01 Mei 2008

Berguru pada Om Bob Sadino

Anda familiar-kah dengan seseorang yang foto bersama saya di atas? Dia seorang pionir bisnis daging ayam olahan. Kini memiliki 1000-an 'anak' yang menggerakkan usahanya. Pemilik Kemchick. Cirikhas yang amat melekat adalah kostumnya yang selalu bercelana pendek di atas lutut, meskipun dalam kegiatan resmi.

Clue yang sangat jelas. Yups...! Dia adalah Bob Sadino.

Setidaknya sudah tiga kali ini bahasan tentang beliau ini saya posting di blog. Dan saya masih juga belum bosen untuk terus mengupas tentang beliau. Ada banyak hal yang membuat saya cukup kagum terhadap segala pemikiran seorang Om Bob Sadino.

Nah, kebetulan beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan untuk ngobrol dan berdiskusi bersama dengan Om Bob ini ketika beliau sedang ada acara di Solo Jawa Tengah. Waktu diskusi yang hampir memakan waktu 1,5 jam itu ternyata terasa amat cepat.

Dari hasil diskusi tersebut cukup membuat otak ini di cuci. Semua teori2 motivasi serta pelajaran2 sekolah atau kuliah semuanya serba tidak sinkron dimata seorang Bob Sadino. Yup..! Benar2 orang yang tanpa teori atau segala macam aturan yang mengharuskan untuk melangkah.

Ada beberapa poin yang setidaknya bisa saya tarik dari hasil diskusi di waktu maghrib itu, diantaranya adalah :
1. Tidak ada sukses yang instan/jalan pintas menuju kesuksesan.
2. Kesuksesan itu akibat dari seluruh kegagalan yang sudah terlewati.
3. Menjalani semuanya tanpa rencana karena yang penting adalah tetap melangkah.
4. Definisi sukses itu adalah relatif.

Pelajaran #1
Tidak ada sukses yang instan/jalan pintas menuju kesuksesan.

"Cara cepat jadi kaya", "Cara mudah menuju sukses", dan beberapa bahan jualan seminar motivasi atau pelatihan yang akhir2 ini mewabah tentu saja sering anda baca atau anda ikuti. Namun, seorang Om Bob Sadino sama sekali tidak percaya pada kata-kata tersebut, atau pada materi2 semunar/pelatihan tersebut.

"Itu omong kosong," lanjutnya.

Karena menurutnya, tidak ada sukses yang instan. Semuanya memerlukan waktu serta memerlukan effort yang lebih untuk mewujudkannya. Tidak serta merta bisa langsung 'cling' terwujud sebuah kesuksesan.

Bahkan ketika ada salah satu dari kita bertanya, "Kira2 ada gak jalan pintas untuk meraih kesuksesan?"

Maksud si penanya ni tentunya adalah meminta Om Bob bercerita langkah2 apa saja yang sudah ia lakukan hingga akhirnya bisa seperti sekarang.

Apa jawab Om Bob: "Kalian itu mau enaknya saja, tidak mau melewati proses yang seharusnya kalian lalui. Kalian ingin mendapatkan emas, tapi tidak ingin bersusah payah, bermandikan keringat, darah, dan cucuran air mata untuk mendapatkan emas yang kalian inginkan...!"

"Tidak ada sesuatu yang instan. Kalaupun saya ceritakan apa yang sudah saya lakukan, tentu saja hal itu belum tentu sama dengan problem2 yang pernah saya lalui..."

Degggggg.....! Jawaban Om Bob ini cukup menghantam pemikiran kita.

Intinya disini Om Bob ingin mengatakan. Jika kita ingin memperoleh emas idaman kita, maka kita harus siap untuk bersusah payah menambang, bermandikan keringat, darah, dan cucuran air mata, agar emas yang kita inginkan tersebut tetap bisa di raih. Semua itu adalah proses. Tidak ada sesuatu yang instan"

Pelajaran # 2
Kesuksesan itu akibat dari seluruh kegagalan yang sudah terlewati.
Pada poin ini ada korelasinya dengan kata2 yang dipopulerkan oleh Soichiro Honda. "Sukses itu hanya 1%, sedang 99% sisanya adalah kerja keras"

Begitu pula dengan Om Bob Sadino. Setiap orang sudah pasti akan terbentur pada sebuah kegagalan, apapun itu bentuknya. Namun untuk tetap ingin meraih kesuksesan, kegagalan tersebut harus kita lalui.

Kegagalan gukannya untuk dihindari, kegagalan justru harus dicintai, disayang-sayang, dipeluk-peluk, dibelai-belai. Jangan membenci atau menghindari kegagalan.

Jika "jatah" kegagalan kita sudah habis kita lalui, maka 1% kesuksesan itu barulah boleh kita nikmati.

Jadi, semakin cepat kita bertemu kegagalan dan semakin cepat kita bisa melalui kegagalan tersebut, artinya kita akan semakin dekat dengan kesuksesan. Janganlah takut pada kegagalan..!

Pelajaran # 3
Menjalani semuanya tanpa rencana karena yang penting adalah tetap melangkah.
"Apa rencana Om Bob selanjutnya?"

Apa jawabnya coba?

"Saya tidak memiliki rencana...!!"

Glodakkkkkkkk.......!!!!

"Saya tidak memiliki rencana, tapi saya akan terus melangkah, bukannya berhenti melangkah..!"

Mengapa tidak memiliki rencana. Alasannya sederhana, karena kita tidak tahu apapun yang akan terjadi selanjutnya, semenit, sejam, sehari, sebulan, setahun kedepan kita tidak pernah tahu. Tapi yang pasti saya tetap harus melangkah...!

Pelajaran # 4
Definisi sukses itu adalah relatif.
Kebanyakan dari kita mendefinisikan sukses itu adalah bergelimangan harta, kaya materi, serta bersifat kebendaan duniawi lainnya. Padahal sesungguhnya sukses itu adalah relatif.

Seseorang yang mampu menaklukkan ketakutannya untuk berbicara di depan orang banyak, atau orang yang mampu menyingkirkan rasa malu untuk berjualan/berdagang, itu adalah merupakan kesuksesan juga.

Jadi sukses itu tidak semata-mata bersifat kebendaan duniawi.

Masih ada lagi beberapa pemikiran2 dari seorang Bom Sadino, namun nti kapan2 di tulis lagi yaa?

Thanks Om Bob sudah mencuci otak saya di sore itu.

Salam,
HATTA N ADHY PK, ST

BOB SADINO

BOB SADINO PDF Print E-mail

Bob Sadino adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah. Lelaki yang sering muncul dengan mengenakan celana pendek itu, bukan berasal dari keluarga wirausaha. Bob berwirausaha karena “kepepet”.

Suatu hari, seorang temannya mengajaknya untuk memelihara ayam guna mengatasi depresi yang dialaminya akibat ketidaknyamanan hidup miskin. Kala itu, Bob yang sudah menikah, memutuskan untuk menetap di Indonesia, Meski istrinya bergaji besar, namun Bob berprinsip bahwa dalam keluarga, laki-laki adalah pemimpin. Sejak saat itu, pekerjaan apa pun dilakukannya. Mulai dari menjadi sopir taksi hingga mobilnya ketabrak dan hancur, sampai sebagai kuli bangunan dengan upah Rp100 per hari.

Dari memelihara ayam tersebut, ia terinspirasi bahwa ’kalau ayam saja bisa memperjuangkan hidup dan mencapai target berat badan, serta bertelur, tentunya manusia pun bisa’. Sejak saat itulah ia mulai berwirausaha. Ia bertekad untuk tidak menjadi pegawai dan berada di bawah perintah orang.

Pada awal sebagai peternak ayam, Bob bersama istrinya menjual beberapa kilogram telur per hari Hanya dalam waktu satu setengah tahun, relasinya sudah banyak, karena ia selalu menjaga kualitas dagangannya. Dengan kemampuannya berbahasa asing, ia berhasil mendapatkan pelanggan orang-orang asing yang banyak tinggal di kawasan Kemang. tempat kediaman Bob wakru itu. Namun, tidak jarang dia dan istrinya dimaki-maki oleh pelanggan, bahkan oleh seorang pembantu.

Untungnya Bob sadar, kalau ia adalah pemberi servis yang berkewajiban memberikan pelayanan yang baik. Sejak saat itulah ia mengalami titik balik dalam sikap hidupnya. Dari seorang feodal menjadi servant, yang ia anggap sebagai modal kekuatan yang luar biasa yang pernah dimilikinya.

Usaha Bob pun berkembang menjadi supermarket, berkat pelayanan yang baik kepada para pelanggan. Selain telur, ia juga menjual garam, merica, dan makanan jadi. Bisnis Bob akhirnya merambah ke agribisnis, khususnya holtikultura. Bekerjasama dengan para petani di daerah, Bob kemudian mengelola kebun sayur mayur, konsumsi orang-orang Jepang dan Eropa.

Bob yang sempat berkelana selama sembilan tahun di Amsterdam dan Hamburg itu percaya, setiap langkah sukses selalu diimbangi kegagalan. Perjalanan wirausaha Bob memang tidak semulus dugaan orang. Ia sering jungkir balik dalam usahanya. Bagi Bob, uang adalah nomor sekian. Yang penting adalah kemauan, komitmen tinggi, dan selalu bisa menemukan serta berani mengambil peluang.

Bob berkesimpulan, saat melaksanakan sesuatu pikiran kita berkembang, Karena itu, rencana tidak harus selalu baku dan kaku. Apa yang ada pada diri kita adalah pengembangan dari apa yang telah kita lakukan. ”Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir membuat rencana, sehingga ia tidak segera melangkah,” kata Bob yang lulus SMA pada 1953. Padahal, yang penting adalah action, sambung Bob yang sempat bekerja di Unilever.

