10 Mei 2008

BLT oh BLT # 1

Heboh lagi... heboh lagi....

Gara-gara harga minyak mentah dunia mengalami 'penyesuaian harga' yang signifikan hingga beberapa dolar diatas $100, membuat kondisi cashflow keuangan negara carut marut. Subsidi yang digunakan untuk pos BBM melambung tinggi di atas asumsi APBN.

Yach, ilustrasi singkatnya mungkin bisa disederhanakan seperti ini. Harga bensin dipasaran dunia (misalkan) mencapai harga 10.000 per liter. Kita di Indonesia bisa membeli dengan 'cukup' mengeluarkan duit sebesar 4.500 per liter. Sedangkan sisanya yang sebesar 5.500 masih ditanggung 'kebaikan hati' pemerintah dalam bentuk subsidi BBM yang masuk dalam cashflow APBN.

Nah masalahnya, sekarang harga bensin dipasaran dunia per liternya sudah enggak 10.000 lagi. Harga sudah mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia, katakan saja misalnya menjadi 13.000 per liter. Sedangkan kita masih tetap bisa membeli dengan harga 4.500 'saja'.

Lagi2, pemerintah musti nomboki kenaikan harga ini dalam bentuk subsidi.

Lha wong rencana subsidi per liter saja di APBN hanya nomboki sebesar 5.500, tapi ini dengan terpaksa harus mengeluarkan tambahan sebesar 3.000 per liter lagi. Sedangkan stok/cadangan APBN masih konstan alias tidak ada pos tambahan pemasukan.

Apa yang terjadi...?

Yah sudah barang tentu mengganggu keseimbangan neraca APBN.... Hanya menunggu sampai kapan pemerintah siap membantu untuk mensubsidi BBM tersebut.

Di sisi lain, jumlah konsumsi BBM dari hari ke hari semakin meningkat signifikan. Contoh sederhana ya bisa dilihat dengan semakin meningkatnya pemilik kendaraan bermotor, baik roda dua ataupun roda empat.

Dengan bertambahnya pengguna kendaraan bermotor, baik roda dua ataupun roda empat sudah barang tentu akan meningkatkan jumlah konsumsi BBM. Jumlah konsumsi BBM meningkat, sudah barang tentu subsidi yang harus ditanggung oleh pemerintah juga akan semakin meningkat. Sedangkan pemerintah sudah memiliki batas nilai tertentu untuk kesanggupan memberikan subsidi ini kan?

Yah........... Apa boleh buat....?

Jalan pintas termudahlah yang sering dijadikan solusi.

Apa itu?

Besarnya peningkatan subsidi sebesar 3.000 itu yang akhirnya dibebankan kembali ke rakyat. Itu artinya sama dengan harga BBM mengalami penyesuaian harga. Sebuah policy yg gak populis namun ada nalarnya....

Lalu, apa hubungannya kenaikan BBM dengan BLT yang coba saya curhatkan dalam tulisan ini?

Kita sambung besok lagi yach....? Hmmm.... Dah ngantuk, abis meeting sama temen2 BADAK...

to be continue.....

Salam,

HATTA N ADHY PK, ST