03 Mei 2008

Modal Kita 86.400 Detik

Nadia termangu di ujung kolam. Sudah dua tahun ia selalu menajdi juara dalam kompetisi renang antar perusahaan. Kali ini ia hanya menduduki peringkat ke enam. Nadia tertinggal dua detik dengan juara pertama dan tertinggal kurang dari dua detik dengan peringkat 2, 3, 4 dan 5. Karena tertinggal dua detik, Nadia gagal mempertahankan mahkota juaranya. Hadiah uang tunai senilai Rp. 10 juta pun lepas dari tangannya. Hanya karena tertinggal dua detik, Nadia meneteskan air mata kesedihannya di pinggir kolam seusai perlombaan.

Dua detik amatlah berarti bagi para juara. Jangankan terlambat dua detik, terlambat satu detik atau bahkan kurang dari itu akan membuat mahkota juara berpindah tangan. Para pembalap formula satu, pelari cepat, pedayung dan para olah ragawan akan berlatih keras hanya untuk mempertahankan rekor yang pernah dicatatnya. Mereka tak ingin kecepatannya berkurang walau hanya satu detik.

Hidup pun sama halnya dengan perlombaan. Bila ingin menjadi juara, kita tidak boleh tertinggal walau hanya satu detik. Sang Pemilik Jagad Raya memberikan hal yang berbeda kepada umatnya soal harta. Ada mereka yang berlimpah harta, ada yang miskin papa, ada pula yang hidup pas-pasan. Sang Pencipta pun memberikan hal yang berbeda untuk wajah. Ada yang tampan jelita, cantik, ayu, ada pula yang berparas biasa, bahkan ada yang berparas di bawah rata-rata.

Namun untuk waktu, Sang Khalik memberikan persis sama untuk semua manusia. Tak peduli apakah kita presiden, pengusaha, kyai, guru, petani, pengangguran, mahasiswa, atau pekerja sosial, semua diberi modal yang sama 24 jam atau 86.400 detik setiap hari.
Bila kita hanya mampu menghasilkan sesuatu yang senilai 86.400 detik per hari, kita balik modal. Bila kita tak mampu menghasilkan sesuatu senilai 86.400 detik per hari sebenarnya kita rugi. Agar kita memperoleh keuntungan, dalam satu hari kita harus menghasilkan sesuatu yang bernilai lebih dari 86.400 detik.

Coba kita bayangkan! Selama perjalanan hidup kita hingga saat ini, berapa detik waktu yang telah kita buang atau sia-siakan? Berapa detik yang dihabiskan untuk ngerumpi (bergosip) dan menyaksikan acara TV tak berkualitas? Berapa detik pula telah kita gunakan untuk bermaksiat kepada Sang Maha Pemurah yang telah memberikan modal 86.400 detik setiap hari kepada kita?

Kita mungkin juga jarang menghitung berapa detik waktu yang telah kita habiskan untuk tidur? Berapa detik waktu yang telah kita habiskan untuk perjalanan dari rumah menuju kantor, dan sebaliknya.

Agar modal 86.400 detik yang telah kita terima terus berkembang dan tidak merugi, investasikan setiap detik kita untuk sesuatu yang bermanfaat. Tebarkan energi positif, kebaikan, dan amal saleh kepada orang-orang disekitar kita. Di mulai dari sekedar senyum dan wajah cerah hingga meringankan beban orang lain, lalu berbagi ilmu kepada orang yang membutuhkan, melakukan pekerjaan yang menantang dan berbagi harta kepada mereka yang nasibnya kurang beruntung. Semua kegiatan yang menyumbang kepada peningkatan harkat dan martabat masyarakat akan menjadikan modal 86.400 detik kita terus berkembang dan produktif.

Saat Nadia terlambat dua detik, ia kehilangan mahkota juara juga hadiahnya. Ia meneteskan air mata kesedihan di ujung kolam. Bagaimana dengan kita yang telah mengambaikan ribuan atau jutaan detik? Berapa kerugian yang telah kita derita? Ayo kita tutup kerugian masa lalu. Jadikan setiap detik yang kita punya membawa manfaat buat kita, keluarga, saudara, masyarakat dan bangsa.

Sumber : dari sini

Ibu, I Miss You So Much

Jakarta , Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun
yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita
melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan
berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau
keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini
izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit
di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit
yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan
sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya
ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter
berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”. Sayapun
menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya
membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya” Dokter
itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.” “Memang harganya berapa
dok?” Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah
sekali suntik.” “Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik,
dok? Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil”.

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga puluh
enam juta, dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara
bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit
isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit
istri saya segera ditemukan.” “Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami
bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri
Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati
memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan
coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya,
pak.” jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang
ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya Tuhanku… aku
mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti
bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun
mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau
balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga
Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah
terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya
Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di
leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah
kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan
istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.”

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan
kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang
miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya
Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang
hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP,
sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata
berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku
kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku.
Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang
mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan
Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh
keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini
karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki
itu.” Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana
ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan
menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya
“Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh
lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu
sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang
ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya
menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu
saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu
saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.” Suasana hening
sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya
berkata: “Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat,
aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu
nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah
memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan
dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil
mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat pak, penyakit
isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan
panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi
dari perut ibu.” Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat
erat tangan sang dokter saya berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan
membalas semua kebaikan dokter.”

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri
“Ibu, I miss you so much.”

Sumber : dari sini

Menyemai Impian, Meraih Sukses Mulia

book.gifMenyusul buku laris “Kubik Leadership”, Jamil Azzaini meluncurkan buku terbaru karyanya berjudul “Menyemai Impian, Meraih Sukses Mulia” yang merupakan kisah-kisah inspiratif pembangkit motivasi dan pemakna hidup.