Keberhasilan Bob memang tidak terlepas dari ketidaktahuannya, sehingga ia langsung terjun ke lapangan, Namun, setelah mengalami jatuh bangun, ia justru trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman yang selalu dimulai dari ilmu dulu, baru praktik, lalu menjadi terampil dan profesional.

”Banyak orang yang memulai dari ilmu berpikir dan bertindak serba canggih, bersikap arogan. Karena, mereka merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain,” kata Bob yang sempat mengikuti kuliah di Fakultas Hukum UI selama beberapa bulan, karena terbawa oleh teman-temannya.

Bob memang selalu luwes terhadap pelanggannya dan mau mendengarkan saran ataupun keluhan pelanggan. Dengan sikapnya tersebut ia meraih simpati pelanggan dan menciptakan pasar. ”Kepuasan pelanggan akan membawa kepuasan pribadi pada saya untuk selalu berusaha melayani klien sebaik-baiknya,” ujar Bob yang pernah bekerja di McLain and Watson Coy.

Sumber : dari sini

Jadilah Orang Yang Keras Kepala!

Jadilah Orang Yang Keras Kepala!

Ippho SantosaDua begawan Donald Trump dan Robert Kiyosaki sempat wanti-wanti, baik dalam kehidupan sehari-hari, bisnis, investasi, karya maupun bidang lainnya, kita mesti berpikir untuk menang, bukan sekedar tidak kalah. Terkait itu, saya sreg sekali dengan General Electric (GE) –perusahaan terbesar nomor dua di dunia. Berawal pada tahun 1876, mengandalkan kekuatan teknologinya, GE kemudian merambah peralatan rumah tangga, lampu listrik, finansial, mesin jet pesawat, pembangkit nuklir, dan lain-lain.
Lantaran seradak-seruduk di segala lahan, mulai dekade 1970-an GE menjelma menjadi raksasa gemuk yang tidak lincah dan boros. Untunglah, pada tahun 1981 GE dinahkodai figur luar biasa bernama Jack Welch. Dengan teriakan, “Fix, close, sell!” ia pun melego 200 anak perusahaannya dan mengakuisisi 1.700 perusahaan lainnya. Kriteria melego atau mengakuisisinya sederhana saja, menjadi nomor satu atau nomor dua di bidangnya. Apabila tidak, GE akan melupakan bidang tersebut. Istilah lainnya, memastikan menang, bukan sekedar tidak kalah.
Saat Jack masuk, nilai GE adalah US$ 14 miliar. Sewaktu ia keluar 20 tahun kemudian, nilainya meloncat setinggi US$ 130 miliar. Kalau boleh sombong, tidak ada seorang pun pemimpin bisnis di muka bumi ini yang sanggup melipatgandakan nilai seperti itu, selain dirinya. Akhir-akhir ini, GE dinilai sebesar setengah trilliun dolar dan tahun 2006 merek GE dihargai sebesar US$ 48.907 juta. Jadilah GE salah satu merek paling mahal di jagat ini. Dan ini semua berakar dari filosofi menang, bukan sekedar tidak kalah.

Di tanah air, sedikit-banyak Ciputra Group, Kem Chicks, dan Astra Internasional juga mengamalkan falsafah itu. Di segala medan, mereka bertarung untuk menang, bukan sekedar tidak kalah. Dan percaya atau tidak, pijakan utama untuk meraihnya adalah dengan menjadi orang yang keras kepala. Tentunya, dalam artian gigih, bukan ndableg asal-asalan. Tolong di-highlight itu. Sayangnya, selama ini Indonesia lebih dikenal sebagai bangsa yang ramah, bukan bangsa yang gigih. Kalau Jepang dan Korea, barulah disebut-sebut sebagai bangsa yang gigih.

Catatlah, baik Ciputra, Bob Sadino, maupun William Soerjadjaja juga pernah pailit bahkan terbelit utang. Tidak terkecuali. Setidak-tidaknya pada periode-periode tertentu. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak kepikir untuk balik kampung. Alih-alih begitu, mereka malah terus maju. Kini, mereka adalah ikon di jalurnya masing-masing.
Seorang ekonom asal Bangladesh –Muhammad Yunus– akan menunjukkan kepada kita semua apa yang dimaksud dengan gigih. Obsesinya ketika itu adalah bagaimana bank-bank setempat dapat menyalurkan dan mengulurkan kredit kepada warga yang sangat miskin. Bayangkan saja, banyak di antara mereka mengharapkan pinjaman berkisar 12.000 rupiah.

Ide yang sangat mulia ini sempat ia sodorkan ke mana-mana, namun ternyata semua pihak cuma menggelengkan kepala. Sepintar apapun ia berargumen, tetap saja bankir dan pejabat pemerintah berdalih, “Orang melarat tidak layak dikucur kredit.” Untunglah, ia termasuk orang yang gigih. Ia tanggalkan dan tinggalkan cara pandang seekor burung. Alih-alih begitu, ia malah mengenakan cara pandang seekor cacing, di mana ia berusaha mengetahui apa yang terhampar tepat di depan mata. Dengan mengendusnya. Dengan menyentuhnya.
Mulanya, ia hanya menjadi semacam penjamin bagi warga yang sangat miskin. Lama-kelamaan, ia malah merintis banknya sendiri –tentu saja sesuai dengan konsep yang ia cita-citakan sedari awal. Namanya Grameen Bank. Tanpa diduga-duga, kini bank itu berhasil menangani 46.000 desa di Bangladesh melalui lebih dari 1.200 cabang. Atas jasanya yang tidak mengenal lelah tersebut, ia pun dianugerahi Nobel Perdamaian. Itulah buah dari kegigihan.

Ippho adalah produser Andalus, pembicara seminar, dan penulis 7 buku. Dua buku terbarunya adalah WOW! bersama Tantowi Yahya dan 10 Jurus Terlarang!

Sumber : dari sini

Mengajari Anak Berbisnis

Mengajari Anak Berbisnis PDF Print E-mail

Image"Uang jajan kelihatannya sepele... Bila cara kita salah memberikan uang jajan, maka anak menjadi sangat konsumtif. Bila tepat memberikan uang jajan, Insya Allah anak kita akan menjadi pengusaha atau direktur handal."

Didik dan persiapkan anak-anak anda sekarang juga sebagai calon pengusaha masa depan. Jangan biarkan anak anda tumbuh menjadi anak yang pada umumnya setelah besar terlempar dari persaingan kerja dan harus puas sebagai pengangguran.

Tapi sepertinya, banyak penulis yang lupa, ketika mereka berbicara tentang perubahan melalui gerakan entreprenuer, sesungguhnya perlu proses yang panjang dan tidak bisa diperoleh secara instant. Kalaupun pada kenyataannya ada, itu merupakan kasus dari sekian banyak kegagalan yang terjadi hanya karena ingin meraih kesuksesan secara cepat. Sayangnya lagi, kebanyakan buku entrepreneur yang beredar itu membidik segmentasi remaja serta orang dewasa (orang tua) yang isinya pun membahas bagaimana caranya agar mereka bisa sukses. Tidak ada yang mengupas secara tuntas bagaimana seharusnya, khususnya orang tua yang mempunyai anak, mendidik dan membimbing anak-anak mereka untuk bermental entreprenuer. Sebab, nantinya ketika lulus sekolah atau kuliah, anak-anak yang bermental entrepreneur tidak akan sibuk melamar kerja, tapi masing-masing akan bergerak untuk membuka usaha dan membuat lapangan pekerjaan sendiri.

Bila setiap orang tua sudah peduli dan secara massal memupuk jiwa entrepreneur pada anak-anaknya, akan terjadi perubahan luar biasa pada 10-20 tahun mendatang. Bangsa Indonesia akan benar-benar menjadi bangsa yang mandiri yang punya kekuatan ekonomi karena ditopang oleh banyaknya sumber daya manusia yang tangguh dan pantang menyerah.

Oleh karena itu, hadirnya buku ”MENGAJARI ANAK BERBISNIS” punya peran strategis untuk mewujudkan cita-cita di atas. Di dalamnya mengupas secara gamblang tips, arahan dan langkah-langkah yang efektif serta efesien untuk membentuk anak-anak berjiwa entrepreneur.

Masalah pemberian uang saku yang kebanyakan dianggap remeh orang tua karena dipandang hanya sebatas untuk jajan, dan kadang dijadikan alat untuk mengalihkan perhatian anak yang rewel atau menangis, ternyata salah besar menurut buku ini. Karena pengelolaan uang saku yang benar oleh anak dengan bimbingan orang tua, menjadi penentu kualitas mental finansial anak kelak.

Gaya penulisan yang bertutur dilengkapi dengan kisah nyata jatuh bangunnya pengusaha sukses di dalam maupun luar negeri, membuat muatan buku ini semakin berbobot. Rasanya, buku ini bisa menjadi oase yang mengaliri dahaga para pembaca buku-buku managemen, motivasi dan entrepreneur yang sudah jenuh dengan buku-buku yang menawarkan kesuksesan secara instan.

Buku ini mengupas bagaimana setiap orang tua, tanpa terkecuali, bisa memotivasi dan mempersiapkan sedini mungkin anak-anaknya agar kelak bisa menjadi seorang PENGUSAHA SUKSES sekaligus TANGGUH. Orang tua akan diberikan panduan berupa kiat-kiat sederhana, praktis dan mudah yang terbukti telah banyak mencetak para PENGUSAHA TERNAMA, baik di dalam maupun luar negeri.

