjelasan sederhanya mengenai "APA ITU KPR" seperti dalam tulisan diatas. Jadi, dengan adanya KPR memang amat sangat membantu kita dan masyarakat luas untuk bisa membeli dan memiliki rumah impiannya.

Semoga bisa dipahami....

Salam,

Hatta N Adhy PK,ST