11 Februari 2012

Pentingnya Memiliki Ruh Bisnis


Perjalanan Bisnis Tasya Souvenir (Bagian Ke-5) 

Memiliki ruh bisnis itu ternyata sangat penting dalam menjalani bisnis. Maksudnya adalah Anda menyukai, menyenangi, dan sanggup bertotalitas dalam menjalankan bisnis itu sendiri.


Jadi misalnya begini, bila Anda memiliki hobi otak-atik motor, memodifikasi motor, serta seneng otak-atik accesories motor tentu Anda akan seneng sekali bila disuruh membantu temen atau saudara untuk memodifikasi motornya. Bahkan Anda rela tidak dibayar untuk hal tersebut. Disisi lain Anda pasti tahu dimana saja supplier accesories motor yang harganya murah serta pekerjaannya bagus. Disamping itu, mungkin Anda juga punya banyak teman di komunitas modifikasi motor.

Nah, bila Anda sudah punya satu hal ini berarti Anda telah memiliki satu poin plus lebih dulu bila Anda ingin membuka toko accesories dan modifikasi motor. Satu poin plus itu adalah: Ruh Bisnis..!

Maaf dulu, "Ruh Bisnis" ini istilah buatan saya saja, soalnya saya gak nemu kata-kata lain yang pas. Hehehe..

Sekedar flashback sedikit dulu..

Kebetulan saya dilahirkan dari lingkungan pedagang dan karyawan sekaligus. Eyang buyut saya dulunya memiliki rumah makan yang (konon) sangat terkenal dijamannya. Eyang Jamhuri, kami menyebutnya begitu. Dan rumah makan yang dimilikinya diberi nama "Jamhur". Saat saya lahir saya tidak ingat lagi entah sudah pernah berjumpa dengan beliau atau belum. Hehehe..

Lalu usaha rumah makan ini dilanjutkan tongkat estafetnya oleh eyang saya (eyang dari garis ibu saya), yang bernama eyang Siti Djami, namun saya tahu panggilannya dengan 'Mbah Djadi'. Barangkali saking ngefansnya sama Bung Hatta Sangproklamator itu, beliau inilah akhirnya memberi nama saya dengan nama "HATTA". Jadi secara tidak langsung seharusnya saya pernah berjumpa dengan Mbah Djadi ini. Namun namanya juga masih bayi merah, saya kurang begitu ingat. Namun dari dokumentasi foto yang ada ya akhirnya bisa tahu..

Ditangan Mbah Djadi ini tongkat estafet rumah makan masih tetap eksis, hingga akhirnya dilanjutkan generasi berikutnya yaitu oleh Ibu saya, yang saat ini sudah meninggal sejak tahun 2003 lalu.
Koleksi Souvenir Pernikahan & Undangan Pernikahan
Terkenal LENGKAP dan MURAH
Nah, ditongkat estafet generasi ketiga ini bisnis rumah makan yang telah dirintis itu mulai goyah. Singkat kata rumah makan tersebut seperti pepatah 'hidup segan mati tak mau". Mungkin juga karena akhirnya banyak rumah makan yang baru dengan aneka pilihan atau era konsumen yang sudah berbeda di jamannya. Rumah makan itu pelan-pelan mati. Akhirnya ibu saya berganti haluan dengan berdagang koran dan majalah. Ganti haluan yang sangat-sangat jauh..


Saat era ibu dan bapakku merintis usaha koran dan majalah ini saya tahu persis dan masih ingat. Bener-bener dirintis dari nol, dari tidak tahu apa-apa. Baru satu hari dibuka, ada saja gangguan yang melanda (halahhh....sok lebay..!). Ya! Hari kedua, kami tidak disetori dagangan sama sekali karena dianggap menjadi pesaing agen yang lain. 


Nah sayangnya saat itu kami anak-anaknya tidak diajarkan atau tidak diajari pendidikan finansial yang memadai. Atau setidaknya menumbuhkan rasa mencintai pada bisnis yang sudah dirintis tersebut. Mindset orangtua masih agak kuno, jadi mereka ingin kami fokus sekolah saja, tidak mengurusi uang. Kecuali hanya sesekali ikut menjaga toko saja.

Namun disisi lain, kebetulan saya hoby sekali membaca, jadi saya seneng sekali kalo jaga toko. Saya bisa membaca aneka macam koran dan majalah dengan gratis. Kadang yang disegelpun saya buka, karena memang ingin membaca. Hehehe...