Untuk lebih lengkap dan jelasnya, segera miliki buku ”MENGAJARI ANAK BERBISNIS” tersebut.

Judul Buku : Mengajari Anak Berbisnis
Penulis : Valentino Dinsi SE, MM, MBA & Laura Khalida
Penerbit : Wijawiyata Media Utama
Halaman : 200 halaman
Harga : Rp. 50.000,-

DIDIK DAN PERSIAPKAN ANAK-ANAK ANDA SEKARANG JUGA SEBAGAI CALON PENGUSAHA SUKSES MASA DEPAN JANGAN BIARKAN ANAK-ANAK ANDA TUMBUH MENJADI ANAK KEBANYAKAN YANG SETELAH BESAR HANYA BISA MENJADI KARYAWAN ATAU TERLEMPAR DARI PERSAINGAN KERJA DAN HARUS PUAS SEBAGAI PENGANGGURAN

Sumber : dari sini

SUKSES = ANAK TANGGA TERAKHIR KEGAGALAN

SUKSES = ANAK TANGGA TERAKHIR KEGAGALAN PDF Print E-mail

ImageCalon wirausahawan harus siap gagal. Fahamilah makna kegagalan. Tanpa faham filosofi itu, jangan berpikir mau mengambil jalan menjadi wirausaha. Alasannya, ada yang sukses dalam usahanya, ada yang belum berhasil. Pengusaha mengetahui bahwa ”kegagalan” bukan akhir permainan dan tidak boleh takut mengalaminya. Ia menyadari dengan keberanian, bahwa bisa saja mengatasi sesuatu yang tidak mungkin untuk berhasil.

Menghadapi risiko, adalah gabungan kerja keras, kecerdikan, kehati-hatian, kecermatan membaca peluang dan kesiapan menghadapi kegagalan maupun keberhasilan. Happy ending sebuah ikhtiar adalah keberhasilan. Ini dicapai, tentu setelah melewati keberhasilan demi keberhasilan kecil, seperti keberhasilan menyingkirkan kesulitan dan bahaya. Proses ini dibangun dari kesungguhan melahirkan segenap potensi diri seorang wirausahawan. Dengan begitu, ia mengubah “kekalahan menjadi kemenangan”, sebuah proses yang kecil peluang pencapaiannya tanpa kesiapan mental menghadapi kegagalan. Kalau Anda termasuk yang tidak siap gagal, lebih baik jangan meniti jalan ini. Bahkan, mengimpikannya saja, jangan!

Setiap kegagalan adalah pelajaran yang mendorong pengusaha untuk mencoba pendekatan baru yang belum pemah dicoba sebelumnya. Bagi pengusaha sejati, “Berani Gagal” berarti “Berani Belajar”. Dengan gagal dan dengan belajar, pengusaha bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dan belajar bagaimana menciptakan kekayaan sejati. Walaupun pengusaha kehilangan kekayaan materi yang telah mereka peroleh, mereka tahu bagaimana menciptakan semua kekayaan itu lagi. Pelajarannya tidak pemah hilang. Sebaliknya, mereka yang tidak pemah mengalami perjalanan yang sulit dan menemukan kekayaan dengan mudah, tidak akan tahu bagaimana menciptakan kekayaan ketika mereka kehilangan. Dengan kata lain, mereka yang tidak gagal tak akan tahu kekayaan sejati.

Gemerlap materi, pada komunitas bahkan kehidupan sosial yang serba benda (materialistis), lebih banyak memperoleh penilaian tinggi. Sebaliknya, siapa pun mengalami kegagalan, sudah mendapat stempel sosial sebagai manusia yang kehilangan harga. The looser dunia usaha, sering menjadi figur yang menghadapi titik balik sikap sosial terhadapnya. Dulu, saat masih jaya, ia banyak rekan dan kolega, setelah gagal dalam usahanya, hampir semua rekan dan kolega yang dulu mendukungnya, menebar senyum ramahnya, bahkan mengajak bermitra, hilang sudah! Akibat cara pandang seperti ini, banyak wirausahawan yang traumatik terhadap kegagalan. Ini, “awal kematian” benih-benih kewirausahaan. Semua pihak harus mengubah sikapnya: doronglah masyarakat menjadi pihak yang turut membangun keberanian banyak orang untuk respek terhadap ikhtiar orang meraih keberhasilan dalam bisnis. Gagal atau keberhasilan, bukan menjadi satu-satunya alasan menghargai atau meremehkan wirausahawan. Tentu, sembari tetap mentransfer sikap-sikap arif, bahwa dalam setiap kegagalan selalu ada pelajaran berharga. Seorang bijak berkata,”sukses hanyalah pijakan terakhir dari tangga kegagalan.”

Sumber : dari sini

Kegagalan adalah Ibu Kandung Kesuksesan

Kegagalan adalah Ibu Kandung Kesuksesan PDF Print E-mail
Written by Andrie Wongso

ImageDalam lapangan kehidupan apa pun yang kita geluti, kita harus berjuang keras meraih impian, cita-cita, dan tujuan kita. Tetapi tidak selalu kita bisa meraih apa yang kita inginkan. Kita pasti pernah menghadapi kegagalan. Bahkan kadang mengalami beberapa kali. Akibatnya, kita merasa down, berkecil hati, bahkan patah arang.

Sesungguhnya, setiap rintangan, kegagalan, bahkan kesuksesan itu sendiri ada makna di dalamnya. Ada hikmah, ada pelajaran, ada mutiara terpendam di dalamnya. Apa maknanya?

Kegagalan sesungguhnya merupakan batu uji kesiapan kita untuk meraih keberhasilan. Kegagalan mengingatkan kita pada perkara apa yang harus diperbaiki atau dimatangkan. Apakah itu usaha yang harus diperkeras, persiapan harus diperbaiki, cara atau teknik harus dimodifikasi, atau waktu pelaksanaannya harus lebih tepat.

Jika kita bisa memperbaiki diri dan bangkit lagi setelah kegagalan sebelumnya, yang pasti kekuatan dan potensi keberhasilan kita akan jauh lebih besar. Kegagalan, bila disikapi secara positif dan konstruktif, pasti mendatangkan kekuatan dorongan yang luar biasa. Inilah the power behind failure, kekuatan di balik kegagalan. Sukses tanpa kegagalan seperti sukses yang prematur. Tidak ada sukses yang sempurna tanpa melalui kegagalan. Itulah sebabnya, kegagalan disebut sebagai ibu kandung kesuksesan.

Demikian dari saya Andrie Wongso
Action & Wisdom Motivation Training
Success is My Right

Sumber : dari sini

Ide Bisnis Datang dari Mana Saja

Ide Bisnis Datang dari Mana Saja PDF Print E-mail
Written by administrator

ImageAda banyak pertanyaan tentang bagaimana harus memulai sebuah usaha. Jawabannya pun beraneka. Ada yang harus cari modal dulu, ada yang harus mempelajari pasar, bahkan yang ekstrim ada yang mengatakan modalnya nekad saja! Semuanya tak salah. Sebab, dari mana saja mau mulai berwirausaha, asal punya niat, tekad, ketekunan, keuletan, semangat tak mudah menyerah, pasti akan ada hasil yang dicapai.

Banyak contoh nyata orang yang bermodal nekad bisa jadi pengusaha sukses. Tak sedikit pula pengusaha yang berawal dari persiapan matang akhirnya benar-benar sukses membesarkan usahanya. Salah satu contoh nyata, orang yang berkemauan kuat dan bisa sukses berkat kerja kerasnya yakni Andrie Wongso. Meski dari keluarga miskin, dengan prinsip: ”Sukses adalah hak saya” ia mampu menjadi pengusaha sukses hingga kini.

Apa yang dilakukan Andrie Wongso dan banyak pengusaha sukses lain ini bisa diwakili oleh sebuah kalimat bijak yang sudah sering kita dengar, yakni asal ada kemauan, pasti ada jalan, ”When there is a will, there is a way.” Nah, lantas, jika kita sudah ada kemauan, usaha apa yang bisa ditekuni? Pilihannya sangat beragam. Untuk mengeksplorasi jenis usaha apa saja yang bisa ditekuni sebenarnya cukup gampang. Modalnya hanyalah ATM, yakni Amati, Tirukan, dan Modifikasi.

Amati.
Yang perlu dilakukan hanyalah dengan melihat sekeliling Anda. Ada banyak bertebaran jenis usaha yang bisa Anda tekuni. Mulai dari yang sudah banyak digeluti oleh orang lain, maupun usaha-usaha yang menurut Anda masih jarang yang disentuh orang lain. Atau, dari pengamatan itu, barangkali Anda bisa menemukan sejumlah kebutuhan orang yang belum tersentuh sehingga bisa jadi ladang bisnis yang baru. Ambil contoh, lihat kendaraan berseliweran di jalanan. Kalau Anda bisa utak-atik kendaraan, kenapa tidak coba buka usaha bengkel? Biar lebih spesifik layanannya, buat bengkel yang siap dipanggil kapan saja, kalau perlu 24 jam!

Tirukan.
Untuk menjalankan bisnis yang berhasil, coba tirukan bisnis yang ramai mendapat pelanggan di sekitar Anda. Misalnya Anda melihat pedagang bakso yang ramai. Coba, lihat apa yang membuatnya laris. Apakah lokasinya, rasanya, atau mungkin pelayanannya yang unik. Tirukan saja, apa kunci sukses yang membuatnya ramai.

Salah satu cara meniru yang sekarang sedang tren yaitu usaha dengan sistem waralaba. Pemilik usaha dengan sistem waralaba sebenarnya sudah merelakan usahanya di-copy paste oleh jaringan waralabanya, dan itu sah-sah saja, bahkan senang karena jaringan usahanya makin membesar. Karena itu, jangan segan jika bertemu dengan bisnis yang ramai, kalau mau ajaklah kerja sama, dengan begitu dalam meniru langkah suksesnya Anda bisa lebih pasti.