“Kisah-kisah yang tertulis dan terangkum dalam buku ini merupakan kumpulan pengalaman dan pengamatan hidup saya,” kata Jamil, pendiri PT Kubik Kreasi Sisilain yang giat menyelenggarakan pelatihan SDM di berbagai perusahaan atau instansi dalam dan luar negeri.

Jamil dan keluarganya membuktikan bahwa kehidupan mereka yang semula miskin, tinggal di gubuk tengah hutan di daerah transmigrasi di Rejomulyo Kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan berubah menjadi sukses dan mulia. Mereka mewujudkan impian.

Banyak tokoh berlatar belakang keluarga miskin seperti mantan Presiden Soeharto (almarhum), bintang film Sylvester Stallone, penyanyi Madonna, bahkan pelawak Tukul Arwana, kemudian menjadi orang sukses yang dipuja-puja.

Namun yang telah diraih Jamil memberikan pelajaran sangat berharga dan langka yakni bila kesuksesan diukur dengan harta, tahta, kata, dan cinta alias “4-ta” maka semua itu tidak cukup membuat hidup manusia utuh dan bahagia.

“Keberadaan 4-ta yang telah kita miliki harus pula dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di sekitar kita. Kehidupan kita haruslah selalu disibukkan berbagi 4-ta sehingga keberadaan kita benar-benar menjadi gardu Energi Positif (Epos) Tuhan di muka bumi. Itulah energi yang saya sebut sebagai Inspirasi Sukses Mulia,” kata Jamil yang dikenal sebagai Mr. Epos.

Sukses Mulia yang dicapai Jamil, sebagaimana ditulis dalam pengantar buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Februari 2008 ini, sampai pada sebuah titik keyakinan bahwa Tuhan akan memberi dan mengabulkan keinginan manusia berdasarkan sangkaan manusia itu sendiri.

“Bila kita yakin bahwa kita akan sukses maka sukseslah kita. Namun bila kita berpikir akan gagal maka gagallah kita,” kata Jamil.

Rangkaian inspirasi

Kisah-kisah dalam buku setebal xxiv+174 halaman ini merupakan rangkaian inspirasi terstruktur yang terbagi dalam tujuh bab utama.

Bab “Anak Desa Menjemput Impian” merupakan kumpulan kisah tentang pentingnya memiliki impian. Bab ini terbagi lima tema tulisan yakni “Impian Hidup’, “Kerang Mutiara atau Kerang Rebus”, “Si Pitak yang Jadi Insinyur Pertanian”, “Getaran Positif”, dan “Undanglah ‘Hiu-Hiu Kecil’ Dalam Kehidupan Anda”.

Bab ini menorehkan perjalanan hidup Jamil - kelahiran Purworejo, Jateng 9 Agustus 1968 - bersama ayah-ibu, Ahmad Zaini dan Wasiyem, seorang kakak, dan dua adiknya yang terjerat kemiskinan tetapi tetap bersemangat menggapai kesuksesan.

“Namaku Jamil, cita-citaku menjadi insinyur pertanian/dosen/guru”, itulah mantera ajaib (magic words) yang ditulis di berbagai buku Jamil ketika kecil.

Jamil kecil bercita-cita menjadi insinyur pertanian karena hampir setiap hari ia melihat kehidupan para asisten perkebunan di PTP XI Lampung (sekarang PT Nusantara VII) ketika itu begitu enaknya.

Ingin menjadi guru karena dihormati dan disegani, dan ingin menjadi dosen karena cerita kakaknya tentang sosok dosen matematika bernama Bukhori yang memiliki kemampuan mengajar luar biasa.

Mantera ajaib itu kerap menjadi bahan tertawaan sinis teman sekolah maupun sepermainan Jamil bahkan oleh sesepuh kampung yang melecehkan cita-citanya.

Mereka melecehkan Jamil karena kehidupannya yang miskin, sehari-hari hanya makan tiwul, kerap menunggak uang sekolah meski hanya dua puluh lima rupiah per bulan.

Namun Jamil dapat membuktikan bahwa ia berhasil menempuh SD, SMP, dan SMA dengan prestasi selalu menjadi juara kelas meski sehari-hari menempuh perjalanan sejauh 40 km menuju sekolahnya ketika menjadi siswa SMA Negeri Way Halim.

Atas prestasinya, ia diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1987 tanpa tes, melalui program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan).

Lagi-lagi Jamil dan ayahnya dilecehkan oleh orang kaya di kampungnya yang tidak bersedia meminjamkan uang sebesar Rp300 ribu untuk ongkos ke Bogor dan membayar uang pendaftaran di IPB.

“Sudah tahu miskin, nggak punya uang lha kok mau kuliah. Baru mau berangkat kuliah saja sudah pinjam. Bagaimana nanti biaya bulanannya? Apakah bertahun-tahun mau pinjam uang terus?” tulis Jamil menirukan hinaan orang kaya tersebut yang membuat Jamil dan ayahnya menangis ketika itu (halaman 11).

Atas semangatnya, Jamil berhasil menjadi insinyur pertanian yang dicita-citakannya bahkan lulus dari program pascasarjana S-2.

Jamil membuktikan diri menjadi kerang mutiara bukan kerang rebus sebagaimana perumpamaan yang kerap didongengkan ayahnya. Tema kerang mutiara dan kerang rebus dalam bab ini sangat inspiratif dan memotivasi meraih hidup lebih hidup.

Bab “Penghambat Sukses” mengajak pembaca memahami kendala diri. Bab ini terbagi empat tema tulisan yang masing-masing diberi judul “Bakar ‘Kapal’ Anda”, “Menjadi Penumpang Berprestasi atau Penumpang Gelap”, “Memutus ‘Rantai Gajah’”, dan “Kutu Dalam Kotak Korek Api”.

Pada bab ini digambarkan kisah Thoriq Bin Ziyad bersama 7.000 anggota pasukannya mampu mengalahkan pasukan Raja Roderic yang memiliki sekitar 100.000 prajurit sehingga berhasil menaklukkan Spanyol pada 3 Mei 711.