Singkat kata kios koran dan majalah ini akhirnya pelan-pelan bisa berjalan dan eksis..

Setelah ibu wafat di tahun 2003, akhirnya dilanjutkan sama kakak. Karena tidak terbiasa dan lebih karena faktor "terpaksa", bisnis ini bisa jalan namun tidak begitu menggembirakan. Dan setelah saya lulus kuliah, gantian saya yang pegang kendali bisnis ini.

Pada mulanya saya begitu menikmati menjalankan bisnis ini. Sempat juga omzet harian bisnis ini ketika saya pegang mencapai rata-rata 400-500ribu/hari...

Namun lama-lama ruh bisnis saya dalam menjalankan bisnis ini berkurang karena banyak faktor.Pertama, banyaknya pengasong yang jemput bola dalam menjual koran. Kedua, perang harga antar sesama penjual koran bahkan ada yang mendiskon atau menjual dengan harga pokok ketika menjelang sore hari. Ketiga, pembayaran pelanggan yang minta bayar belakang mengakibatkan modal tidak berputar dengan baik. Keempat, kebijakan dari supplier yang semakin menjerat leher, kuota retur barang hanya 10% saja. Dan Kelima, saya melihat kedepannya era digital yang papperless semakin besar.

Ruh bisnis saya benar-benar sudah mulai hilang saat itu. Jalan satu-satunya yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah menghabiskan sisa stok dagangan yang ada serta dikumpulkan untuk modal membuka usaha baru yang belum tahu usaha apa, hehehe...

Singkat cerita.. Usaha itu TUTUP dengan sukses..!!

INI HIKMAHNYA..!!


Pertama, miliki ruh bisnis yang anda geluti lebih dulu. Ini jauh lebih baik, karena anda seperti menjalankan hobby saja. Sama seperti saat ini, kebetulan hobby saya adalah online dan ketak-ketik didepan komputer, ditambah hobby berdagang, maka kombinasi ini diramu untuk menjalankan bisnis online adalah menjadi pilihan yang tepat.

Kedua, bila ruh bisnis anda mulai pudar segera ambil tindakan penting dan jangan sampai berlarut-larut. Bila memang diputuskan bisnis ditutup dan ganti haluan, ya no problem. Itu lebih baik daripada meng-infus bisnis yang terengah-engah mau mati. Effortnya sama beratnya.

Ketiga, kenalkan anak kita dengan dunia bisnis yang kita geluti. Target kita adalah, anak kita bisa diharapkan menjadi penerus generasi bisnis kita. Melanjutkan tongkat estafet bisnis kita. Ajari dari hal-hal sederhana dulu, yang penting membuat anak fun dan akhirnya cinta dengan berdagang.

Keempat, ajarkan pendidikan finansial sedini mungkin kepada anak kita. Ini ilmu penting yang tidak didapatkan di bangku sekolah. Lebih cepat kenal pendidikan finansial akan lebih baik. Karena kita tentu ingin anak kita bisa lebih sukses pencapaiannya daripada orangtuanya, kan??

Kelima, ajarkan konsep kegagalan sebagai hal positif yang bisa dimaknai. Bukan sesuatu yang buruk. Ini sangat penting untuk membentuk karakter mental yang tangguh serta hebat. Sehingga kedepannya, bila anak kita dibanting dengan problem sekeras apapun dia tetap tangguh, sanggup bangkit kembali, dan tidak kenal menyerah..

Itulah pelajaran berharga yang saya dapatkan... Dengan ditutupnya usaha koran itu, akhirnya nanti giliran saya yang berubah haluan terjun ke dunia bisnis yang tidak terbayangkan sebelumnya, yaitu bisnis souvenir pernikahan.

Selalu berpikir positif and see U at the TOP..!

Sukses selalu..

Semoga Bermanfaat.

Salam Souvenir,

Klaten 11 Februari 2012

Hatta N Adhy PK,ST
Owner dan Founder 
www.tasya-souvenir.com | Souvenir Specialist..! 
www.boneka-souvenir.com | Spesialis Souvenir Boneka Adat
www.sandalklumut.com | Aneka Sandal Karakter Lucu Unik
www.hiasan-natal.com | Bisnis Hiasan Pohon Natal
www.souvenirpernikahanmurahku.com | Referensi Blog Dunia Souvenir
The HATTA Institute | Belajar Bisnis Online-Entrepreneurship-Motivasi
HP. 0856 2827 893 | 0852 2803 8000

Terkenal LENGKAP dan MURAH