Modifikasi.
Kalau sudah menemukan jenis usaha yang akan dicontoh, jangan asal contek saja. Ubahlah berdasar kreativitas Anda. Misalnya biar makin ramai Anda gunakan cara yang unik, contoh bikin bakso yang kotak, atau bakso yang dibakar. Gunakan pula promosi yang unik. Misalnya beri kejutan gratis bayar untuk konsumen mangkuk ke-100, serta berbagai jenis promosi unik lainnya.

Bagaimana, sudah mulai mendapat gambaran? Yang penting, jika sudah menemukan jenis usaha yang ingin Anda geluti, segera take action! Lakukan dengan sepenuh hati dan terjuni dengan tekad kuat agar berhasil. Ingat. Peluang ada di mana-mana, tapi peluang baru benar-benar jadi uang kalau Anda mau mewujudkannya.

Sumber : dari sini

Ngutang Saja Kok Repot!

Ngutang Saja Kok Repot! PDF Print E-mail
Written by Didik Darmanto

ImageBuku ini saya tulis dengan inspirasi awal banyaknya orang yang mengeluh tidak bisa berbisnis gara-gara ketiadaan modal. “Pingin sih punya usaha sendiri apalagi kerja kantoran juga sudah bosan. Tapi gimana ya, modalnya kagak ada!” begitulah ungkapan yang sering saya dengar. Yah, lagi-lagi masalah uang. Tentunya Anda tidak mau dong menyerah begitu saja. Pengalaman saya sebagai seorang wartawan yang sering berinteraksi dengan pengusaha-pengusaha sukses menunjukkan, bahwa banyak di antara mereka yang mengawali bisnisnya dengan modal uang pinjaman alias ngutang. Lantas kenapa Anda tidak mengikuti jejak mereka?

Sebenarnya masalah keterbatasan modal bukanlah alasan untuk tidak segera berbisnis. Kalau memang tidak punya uang, ya solusinya pinjam uang saja. Toh banyak lembaga keuangan yang bersedia mengucurkan dana segarnya untuk Anda. Gimana ya berbisnis kok dengan uang utangan, bisnis dengan uang sendiri saja rasanya berat? Jangan-jangan nanti tidak bisa bayar utang!? Masa sih harus berutang seperti orang melarat saja!?

Perasaan takut dan malu berutang inilah yang menjadi penghalang utama kesuksesan Anda. Selama ini utang selalu diidentikkan dengan kebangkrutan finansial. Sebenarnya anggapan semacam itu tidak selamanya benar. Acapkali orang yang berutang adalah orang yang sedang jaya-jayanya dalam berbisnis. Konsekuensinya, ia memerlukan suntikan modal untuk melakukan ekspansi bisnis. Lagi pula, berutang sudah merupakan hal yang lumrah bagi para pebisnis sukses. Dapat dikatakan hampir semua orang kaya di dunia ini memiliki aset yang banyak, tapi sekaligus tercatat sebagai orang yang punya utang banyak. Jadi, kalau mau ikutan kaya seperti mereka jangan segan-segan untuk mencari pinjaman duit.

Tentunya Anda kenal Donald Trump, sang raja properti dari negeri Paman Sam (AS). Siapa sih yang menyangkal kalau sponsor acara reality show top dunia The Apprentice ini orang yang super kaya raya? Hampir separuh lebih properti Amerika di bawah kekuasaannya. Tapi meskipun sudah kaya raya, Trump tetap saja punya utang. Justru dari uang pinjaman itulah ia membangun kerajaan bisnisnya. Hingga sekarang ia terkenal piawai menyulap utang menjadi kekayaan (turn debt in to wealth).

Begitu pula dengan entrepreneur gila kita, Purdie E Chandra (Bos Primagama Group). Selain hobi main golf, ia mengaku juga hobi berutang. Kerajaan bisnisnya dibangun dengan uang pinjaman dari kiri-kanan. Coba bayangkan, berawal dari bisnis les privat kecil-kecilan di pojok kota Yogyakarta, ia kemudian bisa berkembang menjadi “raja bimbingan belajar” di Indonesia. Kata kunci kesuksesan bisnisnya tiada lain adalah rajin berutang. Tak mengherankan kalau pendiri Entrepreneur University ini selalu mengompori orang lain untuk berutang. Dalam ceramah-ceramah entrepreurship yang diselenggarakannya, ia selalu bertanya kepada para peserta, “Kapan mobilmu disekolahkan?” Maksudnya, kapan mobil mereka bakal digadaikan untuk dijadikan modal usaha.

Lain Purdie, lain pula Miming Pangarah, Bos Indoprint, Offset & Printing Industries, Bandung. Miming termasuk orang yang merasakan manfaat ngutang. Berkat uang pinjaman ia bisa melejitkan asetnya dari ratusan juta menjadi Rp10 miliar hanya dalam tempo tiga tahun saja! Begitu pula dengan Budi Utoyo, pengusaha Leha-leha Spa dan franchisor Clup-Clup, ini mampu menggandakan asetnya dari puluhan juta menjadi Rp3 miliar dalam waktu kurang dari satu tahun. “Bahkan saya bisa beli ruko senilai Rp470 juta tanpa pakai duit,” tukasnya saat saya temui di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Dan lebih gila Masbukhin Pradana, pengusaha dengan julukan “raja voucher”, ini membeli kios hanya dengan menggunakan kartu belanja Carrefour. Kemampuan mengelola utang membuat asetnya bertambah secara cepat dengan memanfaatkan duit orang lain alias ngutang.

Cara berpikir orang-orang sukses seperti mereka bukannya bagaimana agar terbebas dari utang. Tapi, sebaliknya mereka justru berpikir bagaimana caranya supaya bisa memperbesar utang. Ketika Anda menerima utang, jangan Anda pikirkan bagaimana cara melunasinya, tapi pikirkan bagaimana cara memanfaatkan uang pinjaman tadi. Kalau uang itu sudah bekerja untuk Anda, maka Anda tidak perlu repot-repot lagi memikirkan cara melunasinya. Karena utang sudah dilunasi oleh orang lain yang memanfaatkan usaha Anda. Istilah Purdie, “Silahkan kamu berutang, biar konsumen yang melunasi.”

Sebenarnya, cara berpikir mereka sederhana sehingga membuat mereka berani berutang dan kemudian sukses. Yaitu, dengan modal seadanya saja sudah untung, apalagi kalau ada tambahan modal pasti akan lebih menguntungkan lagi. Memang benar, selama utang digunakan untuk usaha dan memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding bunga pinjamannya, maka dijamin bahwa semakin besar utang akan semakin besar pula keuntungan yang Anda peroleh. Misalkan pinjam uang Rp100 juta dengan bunga pinjaman 1,5 persen per bulan. Semantara keuntungan yang diperoleh dari bisnis yang dibiayai dengan uang pinjaman tadi sebesar 5 persen. Berarti ada selisih 3,5 persen dari Rp100 juta yang masuk ke kantong Anda. Coba kalau utangnya Rp500 juta, tentu akan lebih besar pula keuntungan yang Anda raih. Dengan begitu, semakin banyak utang otomatis akan semakin kaya!

Mengelola utang untuk menambah aset inilah yang sebenarnya dimaksud oleh Robert T Kiyosaki, bahwa uang bekerja untuk kita. Cukup dengan mencari utang kemudian Anda putar di dunia usaha, tiba-tiba aset Anda sudah bertambah dengan sendirinya. Anda tidak perlu memikirkan bagaimana mengembalikannya karena di belakang Anda sudah ada pelanggan yang siap melunasi. Kalau utang sudah terbukti bisa bikin kaya, lantas kenapa Anda tidak segera berutang?

Sumber : dari sini

MELIPATGANDAKAN NETWORK

MELIPATGANDAKAN NETWORK PDF Print E-mail
Written by Jennie S. Bev

ImagePertama-tama, apa sih “network” itu? Kata networking seringkali menjadi sesuatu klise yang sangat berpamrih bisnis. Apa benar? Membangun jaringan bisa diartikan macam-macam, dari membangun hubungan dengan stakeholders bisnis Anda, bisa pula sekedar memperluas pergaulan, atau bahkan membangun hubungan antar manusia dari berbagai negara. Saya sendiri tidak pernah mengartikan networking sebagai sesuatu yang semata-mata hubungan bisnis. Bagi saya membangun network lebih merupakan membangun hubungan pribadi yang sedikit lebih dalam daripada sekedar menyapa nama saja. Mungkin ini yang disebut sebagai tahap awal dari persahabatan.

Dalam kamus saya, ada beberapa tingkat persahabatan. Ada yang sekedar beraliansi belaka untuk suatu kepentingan tertentu, ada pula yang merupakan persahabatan secara pribadi yang mendalam serta sering kali melibatkan keluarga masing-masing. Yang kedua ini sangat jarang saya temui, namun bukan berarti sesuatu yang langka dan mustahil. Ada beberapa sahabat yang masih tetap kontak sejak masa kanak-kanak dan kami masih saling memberikan dorongan tanpa pamrih sampai hari ini. Apapun alasan persahabatan yang akan Anda bangun dengan network, jalankan dengan tulus dan tidak mengharapkan imbalan. Tunjukkan dengan perbuatan, jangan cuma ngomong di bibir saja.