Termasuk kisah Herman Cortez bersama pasukannya pada abad 16 yang menemukan tambang emas di Meksiko setelah mengalahkan pasukan Aztec yang sangat ganas dan juga berada di wilayah tambang emas itu.

Keberhasilan Thoriq dan Herman dicapai ketika mereka membakar kapal yang bisa membuat demotivasi pasukannya untuk melawan musuh.

Hikmah yang disampaikan Jamil dari kisah itu adalah pertama bila ingin memenangkan persaingan dalam kehidupan jangan pernah punya rencana untuk lari dari gelanggang, kedua, jangan silau dengan kesuksesan masa lampau, dan ketiga, singkirkan “comfort zone”

Pada bab ini juga dikisahkan keterbatasan fisik pelawak Ucok Baba, cacat buta, tuli, dan gagu pada Helen Keller tetapi mampu lulus dari Universitas Harvard, dan pianis dunia asal Korea Hee Ah Lee yang hanya memiliki masing-masing dua jari di tangan kanan dan tangan kirinya, atau Bill Gates yang tak lulus sarjana tetapi menjadi raja komputer dan menjadi orang terkaya di dunia.

Jamil mencuri Uang Ibunya

Bab “Belajarlah Dari Siapa Pun” mengajak pembaca pada proses yang harus dijalani untuk menggapai kesuksesan.

Bab ini memuat sembilan tema tulisan yang memuat kisah sejumlah tokoh seperti khalifah Usman bin Affan yang membagikan seluruh dagangannya untuk rakyat miskin, khalifah Umar bin Abdul Aziz pada era 99H yang mampu mencapai kemakmuran dan kejayaan rakyatnya meski kekayaan Umar berkurang dari 40 ribu dinar menjadi hanya 400 dinar.

Dikisahkan pula tentang Bahran yang selalu bersedekah senyum sehingga membuat ibunya yang sakit dapat diobati setelah biaya pengobatannya ditanggung oleh seseorang yang terkesan dengan senyum Bahran.

Digambarkan pula kisah nyata Pak Kusnin dan Pak Bejo yang tinggal di kampung Jamil. Kusnin dan Bejo sama-sama memiliki empat anak. Yang membedakan, Kusnin berlatar belakang miskin bisa hidup sukses dan anak-anaknya menjadi orang sukses sebaliknya Bejo yang berlatar belakang kaya raya menjadi jatuh miskin dan anak-anaknya hidup sengsara bahkan dipenjara.

Bab “Cinta dan Keluarga” dapat menyadarkan pembaca akan pentingnya peran anggota keluarga dalam tiap langkah kehidupan.

Yang sangat menarik disajikan dalam bab ini adalah kisah Dwi Riani Julyastuti, isteri Jamil yang sedang hamil delapan bulan, pada September-Oktober 2003 dirawat di perawatan intensif (ICU) di sebuah rumah sakit.

Kekayaan Jamil ludes untuk mengobati Ria tetapi penyakitnya belum ditemukan sehingga dokter menawarkan obat baru seharga Rp12 juta untuk sekali suntik padahal sehari dibutuhkan tiga kali suntikan.

Jamil kemudian berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan Ria dan minta ditunjukkan keburukan yang pernah dilakukannya.

Tiba-tiba terlintas dalam ingatan bahwa Jamil saat kecil pernah mencuri uang ibunya sebesar Rp125 untuk keperluan bayar sekolah dan jajan padahal uang itu untuk membayar utang ibunya kepada orang lain.

Ketika kecil Jamil tak mengakui perbuatannya dan ibunya sempat mengatakan yang mengambil akan kualat.

Atas dosa tersebut, Jamil dari rumah sakit kemudian menghubungi ibunya untuk meminta maaf. Ibunya mencabut kata-kata kualat tersebut dan secepat itu pula dokter memberitahukan bahwa penyakit Ria telah ditemukan, infeksi pankreas, bisa diobati sehingga segera membaik.

Sejak itu Jamil kian meyakini hukum kekekalan energi yang intinya sama dengan petuah agama.

“Apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan kita pun akan mendapat balasan berupa keburukan pula”.

Bab “Meraih Sukses Mulia” menekankan pembaca untuk menebarkan energi positif dalam hidup dan memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang. Jamil mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan “Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain”.

Kisah M Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh yang mampu mengentaskan kemiskinan di 46 ribu desa sehingga dia meraih hadiah Nobel pada 2006, disebut Jamil sebagai salah seorang yang menjadi gardu energi positif dunia.

Pada bab “Yang Ditanam Itulah yang Dituai” Jamil mengingatkan tentang dampak yang pasti diterima atas apa yang telah diperbuat.

Pada bab ini antara lain dikisahkan seorang pimpinan perusahaan yang sering menerima uang yang bukan haknya hingga berjumlah Rp526 juta. Belakangan ia tertimpa musibah, anaknya terjerat narkoba dan menghabiskan biaya pengobatan juga sebesar Rp526 juta.

“Sama persis dengan uang kotor yang saya terima, pak,” kata pimpinan perusahaan itu kepada Jamil (halaman 136).

Jamil mengingatkan, “Bila kita mengeluarkan energi positif, buahnya adalah kebaikan, kedamaian, kebahagiaan, dan hal positif lainnya. Bila kita mengeluarkan energi negatif, yang akan kita panen adalah penderitaan, musibah, rasa sakit, dan hal negatif lainnya”.

Sementara bab terakhir “Menjaga Hasil yang Dituai” merupakan kisah yang akan memberi inspirasi melanggengkan kesuksesan seseorang dalam memberi manfaat kepada masyarakat.

“Jadikan setiap detik yang kita punya membawa manfaat buat kita, keluarga, saudara, masyarakat, dan bangsa,” kata Jamil (halaman 168).