Biasanya, apabila sudah di jalan yang benar, satu aksi kecil saja dari Anda, sudah akan menggetarkan network, sehingga reaksi berantainya bisa dirasakan dengan sekejap. Sebagai contoh, dengan semakin banyak sahabat yang mengagumi Anda akan karya-karya dan karakter kepribadian Anda, semakin positif enerji yang Anda refleksikan ke luar dan semakin positif pula enerji yang akan Anda terima kembali.

Mungkin Anda pernah mendengar yang disebut sebagai The Six Degrees of Separation Theory. Konsep bahwa setiap manusia di bumi mempunyai hubungan yang sangat dekat satu sama lain ini pertama kali dicetuskan oleh penulis cerpen Hungaria bernama Frigyes Karinthy di tahun 1929. Namun, psikolog sosial asal Universitas Harvard bernama Stanley Milgram-lah yang berhasil membuktikan kebenaran premis ini di tahun 1967.

Dalam risetnya, Milgram berhasil membuktikan bahwa setiap orang yang bermukim di Amerika Serikat (ia menggunakan AS sebagai sampel penelititannya) saling berhubungan satu sama melalui enam orang sebagai titik pertaliannya (friendship link). Ia sendiri tidak pernah menggunakan istilah The Six Degrees of Separation, namun fenomena “enam orang sebagai titik pertalian” seringkali dihubungkan dengan studi ilmiahnya yang dikenal sebagai The Small World Experiment ini.

Di dunia Internet, titik-titik pertalian ini tidak hanya terbatas kepada mereka yang bermukim di suatu letak geografis tertentu saja. Duncan Watts, seorang profesor di Columbia University berhasil membuktikan di tahun 2001 bahwa setiap e-mail yang disebarkan secara random kepada 48.000 orang di 157 negara saling bertalian rata-rata setiap enam orang. Jadi, satu dari enam orang yang kita temui di Internet (bahkan dunia nyata) pasti mempunyai hubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan kita.

Saya sendiri sangat yakin akan konsep ini dan telah membuktikannya. Sekarang, saya malah secara sadar telah membangun jejaring untuk mencapai beberapa titik pertalian penting yang akan sangat menentukan jalan hidup saya di masa depan. Sebagai seorang penulis yang sudah cukup banyak berkarya, titik-titik pertalian saya dengan hampir setiap orang di muka bumi ini sudah semakin dekat. Mudahnya demikian, setiap pembaca karya saya mempunyai titik pertalian dengan saya dan setiap enam orang di dunia mempunyai titik pertalian dengan para pembaca buku saya. Ini berarti setiap pembaca buku saya adalah “duta” bagi 1/6 dari populasi dunia, dan ini berarti jutaan orang di dunia. Alangkah kecilnya dunia ini dan alangkah dahsyatnya kemampuan kita semua untuk saling berhubungan satu sama lain.

Ada beberapa pusat titik pertalian yang bagi saya sangat penting di dalam hidup. Pertama, kekuatan kasih. Kedua, kekuatan media. Ketiga, kekuatan ekonomi. Keempat, kekuatan politik. Keempat kekuatan in jika digabungkan merupakan kekuatan luar biasa dahsyat untuk mengubah dunia menjadi lebih baik daripada hari kemarin. Dengan sadar, buatlah peta antara diri Anda dengan tokoh-tokoh yang Anda tuju. Lantas, jalankanlah kehidupan sehari-hari Anda dengan kesadaran penuh bahwa setiap langkah yang Anda perbuat akan menghantarkan diri Anda sedikit lebih dekat dengan mereka, yang merupakan “puncak” dari gunung es peta kekuatan network dunia.

Ini bukan berarti saya mengajarkan Anda untuk “mencolek” siapa pun yang Anda jumpai di dalam hidup Anda. Saya juga tidak mengajarkan kepada Anda untuk “minta dikenalkan” kepada para tokoh tersebut melalui siapa pun, namun saya ingin menunjukkan bahwa kurang lebih akan ada enam titik antara Anda dengan tokoh mana pun di dunia yang Anda tuju. Jarak ini demikian dekat sehingga sebenarnya Anda bisa dengan percaya diri mengontak langsung melalui surat maupun e-mail, misalnya untuk bisa berkenalan dan memasukkan tokoh-tokoh mana pun ke dalam daftar kontak Anda.

Sumber : dari sini

Cari Peluang Dalam Peluang

Cari Peluang Dalam Peluang PDF Print E-mail
Written by Agoeng Widyatmoko

ImageMungkin Anda bertanya-tanya apa maksud judul di atas. Begini. Dalam setiap peluang, biasanya tersembunyi peluang lain yang juga bisa dimaksimalkan. Bisnis jualan bakso misalnya. Usaha itu bagi banyak orang masih jadi peluang yang cukup menggiurkan. Menurut pengalaman saya ketika melakukan survey kecil, minimal satu mangkuk itu untungnya bisa mencapai di atas 50 persen. Cukup menggiurkan bukan? Nah, yang saya maksud peluang dalam peluang itu adalah bagaimana kita mencoba menggali peluang apa saja yang bisa digarap dari bisnis bakso, selain dari berjualan bakso itu sendiri.

Tahukah Anda, banyak pedagang bakso itu tidak membuat baksonya sendiri? Mereka kadang hanya menitipkan daging ke tukang pengolahan daging. Inilah yang saya sebut peluang dalam peluang ini. Mereka yang jeli ternyata bisa mendapat banyak keuntungan dari bisnis pengolahan daging menjadi bakso ini. Itu baru satu peluang. Saya pernah pula menjumpai perajin gerobak bakso. Menurut dia, order dalam seminggu setidaknya minimal 3 gerobak dengan harga satuannya Rp1,5 juta. Misalnya, satu gerobak ambil untung bersih Rp500 ribu, maka seminggu perajin gerobak itu bisa mendapat untung bersih minimal Rp1,5 juta atau Rp6juta sebulan. Lumayan bukan? Saya juga pernah menjumpai pengusaha distributor kelapa muda bagi para pedagang bakso. Menurut penuturannya, dalam sehari, ia bisa mengedrop satu truk kelapa dengan keuntungan bersih di atas Rp1 juta. Yah, hitung saja berarti dalam sebulan dia bisa mendapat untung berapa.

Begitulah. Ternyata banyak peluang yang saling berkaitan dari satu jenis usaha saja. Dan, saya yakin masih banyak peluang lain yang masih bisa digarap dari usaha bakso tersebut. Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa sebenarnya, dengan kejelian kita, setiap aspek bisnis itu bisa jadi uang. Namun, kadang kita malah ”terjerumus” pada tren semata. Masih teringat ketika beberapa waktu lalu muncul tren usaha jagung manis dengan rasa. Muncul juga tren bisnis burger. Atau, beberapa waktu lampau muncul usaha Factory Outlet (FO) dan pakaian bekas bermerek yang segera menjamur di mana-mana. Semua seolah-olah berlomba-lomba untuk membuka usaha sejenis. Akhirnya, pasar malah jadi jenuh dan penjualan pun menurun.

Saya memang tidak melarang siapa saja untuk ikut tren tersebut. Selagi masih menguntungkan, mengapa tidak dicoba? Tapi, dalam artikel ini, saya ingin mencoba menawarkan sudut pandang lain dalam menyikapi tren yang berkembang dalam dunia wirausaha. Untuk bisnis jagung manis misalnya, mengapa tidak mencoba jadi supplier penyedia jagungnya langsung? Atau bisnis burger. Kalau mau, Anda bisa jadi penyedia daging pilihan untuk burger itu atau bisa juga mencoba menjual rotinya. Sedangkan kalau bisnis pakaian bekas bermerek, mengapa tidak mencoba Anda buka usaha cuci khusus pakaian bekas pakai.

Jika Anda mampu menggali sisi lain dari bisnis-bisnis yang sedang berkembang, bisa jadi Anda justru akan menemukan bisnis baru yang jauh lebih menggiurkan. Ada lagi satu contoh lain. Saat orang ramai-ramai bisnis handphone, ada salah seorang rekan saya yang kemudian malah mendirikan sekolah teknisi handphone. Hasilnya? Sekolahnya tak pernah sepi peminat. Kini sudah puluhan angkatan dengan ratusan siswa yang sudah lulus dari sekolah rekan saya ini.

Jadi, mari kembangkan kreativitas kita. Jangan terjebak tren belaka. Sebab, masih ada peluang di dalam peluang... Selamat berkreasi, temukan, dan segera take action!

Sumber : dari sini

BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN...!

BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN...!


Selama kita merasa belum familiar dan takut memulai bisnis, biasanya yang timbul di pikiran kita adalah: “belajar!”. Pilihannya mungkin dengan jalan mengambil program S2 dan jadi seorang MBA, atau ikut sebanyak-banyaknya seminar dan pelatihan.

Atau bisa juga dengan berguru dan mengabdi pada seorang begawan bisnis. Kira-kira, sudah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang terjadi pada kenyataannya? Mari kita telaah.

Kebanyakan dari kita berbisnis karena ingin sukses, lalu menjadi kaya raya. Kita membayangkan, betapa enak dan hebatnya bila kita dapat sesukses dan sekaya Bill Gates atau Donald Trump. Menurut pandangan masyarakat pada umumnya, mereka itulah orang-orang sukses yang sebenar-benarnya. Merekalah sosok-sosok pebisnis yang prestasinya membuat banyak orang terobsesi.

Maka tidak heran jika para pakar pun berusaha menyadap dan mempelajari segala hal yang ada pada orang-orang sukses itu, dengan harapan dapat mentransfer nilai-nilai kesuksesannya kepada orang-orang lain yang juga ingin menjadi figur sukses. Mereka berpendapat bahwa: “Leaders are made, not born”.