Sumber : dari sini

Cinta tidak harus berwujud bunga

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan
saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar
di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya
harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu
telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan
halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang
menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang.
Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam
pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya,
bahwa saya menginginkan perceraian. "Mengapa?", dia bertanya dengan
terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan"
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak
seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya
semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan
perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah
pikiranmu?".

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya
pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya
akan merubah pikiran saya, "Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah
yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung
itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas
dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang
bertuliskan....

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya
untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Namun Saya melanjutkan untuk
membacanya.

"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan
akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2
saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya
harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu
untukmu ketika pulang.".

"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru
yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan
mata saya untuk mengarahkanmu."

"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan
saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'.
Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau
meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."

"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk
kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti,
saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."

"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati
matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga
yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".

"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena,
saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya
mencintaimu."

"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku,
tidak cukup bagimu. aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki,
dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur,
tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu
puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di
rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri
disana menunggu jawabanmu."

"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan
barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah,
bahagiaku bila kau bahagia.".

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu
dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari
dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang
dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam
wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam
wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan
kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".

Life Value : The Source of Motivation

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang kawan yang mengajukan pertanyaan, “Saya telah membaca banyak buku pengembangan diri, mendengar banyak kaset/CD motivasi, menghadiri berbagai seminar motivasi dan pengembangan diri, namun mengapa sampai saat ini saya masih belum sukses? Mengapa saat mengikuti seminar motivasi, saat masih di ruang seminar, saya sangat bersemangat dan termotivasi, namun setelah pulang ke rumah, motivasi saya hilang ?, “Apa ada yang salah dengan diri saya?”.

Cukup sulit bagi saya untuk bisa memberikan jawaban langsung. Kawan saya ini termasuk maniak buku. Buku-buku yang dia baca juga bukan buku sembarangan. Sebut saja nama penulis terkenal seperti Zig Ziglar, Erich Fromm, Maslow, Carl Rogers, Victor Frankl, William Glasser, Kiyosaki, Anthony Robbins, Maxwell Maltz, Stephen Covey, Dale Carnigie, Michael Hutchinson, Goleman, Martin Seligman, Bandler dan Grinder, Milton Erickson, dan sederet nama besar lainnya. Seminar yang ia datangi juga seminar-seminar mahal tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.

Setelah minta waktu untuk berpikir, saya akhirnya mengajukan pertanyaan yang berhasil menemukan sumber masalahnya, ”Apa yang paling penting bagi hidup anda?”. Mendengar pertanyaan ini kawan saya menjawab, ”Ah, pertanyaan ini sudah sering ditanyakan pada saya. Dan saya sudah tahu jawabannya”. ”Kalau begitu, apa jawaban anda untuk pertanyaan ini ?’, kejar saya lagi. ”Saya ingin sukses”, jawab kawan saya singkat dan sedikit jengkel. Mungkin ia merasa bahwa pertanyaan saya ini terlalu sederhana bagi seseorang yang telah ”kenyang” dengan hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan diri. ”Mengapa sukses penting bagi diri anda ?”, tanya saya lagi. ”Ya, pokoknya saya mau sukses. Semua orang mau sukses. Siapa yang mau hidup susah !”, jawab kawan saya lagi.

Mendengar jawaban ini, saya langsung tahu mengapa ia sampai sekarang belum sukses. Saat ia menjawab bahwa ia ingin sukses, saya masih belum puas. Saat ia menjawab pertanyaan kedua, ”Mengapa sukses penting bagi diri anda ?”, saya langsung tahu sumber masalahnya. Mengapa saya bisa tahu ? Karena ia tidak bisa memberikan alasan yang jelas mengapa ia ingin sukses. Bila ia tidak punya alasan yang kuat untuk sukses maka pikiran bawah sadarnya mengartikan sukses sebagai sesuatu yang tidak penting, tidak mendesak, dan tidak perlu dicapai.

Saat saya menjelaskan hal ini pada kawan saya ini, ia langsung protes, ”Ah, itu nggak mungkin. Sukses itu sangat penting bagi saya. Masa saya nggak mau sukses”. Namun saat saya menunjukkan bahwa ia tidak bisa memberikan alasan yang jelas mengapa sukses penting bagi dirinya, ia langsung diam dan sedikit kaget. Hal berikut ini adalah apa yang saya jelaskan padanya.

Kita bisa sukses, di bidang apa saja, bila sukses adalah hal yang penting bagi diri kita. Hal ini dibuktikan dengan adanya alasan yang kuat, dengan muatan emosi yang tinggi, untuk bisa mencapai keberhasilan. Bila sesuatu menjadi penting bagi diri kita maka sesuatu itu akan bernilai dan berharga untuk dicapai. Hal ini yang dinamakan value. Semakin tinggi ”nilai” atau value sesuatu hal maka kita akan semakin bersemangat dan fokus untuk bisa mencapainya. Demikian juga sebaliknya. Bila sesuatu itu tidak penting bagi diri kita maka kita tidak akan mau bersusah payah mencapainya. Buat apa mengerjakan sesuatu yang menurut kita tidak penting, bukan ? Kecuali kalau memang kita ini kengangguran atau kurang kerjaan. Secara sederhana value dapat diartikan sebagai sesuatu yang kita percayai sebagai hal yang penting bagi diri kita atau suatu emosi yang kita pandang penting untuk kita alami atau kita hindari.

Value berperan sebagai filter yang beroperasi di bawah sadar yang menentukan fokus kita dan bagaimana kita memanfaatkan waktu. Semakin tinggi value sesuatu maka semakin banyak waktu yang kita luangkan untuk melakukan hal tersebut.

Apakah value ini harga mati ? Tentu tidak. Value dapat berubah sewaktu-waktu sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan diri kita. Ada hal yang dulunya kita anggap penting, misalnya saat masih di SMA atau saat kuliah, ternyata kini sudah tidak penting lagi bagi hidup kita.

Value merupakan sumber motivasi. Saat saya menjelaskan hal ini pada kawan saya, ia tampak bingung dan bertanya, “Maksudnya ?”. Saya lalu menunjukkan buku yang sedang saya baca. Buku ini judulnya Abhiddhammatasangaha, tebalnya sekitar 550 halaman. Buku ini mengenai manajemen pikiran dan berisi sangat banyak istilah dalam bahasa Pali. Saya berkata, “Kalau anda saya minta untuk membaca buku ini, mau nggak ?”. Setelah melihat sekilas isi buku ia menjawab, “Ngapain baca buku ini. Apa saya kurang kerjaan ?”. “Persis !”, jawab saya. “Apanya yang persis ?”, kejar kawan saya dengan penasaran. “Kalau saya kasih uang Rp. 1 juta dan anda saya minta membaca buku ini dalam waktu 1 malam, mau nggak ?”, tanya saya lagi. “Nggak mau !”, jawabnya singkat. “Kalau misalnya ada seseorang ingin memberi anda rumah mewah dengan syarat anda harus membaca habis buku ini dalam satu malam, kira-kira anda mau nggak ?”, tanya saya lagi. “Wah, kalau ada hadiah rumah tentu saya mau”, jawab kawan saya dengan cepat.

Mengapa ia bisa berubah pikiran dari yang tadinya tidak mau akhirnya menjadi mau ? Ini semua berhubungan dengan seberapa penting membaca buku tersebut. Tadinya ia merasa tidak ada gunanya membaca buku. Namun saat ia melihat reward yang bisa ia dapatkan, maka membaca buku menjadi penting.

Alasan mengapa kawan saya belum sukses adalah karena sukses bukan hal penting bagi dirinya. Walaupun pikiran sadarnya akan tetap bersikeras mengatakan bahwa sukses itu penting bagi dirinya, pikiran bawah sadarnya berpikir hal yang sebaliknya. Saat ia tidak bisa menjawab mengapa sukses penting bagi dirinya, ini adalah jawaban yang berasal dari pikiran bawah sadarnya. Dan dari penelitian diketahui bahwa besarnya pengaruh pikiran bawah sadar terhadap diri manusia adalah sebesar 90% dan pikiran sadar hanya 10%. Kawan saya tidak fokus untuk mengejar impiannya. Ia mudah sekali goyah dan berubah arah. Sesuatu yang dikerjakan tidak dengan fokus yang kuat tentu tidak akan bisa memberikan hasil maksimal. Sama seperti kaca pembesar. Kita dapat menggunakan kaca pembesar untuk membakar kertas dengan cara memfokuskan sinar matahari menjadi satu titik. Hal ini tidak mungkin bisa dicapai bila sebentar-sebentar kita menggerak-gerakkan kaca pembesar itu, naik turun, dan mengubah fokus. Motivasi untuk mempertahankan fokus ditentukan oleh seberapa penting, menurut pikiran kita, kita perlu membakar kertas itu.

Setelah mendengarkan penjelasan ini kawan saya akhirnya hanya bisa manggut-manggut. Ia lalu bertanya, ”Kalau boleh tahu, anda dapat informasi ini dari sumber mana ? Apa ada buku yang menjelaskan hal ini ?”. ”Sudah tentu ada. Ada buku sangat bagus yang akan segera terbit. Buku ini ditulis oleh pengarang terkenal yang telah menghasilkan dua buku best seller”, jawab saya. ”Apa judul bukunya dan siapa nama penulisnya ?”, kejar kawan saya sambil bersiap-siap mencatat. ”Catat baik-baik ya. Buku ini akan terbit bulan Agustus 2005, judulnya Manage Your Mind For Success. Penulisnya adalah Adi W. Gunawan dan Ariesandi Setyono”, jawab saya. “Ah, dasar. Ditanya serius koq malah guyon”, jawab kawan saya agak kesel. “Eh, saya ini serius lho. Bulan depan buku Manage Your Mind For Success akan terbit. Ini draft final yang sedang saya koreksi sebelum saya kirimkan ke penerbit”, jawab saya dengan serius sambil menunjukkan draft tersebut. “Lho, kamu sungguh-sungguh ya. Saya kira tadi guyonan. Kalau begitu saya catat ya judulnya”, jawab kawan saya lagi. “Oh ya, satu hal lagi, bulan depan yang terbit bukan cuma satu buku. Bulan depan juga akan terbit buku saya yang keempat yang berjudul Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?” , saya menambahkan. ”Edan ! Bagaimana kamu bisa sempat-sempatnya nulis dua buku padahal jadwalmu begitu padat ?”, tanyanya dengan penuh penasaran. ”Ini semua karena motivasi dan fokus. Saya termotivasi dan bisa tetap fokus karena bagi saya menulis buku adalah bagian dari proses aktualisasi diri. Dan saya sangat ingin untuk bisa membantu orang lain melalui karya saya. The secret of living is giving”, jawab saya mengakhiri diskusi kita.

Kawan saya pulang dengan hati senang. Saya juga senang karena berhasil membantu seorang kawan mendapatkan suatu pemahaman yang benar, yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi hidupnya. Saya lebih senang karena sekali lagi berhasil menyesatkan orang ke jalan yang benar.

taken from : Adi W Gunawan

Penjara Mental

Dalam berbagai seminar pengembangan diri dan manajemen pikiran yang saya lakukan, saat saya bertanya pada peserta seminar, ”Mengapa orang sukses?” atau ”Mengapa orang gagal?” maka saya selalu mendapatkan jawaban yang beragam. Terlepas dari jenjang pendidikan peserta seminar, saya selalu mendapatkan jawaban yang justru bersifat menghambat diri mereka untuk bisa mencapai keberhasilan hidup. Jawaban-jawaban itu mencerminkan sistem kepercayaan yang justru telah mengurung mereka dalam satu zona kenyamanan yang tidak nyaman, dan telah menjadi penjara mental yang tidak mereka sadari.