Selanjutnya, segala sepak terjang yang dilakukan oleh para pebisnis tersebut, dikumpulkan, dipilah-pilah, lalu dianalisis. Dari analisis itu dibuat teori-teori. Hasilnya, muncullah berbagai teori kesuksesan yang terkemas dalam materi-materi “ilmu bisnis”, wacana profesionalisme, ilmu kepemimpinan (leadership), dan lain sebagainya.

Orang-orang awam memang ingin sekali menemukan cara-cara yang bisa membantu mereka untuk secara cepat mencapai kesuksesan. Semacam rel kereta yang tinggal diikuti saja akan mengantar orang tiba di gerbang kejayaan.

Namun demikian, apa benar kalau kita ingin menjadi figur sukses -- lebih spesifiknya pebisnis sukses -- harus menempuh perjalanan yang sarat dengan teori-teori kesuksesan seperti itu?

Dari berbagai catatan yang ada, tampaknya tidak demikian. Banyak sepak-terjang yang dilakukan oleh para pemimpin bisnis dunia tidak mencerminkan bahwa kesuksesan mereka disebabkan pembelajaran yang sungguh-sungguh dalam ilmu bisnis, profesionalisme dan teori kepemimpinan. Tidak juga pengetahuan ekonomi, teori-teori tentang kebebasan finansial, ilmu marketing dan lain sebagainya. Pun, tidak karena mereka rajin mengikuti seminar kesuksesan atau lokakarya tentang strategi bisnis.

Di lain pihak, banyak pemimpin bisnis ternyata merupakan orang-orang yang justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main saja. Boro-boro ikut seminar atau lokakarya. Lho kok bisa?

Ada beberapa contoh kasus. Yang pertama, Thomas Alva Edison. Nama ini sudah kita tahu sejak di bangku SD bukan? Namun, tentunya kita kenal Edison lebih sebagai tokoh ilmu pengetahuan, karena sekolah memfokuskan ajaran hanya pada penemuan atas lampu pijar dan berbagai temuan teknis lain yang dilakukannya.

Maka jarang kita memperhatikan bahwa sesungguhnya Thomas Alva Edison adalah juga seorang pengusaha besar yang sukses. Ia adalah pemilik dan pendiri berbagai perusahaan dengan nama-nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif), Battery Supplies Co. (baterai), Edison Manufacturing Co. (baterai dsb), Edison Portland Cement Co. (semen dan beton), North Jersey Paint Co. (cat), Edison General Electric Co. (alat listrik dll), dan banyak lainnya. Salah satu yang masih berjaya sampai sekarang adalah General Electric.

Apakah untuk mencapai itu semua Edison harus bersusah-payah mengikuti berbagai sekolah dan pendidikan tinggi? Atau mengikuti seminar kelas dunia yang diselenggarakan oleh para pakar kesuksesan, pakar bisnis atau pakar financial freedom? Ternyata tidak. Figur Edison adalah figur pemalas yang hanya tahan 3 minggu bersekolah. Ia lebih suka bermain-main dengan perkakas, dengan kawat dan dengan listrik. Itu kesenangannya dan dengan itu ia sukses.

Contoh lain adalah Kenji Eno. Ia juga tidak suka sekolah. Ia cuma suka bermain-main dengan permainan, istimewanya dengan video games. Kelas 2 SMA berhenti sekolah terus nganggur. Lalu dapat kerja di perusahaan perangkat lunak, sampai akhirnya ia berhasil mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri yang dinamakan WARP. Dalam tempo beberapa tahun saja Kenji Eno mampu membawa perusahaannya menjadi perusahaan video games terhebat di dunia yang diakui oleh tokoh-tokoh industri.

Fenomena-fenomena yang dibuat oleh orang-orang semacam Edison dan Kenji Eno ini memberi kesan kepada kita semua bahwa bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan, dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

Gede Prama yang dikenal sebagai pakar manajemen (bahkan dijuluki Stephen Covey Indonesia), mengomentari fenomena Kenji Eno sebagai kesuksesan dari kebebasan berfikir yang mampu melompat, karena belum terkena polusi-polusi yang dibuat sekolah.

Menurut saya, adalah keliru mempelajari fenomena pemimpin, untuk menciptakan pemimpin. Demikian juga, keliru mempelajari fenomena pebisnis sukses, untuk mencetak pebisnis sukses. Sebab, fenomena pemimpin (atau pebisnis) adalah fenomena manusia, yang tidak sama dengan fenomena alam. Kalau Isaac Newton mempelajari peristiwa jatuhnya buah apel ke tanah (fenomena alam) dan kemudian menemukan hukum gavitasi, maka itu oke-oke saja. Karena fenomena alam tidak berubah, hukum gravitasi pun akan tetap abadi.

Akan tetapi, mempelajari fenomena manusia pasti akan menimbulkan frustrasi. Sebab, manusia merupakan mesin perubahan, sehingga tidak akan ada fenomena manusia yang tinggal tetap abadi sepanjang masa, berlawanan dengan yang kita lihat pada peristiwa jatuhnya buah apel.
Pemimpin, dalam bidang apa pun termasuk bisnis, adalah sosok manusia yang bebas, yang bertindak semaunya tanpa memperhatikan teori mau pun kaidah, sehingga nyaris percuma kalau kita ingin mempelajari dan mengikuti jejak sepak terjangnya.

Coba lihat, pada saat terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 1929, semua orang berdasarkan teori-teori yang ada, berusaha untuk berlaku sehemat mungkin. Tapi sebaliknya, Matsushita si raja elektrik dari Jepang malah royal mengeluarkan uang. Seakan uang itu tidak lebih dari mainan saja layaknya. Meski pun bukan tanpa alasan dia berlaku demikian.

Lihat juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo. Ketika semua pengusaha (juga dengan teori-teori yang ada) berkonsentrasi memasuki pasar negara-negara kaya semacam Amerika dan Eropa, ia malah dengan santainya masuk ke pasar-pasar “keras” seperti Iran, Sudan dan Rusia serta negara-negara blok timur.

“Kesia-siaan” mempelajari dan berusaha mengikuti sepak terjang para pemimpin bisnis bisa dirasakan secara langsung di lapangan. Saat pertama kali Harvard Business Review mempublikasikan konsep pemasaran yang beken dengan “Marketing Mix” 4P (product, price, place dan promotion), nyaris semua pengusaha serta pakar bisnis menganut konsep ini secara fanatik. Begitu juga dengan perguruan-perguruan tinggi dan sekolah manajemen.

Tapi, tidak terlalu lama, sebagai akibat “ulah” para pemimpin bisnis yang gemar bermain-main, perubahan tren perekonomian dan industri memaksa para pakar dan pembelajar merubah lagi konsepnya dengan 6P, 8P bahkan yang terakhir disebutkan sebagai 12P.

Terus bagaimana? Kalau kita harus bersiaga setiap saat untuk belajar dan tidak ketinggalan zaman dengan ilmu marketing, kapan kita berbisnis?

Saya rasa kita semua banyak yang terjebak dan hanyut dalam “arus ilmu pengetahuan” yang dibuat oleh mereka yang “pakar ilmu pengetahuan”, sehingga kita tidak sempat lagi berinovasi yang justru merupakan kunci sukses bisnis. Kita malah terus menerus “dipaksa” mengejar ketinggalan ilmu pengetahuan tanpa tahu di mana ujung pangkalnya.

Pertanyaannya: ”Sebenarnya kita mau jadi pebisnis atau mau jadi ilmuwan sih?”

Saya sendiri yakin bahwa bisnis dan kesuksesan itu adalah semacam permainan saja. Seperti apa yang dikatakan oleh William Cohen dalam tulisannya “The Art Of The Leader” : “Success is acquired by playing hard, not by working hard..”.

Mengacu pada obsesi banyak orang tentang Bill Gates dan Donald Trump sebagaimana disebut di atas, perlu diketahui bahwa kedua orang tokoh ini pun mencapai sukses dari kesenangannya bermain-main.

Bill Gates sejak masih berusia 13 tahun sudah bermain-main dengan perangkat lunak komputer, dan dengan itu ia menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Donald Trump juga sejak kecil selalu bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump. Dia suka sekali melihat-lihat maket gedung dan pencakar langit, sebelum tertarik dengan bidang bisnis sang ayah, yaitu properti. Dan jadilah Donald Trump seorang Raja Properti.

Terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, orang yang mempelajari ilmu kepemimpinan tidak akan menjadi pemimpin. Tapi, orang yang mencoba menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin. Demikian juga, orang yang mempelajari ilmu bisnis, tidak akan menjadi pebisnis. Tapi, orang yang mencoba menjadi pebisnis, akan menjadi pebisnis.



Salam sukses,


Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Email: rusman@gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Group: gacerindo-club@yahoogroups.com
Mobile: 0816-144.2792



sumber: Gacerindo.com

1001 Cara Menjadi Enterpreneur

1001 Cara Menjadi Enterpreneur

Dia sebenarnya adalah seorang staf di salah satu lembaga pemerintahan dan juga mengadu keberuntungan yang lain dengan berjualan mie & nasi goreng. Jauh sebelum kenal dengan teori ”irresistible sensational offer” yang digemborkan para sesepuh tda, bapak ini sudah mempraktekkan teori marketing yang sangat sederhana tapi cespleng.

Beda dengan penjual mie & nasi goreng kebanyakan, warung mbah mo (disebut gitu aja ya) melakukan praktek marketing dengan cara sering tampil di radio, meskipun hanya kirim ”salam”. Aktivitas kirim salam untuk dirinya sendiri atau untuk istrinya, terkadang juga dari istrinya untuk keluarganya dll, adalah rutinitas marketing yang dikerjakannya dan diakhir pasti ada peryataan tentang warung mie & nasi goreng mbah mo tadi.