Penjara mental yang saya maksudkan adalah berbagai kepercayaan yang salah, yang mereka terima sebagai sesuatu yang benar, tanpa pernah mereka periksa keabsahan dan kebenaran kepercayaan itu. Setiap kali saya bertanya ”Mengapa orang sukse ?”, jawaban standar yang saya dapatkan adalah karena faktor keturunan, hoki, pendidikan, koneksi, hari lahir/jam lahir, nasib, jenis kelamin, shio/zodiak, modal, dan kesehatan/fisik. Anehnya, bila saya bertanya, ”Mengapa orang gagal?”, maka saya juga mendapatkan jawaban yang kurang lebih sama dengan jawaban di atas.

Yang lebih aneh dan memprihatinkan , setelah saya membahas dan menerangkan bahwa semua jawaban mereka itu adalah kepercayaan yang salah, tetap masih ada peserta seminar yang bersikeras bahwa apa yang mereka percayai, sebagai faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan hidup, adalah hal yang benar. Alasannya adalah karena kepercayaan itu adalah pelajaran yang mereka dapatkan dari orangtua, guru, atau figur yang mereka kagumi dan hormati.

Penjara yang umum kita kenal adalah tempat untuk mengurung seseorang, untuk periode waktu tertentu, yang telah berbuat kesalahan atau kejahatan. Selama seseorang berada di penjara maka ia kehilangan kebebasan dan sebagian hak-haknya sebagai warga negara. Narapidana menjalani hidup yang monoton dan terisolasi dari dunia luar sampai masa hukumannya habis.

Penjara mental menjalankan fungsi yang sama. Namun sangat banyak orang yang secara sadar atau tidak sadar telah memasukkan diri mereka ke penjara yang tidak kasat mata, yang lebih mengerikan, dan dapat mengurung diri mereka seumur hidup. Satu-satunya cara untuk keluar dari penjara mental adalah dengan secara sadar menelaah setiap kepercayaan yang dipegang seseorang. Tidak ada kepercayaan yang baik atau buruk. Yang ada adalah kepercayaan yang mendukung dan menghambat.

Kepercayaan seseorang mengendalikan cara berpikir, sikap, perilaku, bagaimana ia menggunakan waktunya, siapa kawannya, buku apa yang ia baca, gaya hidup, penghasilan, dan masih banyak aspek lain.

Saya sering bertemu dengan orang yang berkata, ”Uang adalah akar dari segala kejahatan.” Orang dengan kepercayaan ini hidupnya biasa-biasa, cenderung agak kekurangan. Mereka telah mengadopsi kepercayaan yang salah. Saat saya jelaskan bahwa kepercayaan itu kurang tepat karena mereka salah mengutip salah satu ayat dari kitab suci, mereka umumnya kaget. Kepercayaan ini telah menjadi penjara mental mereka.

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang kawan yang sangat berhasil secara finansial. Saat saya bertanya mengenai rahasia keberhasilannya, ia menjawab, ”Sejak usia tujuh tahun saya telah mempunyai keyakinan bahwa bila saya berusaha dan bekerja keras, maka Tuhan akan berkonsultasi dengan saya untuk menentukan nasib saya.” Kita tidak boleh menilai apakah kepercayaan ini benar atau salah. Kepercayaan adalah sesuatu yang pribadi. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa apapun kepercayaan yang kita pegang maka kepercayaan ini akan mempengaruhi hidup kita.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan satu pertanyaan bagi anda. Ada dua keluarga yang mengajarkan dua kepercayaan yang berbeda pada anak-anak mereka. Keluarga pertama mengajarkan ”Mangan ora mangan.........kumpul.” Keluarga kedua mengajarkan,”Kumpul....kumpul.......kita makan.” Menurut anda, anak dari keluarga mana yang akan jauh lebih berhasil secara finansial?

Salam,
HATTA N ADHY PK

taken from : Adi W Gunawan

succes is a mind game

Hal yang tampak remeh ini akan berakibat sangat fatal terutama saat anak duduk di SD kelas 4 dan seterusnya. Saat ini, bila dasar matematika dan bahasanya tidak kuat, maka prestasi akademiknya akan jelek. Prestasi akademik yang buruk, sekali lagi, sangat berpengaruh terhadap Konsep Diri anak. Persis sama seperti hasil penelitian di Spanyol. Konsep Diri yang buruk akan terbawa hingga dewasa dan mengakibatkan anak tidak bisa berprestasi maksimal dalam hidupnya.

Saat anak tidak menguasai konsep yang benar, ditambah lagi kemampuan bahasanya masih minim, lalu anak diberi soal cerita, apa yang terjadi? Habislah anak kita. Nilainya pasti jeblok. Hal ini, kalau terjadi berulang kali (repetisi), ditambah lagi orangtua atau guru mengatakan dirinya bodoh (informasi dari figur yang dipandang memiliki otoritas), ditambah lagi emosi yang intens yang terjadi dalam diri seorang anak, maka langsung menghasilkan pemrograman pikiran bawah sadar yang sangat powerful. Celakanya lagi, ini program negatip, dalam bentuk Konsep Diri yang buruk.

Lalu apa ciri-ciri anak dengan Konsep Diri yang buruk? Pertama, anak tidak atau kurang percaya diri. Kedua, anak takut berbuat salah. Ketiga, anak tidak berani mencoba hal-hal baru. Keempat, anak takut penolakan. Dan yang kelima, anak tidak suka belajar dan benci sekolah.

Ada satu buku bagus yang ditulis kawan karib saya, Ariesandi Setyono, yang berjudul ”Mathemagics – Cara Jenius Belajar Matematika”, yang perlu anda baca. Buku ini menjelaskan secara detil proses pembelajaran matematika yang benar. Aries, dengan cara yang sangat luar biasa , mampu membuat anak didiknya, dengan hati gembira, mengerjakan soal latihan matematika sebanyak 26 (dua puluh enam) halaman non stop. Baru-baru ini Aries kembali mampu membuat anak didiknya, murid SD kelas 1 dan 2, mengerjakan soal-soal latihan matematika selama 120 (seratus dua puluh) menit non stop. Saat diminta berhenti, muridnya malah ngomel dan minta terus. Murid mengerjakan soal dengan hati riang, sama sekali tanpa ada tekanan atau stress. Untuk soal ujian akhir semester, Aries memberikan 200 (dua ratus) soal yang harus dikerjakan muridnya, bukan pilihan ganda. Semua anak mampu mengerjakan hanya dalam waktu rata-rata 45 menit dengan nilai rata-rata kelas 85.

Konsep Diri yang positip sangat penting bagi seorang anak dan juga untuk orang dewasa. Fondasi yang rapuh (Konsep Diri jelek) tidak memungkinkan kita untuk bisa membangun gedung bertingkat (sukses) di atasnya.

Anak dilahirkan dengan potensi menjadi seorang jenius namun proses ”pendidikan” yang salah telah membuat anak tidak mampu mengembangkan potensinya secara optimal. Saya menamakan kondisi ini sebagai ”idiot”. Kita tidak menyadari potensi diri yang sesungguhnya. Kalaupun kita tahu dan sadar akan potensi ini kita merasa tidak mampu untuk mengembangkannya secara optimal. Saya ingat pengalaman kawan saya yang menempelkan berbagai gambar/foto dream yang ingin ia raih. Gambar-gambar ini ditempel di pintu kulkas, di cermin di kamar mandi, di dash board mobil, di pintu kamar, di buku agenda, dijadikan wall paper di komputer, dipasang sebagai screen saver. Hasilnya? Tetap nggak bisa maksimal. Setelah saya tanyakan alasannya mengapa tidak bisa maksimal, kawan saya menjawab, ”Saya baru sadar bahwa semua yang saya tempel itu sebenarnya bukan dream saya. Itu semua adalah impian yang dimasukkan ke pikiran saya oleh orang lain. Makanya saya tidak begitu semangat dalam mengejar impian-impian itu.”

”Lalu apa impian kamu yang sesungguhnya?” tanya saya.

”Setelah melalui perenungan mendalam ternyata impian saya sederhana. Saya ingin hidup saya berguna bagi orang lain. Saya ingin bisa membuat orang lain bahagia. Saya ingin membantu orang lain untuk berhasil. Fokus saya selama ini adalah hanya pada materi dan pada diri saya. Saya harus mengakui bahwa apa yang saya lakukan selama ini sangat egois dan bertentangan dengan impian saya yang sesungguhnya,” jawabnya.

Kesalahan kedua, afirmasi yang salah. Yang saya maksudkan dengan afirmasi yang salah adalah afirmasi yang disusun tanpa mengerti cara kerja pikiran, khususnya pikiran bawah sadar. Struktur kalimat, pemilihan kata, dan kondisi pikiran saat mengucapkan afirmasi, sering kali tidak tepat, kalau tidak mau dikatakan salah. Afirmasi yang diucapkan berulang-ulang dalam kondisi gelombang pikiran sadar dibandingkan dengan saat dalam kondisi gelombang pikiran bawah sadar mempunyai perbandingkan kekuatan pengaruh 1 : 9. Jadi, adalah jauh lebih maksimal (9 kali lebih kuat) bila afirmasi diucapkan dengan masuk terlebih dahulu ke pikiran bawah sadar.

Kesalahan ketiga, positive thinking. Mengapa saya memasukkan positive thinking sebagai suatu kesalahan? Positive thinking saja tidak cukup untuk bisa meraih keberhasilan. Yang dibutuhkan adalah positive imagination. Ada perbedaan yang besar antara positive thinking dan positive imagination. Positive thinking bekerja berdasarkan Kekuatan Kehendak atau Will Power, yang berada di bawah kendali pikiran sadar. Positive Imagination bekerja pada level bawah sadar.

Yang menentukan keberhasilan atau kegagalan seseorang, di bidang apa saja, adalah gambaran mental yang dominan, yang ada di pikiran bawah sadarnya. Saat seseorang berpikir positif, tidak berarti serta merta ia juga akan mempunyai gambaran positif di pikiran bawah sadarnya.

Contohnya? Misalnya ada satu batang baja, lebar 30 cm, tebal 10 cm, dan panjangnya 10 meter. Batang baja ini saya letakkan di bagian atas, menghubungkan, dua gedung dengan ketinggian 30 lantai. Anda diminta menyeberang dari gedung satu ke gedung lainnya. Bagaimana perasaan anda saat akan mulai menyeberang? Saya yakin pada umumya orang tidak akan berani melakukannya. Mengapa? Dengan pikiran sadar, dengan positive thinking, kita dapat berpikir bahwa batang baja ini sangat kuat. Tidak mungkin bisa patah saat saat kita berjalan di atasnya. Jika anda kebetulan orang teknik sipil anda pasti bisa menghitung kekuatan batang baja dalam menahan beban. Kita percaya kita pasti bisa menyeberang ke gedung satunya. Batang baja tidak mungkin patah. Namun apa yang terjadi, yang membuat kebanyakan orang tidak bisa, lebih tepatnya tidak berani menyeberang?Yang membuat orang tidak berani menyeberang adalah karena pikiran bawah sadarnya membayangkan (gambaran mental) kemungkinan ia jatuh. Semakin ia bayangkan bahwa ia akan jatuh maka semakin kuat efeknya. Meskipun kita dapat terus berpikir positip namun kita tetap tidak berani melintasi batang baja itu. Mengapa bisa begini? Para pakar pikiran mengatakan bahwa kekuatan imajinasi adalah kuadrat dari kekuatan kehendak (Will Power) atau Imagination = Will Power2. Jadi, setiap kali imajinasi konflik dengan Will Power maka imajinasi pasti selalu menang. Hukum ini dikenal dengan nama ”The Law of Reversed Effort”.