Misalnya : ”Salam untuk neng wati, tadi malam enak ya pertemuan di warung mbah mo, bisa makan nasi goreng yang uenak tenan,” trus misalnya juga ”salam dari mas basuki, Mbah Mo terima kasih ya teman-teman saya puas atas makan malam di tempatnya mbah mo”....dll yang semuanya dilakukan mbah mo sendiri...luar biasa. Kemudian tak lupa juga menyebar brosur yang sampai dilakukan ke tengah kota. Dan anda pengin tahu berita selanjutnya...konon warung mbah mo ini menjadi terkenal bahkan sampai pejabat & artis pernah ke tempatnya untuk mencicipi mie & nasi goreng racikannya.

Dari menteri juga presiden pernah makan di tempatnya dan bahkan ada yang langgana sertiap ke jogya pasti mampir ke tempatnya yang sebenarnya letaknya jauh dan susah dijangkau. Padahal dari segi rasa sebenarnya juga standard saja koq, tidak jauh berbeda dengan yang lain. Dan sekarang dia memiliki karyawan termasuk orang tuanya sendiri menjadi karyawannya. Kalo bekerja ya di gaji dan yang lainnya tetap dia berbakti sebagai anak. Ini semua terjadi berawal dari mimpinya bahwa dia ingin setiap orang datang ke warungnya, tidak peduli dia rakyat biasa, artis, pejabat maupun presiden. Nah loh yang mau jadi enterpreneur, sudahkah punya impian yang real, sehingga Allah tidak keliru untuk mengabulkannya....

Ketika saya ada pekerjaan kantor, untuk koordinasi renovasi kantor reps bojonegoro tahun lalu, saya tergelitik dengan warung bakso yang ada di seberang jalan kantor reps yang saya kunjungi tadi, tepat di pojok perempatan, dekat lampu merah. Ada tulisan menyolok di list plank nya ” Bakso Ora Patek Enak”. Namanya memang seperti itu, tapi kalau anda kesana jangan ditanya berapa orang yang makan bakso di tempat ini, ramai sekali dan memang lumayan enak lho baksonya, promosi dikit khan gak papa ya... Nah ini pula yang diceritakan oleh Cak Fud dan Pak Panca kepada saya beberapa hari yang lalu. Dan konon juga telah dimuat di majalah wirausaha & keuangan.

Terbukti bahwa nama itu penting untuk menciptakan Branding, Gimana mau buat juga ”Soto Gak Patek Enak” he..he.. Jadi Entrepreneur...?Dua cerita itulah yang mengawali diskusi yang disampaikan oleh Cak Fud (nama lengkapnya abdullah mahfud), seorang pengusaha supplier chemical untuk industri besar asal surabaya. Dan ternyta Cak Fud ini adalah orang yang sering saya temui ketika saya masih tinggal di perumahan galaksi bumi permai (araya), salah satu kawasan perumahan elit di surabaya Kami sama-sama sering sholat jama’ah di masjid arroyan yang berada di kompleks perumahan tersebut dan juga sama-sama sebagai imam pengganti ketika imam tetapnya (pak Luqman Baswedan, pengusaha jual beli otomotif dan pak Zubaidi, Pembantu Dekan I FTK ITS) berhalangan hadir.

Saya baru tahu kalau beliau adalah seorang pengusaha dan juga secara ikhlash menjadi mentor bagi pengusaha pemula seperti saya ini. Cak Fud mengingatkan bahwa kita harus punya impian yang spesifik yang merupakan gambaran masa depan yang akan kita capai. Pendek kata dia menyampaikan kita harus jadi BOSS bagi diri kita sendiri. Karena boss itu selalu benar, boss itu lebih kaya dan boss itu banyak liburnya. Kalau menurut saya ada benarnya juga pernyataan ini karena yang namanya boss itu punya segalanya baik kekayaan, jabatan dan yang lebih menarik lagi dia bisa mengatur hidupnya dengan sebaik-baiknya. Dan yang lebih penting adalah seluruh hidup kita harus berorientasi akhirat maka insyaallah dunia akan melayani kita. Ingat kisah Soichiro Honda, sang pendiri kerajaan bisnis otomotif ”Honda” yang industri dan pasarnya mendunia itu..?

Kita mungkin membayangkan kalau dia hidup glamour tetapi yang kita lihat justru sebaliknya, dia hidup sangat sederhana dengan satu rumah dan tidak mewariskan hartanya kepada anak-anaknya. Dan dia pernah mengatakan ”orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. tapi tidak melihat 99 % kegagalan saya. jadi, ketika anda mengalami kegagalan, maka mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru.” Pribadi yang luar biasa pikir saya...Jadi kalau kita mau anggap mudah maka insyaallah akan mudah juga, jadi mau pilih mana...? Dan terakhir beliau menyampaikan sesuatu yang sangat penting untuk direnungkan bagi para pengusaha/calon pengusaha, diantaranya : Seorang pengusaha itu harus memiliki kecerdasan finansialPandai itu tidak menjamin suksesOrang sukses adalah orang yang mengalami kegagalan lebih banyak daripada orang lainOrang sukses adalah orang yang sebanyak-banyaknya memanfaatkan orang pandaiSukses itu ada harganyaPengusaha itu...malas kerja tapi cerdas berpikir.

(arif prasetyo aji)

Sumber : dari sini

Mengejar Impian

Mengejar Impian

Setiap orang mempunyai impian. Masing-masing orang tentu memiliki impian berbeda-beda. Ada yang mempunyai impian menjadi miliarder papan atas di dunia, mempunyai bisnis yang besar, mempunyai yayasan sosial yang besar dan canggih, berpengaruh dan terkenal di seluruh jagat, menjadi profesor ternama, menemukan mesin spektakuler, menjadi pelawak terkenal di seluruh dunia, mendapatkan pasangan hidup yang kaya dan terkenal dan lain sebagainya.

Impian itu merupakan hal besar yang mungkin mustahil diwujudkan bila dilihat dalam kondisi Anda sekarang ini. Tetapi sebenarnya impian merupakan langkah menuju sukses yang teramat penting. Tentang apakah impian tersebut terwujud atau tidak semuanya ada di tangan Anda sendiri.

Ada yang lebih cepat mewujudkan impian, ada pula yang lambat, bahkan ada yang tidak berhasil karena tidak melakukan langkah apa pun untuk mewujudkan impian tersebut. Ibarat Anda mengendarai mobil menuju sebuah tujuan yaitu impian tadi, terkadang lebih cepat sampai atau lebih lambat karena kondisi jalan berkelok, bergelombang atau banyak batu sandungan. Tak jarang diantara kita tak pernah sampai ke tempat tujuan karena hanya menggerutu dan mengutuk kondisi medan jalan yang sulit ditempuh atau terlalu lama tidur di tepi jalan.

Umumnya setiap proses menuju impian terasa tidak begitu mudah dilalui. Ada saja tantangan meskipun Anda sudah melakukan yang terbaik, sehingga membutuhkan usaha yang berulang-ulang, perhatian dan perjuangan ekstra. Tantangan tersebut bukanlah kegagalan. Bahkan bila kita cermati, tantangan itu membentuk diri Anda menjadi lebih baik dalam berbagai hal.

Jadi jangan mudah putus asa dan kehilangan keberanian untuk mencoba lagi mewujudkan impian. Tingkatkan kemauan Anda. Maka pintu kesempatan untuk mewujudkan impian akan selalu terbuka lebar.

Jonathan, teman saya semasa SMA begitu mencintai dunia bisnis dan bermimpi untuk mengabdikan hidupnya di dunia tersebut. Beberapa tahun kemudian usahanya berkembang pesat dan menggurita. Hidupnya bergelimang kesuksesan.

Namun di usia 40 tahun ia tersadar akan impiannya mengabdi di dunia pendidikan. Sehingga ia memutuskan untuk kembali menempuh pendidikan. Kemudian ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2 dan S3. Saat ini ia sudah menjadi seorang profesor di sebuah universitas ternama di Malaysia. “Setelah mengelilingi seputaran, baru aku temui diriku yang sebenarnya. Kini aku memulai kehidupanku yang baru,” katanya.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh orang-orang yang sudah berhasil meraih impian. Jika mereka berhasil, lalu mengapa sebagian besar diantara kita belum mencapainya? Seperti yang sudah saya singgung tadi, jawabannya adalah karena kita belum melaksanakan tindakan untuk menjemput impian tersebut.

Tindakan yang saya maksud adalah melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri pada tujuan. Jika tidak dapat melakukan tindakan secara lebih cepat, Anda dapat memulainya secara perlahan. Tetapi pastikan Anda selalu melakukan sesuatu untuk tiba pada impian itu.

Belajar dari salah seorang teman saya yang bermimpi suaminya kelak adalah pria yang sukses dalam karir dan mencintai dirinya sepenuh hati. Oleh sebab itu ia sangat berhati-hati memilih teman dekatnya. Sampai-sampai mayoritas teman-teman dan kerabatnya pesimis, karena di usia sudah memasuki 30 tahun ia belum menemukan pendamping.

Tetapi kemauannya begitu kuat dan tidak pernah putus asa mencari sekaligus menunggu. Di usia 35 tahun barulah ia berhasil menemukan pria yang dia impikan. Meskipun agak terlambat, tetapi ia berhasil mendapatkan apa yang sangat ia dambakan. Bahkan sekarang kebahagiaannya semakin lengkap setelah dikaruniai seorang anak lelaki.

Selain tindakan, untuk sampai kepada impian juga butuh sikap konsisten. Artinya Anda siap menghadapi tantangan dalam proses pencapaian impian, sekalipun Anda harus keluar dari zona nyaman. “In Dreams Begin Responsibilities. Tanggung jawab bermula dari sebuah impian,” kata Delmore Schwartz. Sekali Anda bersikap konsisten, maka Anda akan selalu menemukan kekuatan untuk terus melanjutkan perjuangan hingga tiba pada tujuan.

Seperti teman saya lainnya sebut saja Desi, meskipun baru berusia 30 tahun ia mempunyai karir sangat cemerlang dan mempunyai keluarga yang harmonis. Hidupnya sukses dan bahagia. Tetapi ia masih mempunyai impian untuk menyelesaikan pendidikan sarjana yang tertunda sejak 7 tahun yang lalu.

Demi mengejar impian tersebut ia tidak segan keluar dari zona nyaman. Sebagaimana Jiminy Cricket menyatakan, “When your heart is in your dreams, no request is too extreme. – Ketika impian itu tertanam di hati Anda, tak kan ada yang terasa berat untuk dilakukan.” Oleh sebab itu, Desi justru menikmati aktivitasnya belajar di sebuah universitas swasta di Jakarta dua kali dalam satu minggu. Sesampainya di rumah ia juga masih menyempatkan diri untuk belajar. Motivasinya semata-mata hanya ingin mengejar impian yang tertunda, bukan sekedar mencari selembar ijasah atau tergiur posisi lebih strategis di kantor setelah mendapatkan gelar sarjana nanti.

Impian mungkin hanya merupakan khayalan belaka. Tetapi jika impian tersebut disertai dengan tindakan, sikap konsisten, dan kemauan untuk berjuang keras meskipun harus keluar dari zona nyaman ditambah dengan rasa syukur dan doa maka akan menjadikan diri kita lebih pintar, kreatif dan kehidupan kita lebih terarah. Jika Anda ingin meningkatkan produktivitas diri dan kualitas kehidupan, maka pastikan Anda mempunyai impian dan berusaha maksimal untuk mengejarnya.[aho]

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com.

Sumber : dari sini

Memulai Usaha Dari Sebuah Gagasan..!

Memulai Usaha Dari Sebuah Gagasan..!

Bagi mereka yang berniat memulai usaha, pada umumnya masalah pertama yang dihadapi adalah pertanyaan tentang bidang usaha apa yang sebaiknya dijalankan.

Pertanyaan yang kelihatan remeh ini, sesungguhnya mempunyai bobot yang besar sekali artinya dan amat menentukan masa depan perusahaan yang akan didirikan tersebut. Bahkan, kemungkinan besar juga menentukan masa depan sipengusaha sendiri. Jadi, bagaimanakah cara yang paling tepat untuk menentukan bidang usaha ?

Menurut logika, sebuah usaha yang berpeluang untuk berjalan dengan lancar adalah usaha yang tingkat persaingannya kecil, tetapi tingkat kebutuhan pada konsumennya tinggi. Tentu dengan asumsi bahwa faktor-faktor penentu lainnya sudah terpenuhi. Untuk bisa menekan tingkat persaingan sampai sekecil mungkin, maka seyogyanya produk yang akan dijual merupakan produk yang mempunyai sifat-sifat orisinil, belum pernah dibuat orang lain, atau bila produk itu berupa produk yang sudah ada sebelumnya, sebaiknya mempunyai nilai tambah yang tidak dimiliki oleh produk pesaing.

Banyak kejadian memperlihatkan bahwa kecenderungan orang untuk memulai usaha adalah dengan mengikuti trend saat tertentu. Misalnya, kalau sekarang banyak orang mendirikan ruko (rumah-toko) , maka dengan anggapan usaha yang diminati banyak orang itu pasti menguntungkan, lalu beramai-ramai ikut mendirikan ruko. Pola berpikir seperti ini terlalu menggampangkan, seakan-akan menyamakan trend bisnis dengan trend mode. Dibidang mode, kalau saat ini sedang digemari potongan rambut crew-cut (potongan pendek) misalnya, tidak ada masalah bagi siapa saja untuk meniru. Akan tetapi, kalau kita meniru bidang usaha yang sudah begitu banyak orang lain menjalankannya, berarti kita terjun kedalam suatu lahan yang sudah penuh sesak dengan persaingan. Sulit untuk kita bisa berkembang dalam situasi yang demikian, apalagi bila kita pendatang baru yang sudah “kesiangan” (terlambat).

Sejak tahun-tahun 1970-an, pola “ngikut trend” ini banyak dilakukan orang pada bidang-bidang yang segera menjadi jenuh, seperti mendirikan theater, klub malam, taksi, radio swasta niaga, diskotik, mendirikan apartemen, RSS (rumah sangat sederhana), wartel (warung telekomunikasi) dan lain-lain.

Di bidang finansial bahkan menjadi mode bagi sementara orang baik pengusaha maupun bukan, untuk terjun bermain valas (valuta asing), bursa saham bahkan bursa komoditi. Tidak sedikit mereka yang pengetahuannya terbatas tentang bidang-bidang tersebut ikut-ikutan bermain, lalu tiba-tiba, tanpa mengerti sedikitpun tentang alasannya, uangnya dinyatakan amblas tidak bisa dicegah lagi. Kejadian seperti ini terlalu mengerikan untuk dialami oleh setiap calon wiraswastawan yang punya idealisme.

Alex S. Nitisemito dalam bukunya “Memulai Usaha Dengan Modal Kecil”, memberikan contoh yang bagus tentang seorang pemilik kebun apel yang pada suatu hari menemukan buah apel yang jatuh ketanah bekas dimakan burung. Karena buah apel tersebut ternyata berbau anggur, maka timbullah gagasannya untuk mendirikan usaha minuman sari buah apel.
Yang demikian itu merupakan ide orisinil. Bukan tiruan atau menjiplak ide orang lain. Henry Ford memulai usaha dengan gagasan untuk membuat mobil yang baik bagi masyarakat banyak dengan harga terjangkau, dan usahanya sukses. Begitu juga Bill Gates yang berangan-angan untuk “mengkomputerkan” seluruh dunia, ternyata melesat begitu cepatnya menjadi raja komputer sejagat.

Ide atau gagasan tidak selalu datang begitu saja tanpa disangka-sangka, sehingga orang tidak akan bisa mengetahui kapan ide itu akan datang. Jangan menunggu datangnya ilham, atau mengharapkan bisikan gaib melalui mimpi saat tidur. Ide harus dikejar, dipikirkan dan dicari. Ini suatu bukti yang menguatkan bahwa kewiraswastaan adalah “kerja otak” bukan “kerja otot”. Gagasan bisa datang dan terjadi kapan saja, maka kita harus selalu waspada. Seperti contoh di atas, pemilik kebun apel ada dalam keadaan waspada sehingga ia bisa mencetuskan sebuah ide besar berdasarkan sebuah kejadian kecil. Kalau tidak, ribuan buah apel bekas dimakan burung yang berjatuhan keatas tanah, tetap tinggal membusuk tanpa arti apa-apa bagi siapa pun.

Rusman Hakim
Sumber : dari sini

Ciputra : Indonesia Butuh 4 Juta Pengusaha Baru..!

Ciputra : Indonesia Butuh 4 Juta Pengusaha Baru..!

''Kita butuh 2 persen saja dari jumlah penduduk ini yang menjadi pengusaha. Kita kini hanya memiliki 0,18 persen, sedangkan Amerika sudah 11,5 persen dan Singapura 7,2 persen,'' ujarnya pada seminar entrepreneur yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana UGM dan Ciputra Foundation.

Seminar bertemakan ''Menjadi Pengusaha Tanpa Modal'' itu sebagai pembuka kegiatan Campus Entrepeneur Program (CEP) UGM tahab kedua. Sebelumnya, pada tahab pertama CEP UGM telah meluluskan 28 orang calon pengusaha muda yang berhasil mengembangkan usaha donatello, futsal, BPR dan lain-lain.

Lebih lanjut Ciputra menambahkan, dua masalah utama yang menjadi kendala masyarakat Indonesia untuk menjadi pengusaha adalah, penjajahan selama 350 tahun telah mengikis semangat, kecakapan wirausaha di sebagian besar masayarakat Inonesia. Dan pendidikan kita hanya memiliki orientasi membentuk SDM pencari kerja bukan pencipta lapangan kerja.

''Pendidikan kewirausahaan ini tidak kita dapatkan di bangku sekolah, di sekolah juga tidak diajarkan bagaimana membuat sesuatu untuk dijadikan sebuah bisnis,'' tuturnya.

Pada seminar yang dihadiri oleh sekitar 300 lulusan UGM itu, Ia selanjutnya membagi empat macam jenis wirausaha di antaranya ''bussiness entrepreneur'', ''governmenet entrepreneur'', ''academic entrepreneur'' dan ''social entrepreneur''.

Menurutnya, menjadi pengusaha itu ada tiga syarat yang mesti dimiliki yakni keinginan, semangat dan percaya diri. ''Bukan karena keturunan membuat orang menjadi pengusaha, atau pun modal tapi mesti memiliki keinginan, semangat dan percaya diri,'' tegasnya.

Sependapat dengan apa yang diungkapkan Ciputra, mantan Dirut BRI Dr Joko Santoso Mulyono, pada seminar yang sama mengatakan bahwa hal utama yang dilakukan untuk menjadi pengusaha adalah mengubah pola pikir (''mind set'').

''Ketika kita bisa mengubah ''mind set'' yang ada di pikiran, lalu dijadikan sebuah perbuatan, selanjutnya menjadi kebiasaan sehingga bisa membentuk karakter,'' tambahnya.

(Bambang Unjianto)
Sumber : dari sini