Contoh lain adalah saat seorang menetapkan target penjualan yang terlalu tinggi dibanding dengan pencapaian sebelumnya. Idealnya target baru tidak lebih dari 20% dari pencapaian sebelumnya. Saat, misalnya, target baru ini 40% lebih tinggi, maka secara bawah sadar kita telah membayangkan bahwa target ini sangat sulit dicapai. Mengapa dirasa lebih sulit? Pikiran, saat melihat target baru ini, akan langsung mengakses data base/memori prestasi kita sebelumnya dan membandingkan dengan target baru. Apabila di data base ini tidak terdapat record yang menyatakan bahwa kita pernah mencapai lonjakan prestasi sebesar 40%, maka secara mental kita sudah down. Meskipun kita telah berusaha untuk berpikir positif, membaca buku-buku positif, datang ke berbagai seminar motivasi, hasilnya tetap akan sulit tercapai.

Kesalahan keempat, kita jarang atau hampir tidak pernah ”mengajak” pikiran bawah sadar kita bekerja sama saat mengejar impian kita. Lalu, bagaimana caranya untuk bisa mengajak pikiran bawah sadar bekerja sama? Kita harus bisa meyakinkan pikiran bawah sadar kita bahwa apa yang kita kejar itu sesuatu yang sangat bermanfaat bagi diri kita. Bagaimana caranya untuk bisa menyakinkan pikiran bawah sadar?

Pikiran bawah sadar baru mau membantu kita mencapai impian yang telah kita tetapkan kalau kita mampu ”menjual” ide/dream kita kepadanya. Sama seperti seorang penjual menjual barang dagangannya kepada seorang pelanggan, kita harus mampu meyakinkan pelanggan bahwa apa yang kita jual adalah sangat bermanfaat bagi dirinya. Untuk bisa mempengaruhi pelanggan, secara positip tentu saja, kita perlu berbicara dengan menggunakan ”bahasa” yang digunakan pelanggan kita. Kita tidak bisa memaksa pelanggan membeli apa yang kita tawarkan.

Sama seperti seorang pelanggan, untuk bisa meyakinkan pikiran bawah sadar maka kita harus tahu cara berkomunikasi dengannya. Kunci untuk membuka pintu gerbang bawah sadar adalah kondisi rileks. Lebih tepatnya pada kondisi gelombang alfa (8 – 12 Hz), sedangkan pikiran bawah sadar sendiri berada pada gelombang theta (4 – 8 Hz). Bahasa pikiran bawah sadar adalah bahasa gambar/citra. Kita harus bisa membayangkan (imajinasi) apa yang ingin kita capai. Agar komunikasi ini bisa benar-benar efektif maka kita harus memasukkan muatan emosi yang intens ke dalam imajinasi kita.

Kemampuan berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar dapat dianalogikan sebagai peralatan berkebun yang dibutuhkan untuk menggarap lahan perkebunan pikiran bawah sadar yang subur, agar dapat menaman dan menumbuhkembangkan bibit sukses sehingga membuahkan kualitas dan prestasi hidup yang lebih baik.

taken from : adi w gunawan

Manajemen Mikrolet

Setiap hari kalau keluar rumah untuk suatu keperluan atau pergi kesuatu tempat, pasti kita ketemu dengan Mikrolet ... kendaraan yang sudah akrab dengan mata kita sampai segala tingkah lakunya kita anggap juga biasa ...

Tetapi kalau diperhatikan lebih jauh, ternyata itu adalah refleksi dari kehidupan dan kegiatan kita dalam menjalankan suatu usaha ... nggak 100% persis tapi itulah gambaran nyata.
Anda mungkin dongkol, geli, gemas melihat supir mikrolet jalan seenaknya perlahan-lahan tetapi jadi ngebut kalau ada pesaingnya dibelakang mengejar, atau berhenti seenaknya dan memalingkan mukanya kearah dalam kalau kita mau negor atau memakinya, persis kura-kura yang menyembunyikan muka kalau didekati.

Kadang juga kalau dilihat jalanan lagi sepi mereka dengan seenaknya mengembalikan uang penumpangnya lalu balik lagi kepangkalan tanpa memikirkan bagaimana penumpangnya melanjutkan perjalanan ... lumayan kalau hanya dioper ketemannya, biasanya itupun dengan “pola bagi hasil .. hehehehe memang sih efisiensi cost bensin tapi dengan mengorbankan potensial pelanggan.

Sekarang kita lihat pada diri kita sendiri, seringkah kita santai dalam mengerjakan sesuatu tetapi ngebut nggak karuan kalau sudah dikejar waktu dan target yang mepet ?, ... seringkah kita menyepelekan pelanggan kita dengan mengoper ordernya keorang lain yang bisa mengecewakan pelanggan?, atau mengembalikan uang muka ordernya saat waktu perjanjian tidak bisa kita penuhi?.

Kadang kalau kita dapat kritik atau masukan seringkali juga kita membuang muka nggak mau tahu dan pura-pura sibuk dengan urusan yang sebetulnya bukan suatu masalah yang besar ..
Kitapun sering menyerobot pelanggan yang menjadi hak orang lain dengan memotong didepan, sering juga walau sudah ada pelanggan tetapi nggak dikerjakan karena menunggu datangnya pelanggan lain biar sekalian dikerjakan ... wah ya telat mas, ... itulah refleksi dari kegiatan manajemen usaha kita ini sebetulnya tidak terlalu jauh dari manajemen Mikrolet, suka atau tidak tapi itulah refleksi sehari-hari yang kita jalani ...

Salam ....
Harmanto H