26 Januari 2008

Ide Bisnis : Bioskop Mini

Murah-Meriah di Bioskop Mini

Tak ada yang paling menyenangkan bagi Zaki Jaihutan selain menonton film. Larut dalam cerita yang diperankan para aktor dan aktris menjadi sarana melepas lelahnya. "Saya suka banget nonton," kata dia. Terutama film lama. "Apalagi kalau ditontonnya dalam bentuk layar lebar."
Tapi, tidak semua film bisa ditonton di gedung bioskop. Cuma film terbaru saja yang nangkring di poster film yang diputar bioskop besar di pusat perbelanjaan. Padahal pria 31 tahun itu justru lebih menggemari film-film lawas yang sudah dialmarhumkan penayangannya di layar lebar. Buat Zaki, menonton film kegemaran di layar lebar merupakan nikmat yang tak terkira.
Pucuk dicita ulam pun tiba. Zaki menemukan sarana pemuas dahaganya sejak kurang lebih dua tahun lalu ketika sebuah bioskop mini, Subtitles, di lantai dasar Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan, dibuka. Apalagi Subtitles dilengkapi dengan penyewaan DVD untuk ditonton di bioskop mininya. Zaki pun mengaku terpuaskan.

Pegawai swasta sebuah kantor di gedung Bursa Efek Jakarta itu bisa datang sebulan dua kali ke Subtitles. Terkadang dia datang ramai-ramai dengan temannya. Lain waktu, Zaki cuma datang nonton berdua dengan pasangannya. Saat sedang mood Zaki malah kerap datang sendirian saja. Di sana indra Zaki melumat film besutan sutradara kondang Kubrick, film misteri lawas buatan Alfred Hitchcock, film Eropa, Jepang, hingga film klasik yang pernah tayang tahun 1950 hingga 1960. Di bioskop mini, penonton dibebaskan melihat film yang dipilihnya sendiri. "Private banget," kata Zaki.

Privasi itu pula yang dicari Dewi dan belasan temannya siswi SMA 3 Ciledug. "Kita bebas bisa teriak, menangis, atau tertawa sekeras-kerasnya ketika menonton film di studio," ujar Dewi.
Studio yang dimaksud Dewi adalah milik bioskop mini Showbiz di Jl Raden Saleh 4B, Ciledug, Tangerang. Hari itu ramai-ramai mereka menonton film Hantu Jeruk Purut. Adegan horor yang menakutkan atau mungkin menggelikan direspons cewek-cewek itu tanpa khawatir ada orang lain yang terganggu. Maklum di bioskop mini itu tidak ada orang lain selain mereka. Suatu hal yang tidak bisa dilakukan Dewi kala menonton di bioskop besar.

Selain seru karena dilakukan bersama-sama, kocek anak-anak SMA itu tidak sampai bolong meski menghibur diri dengan menonton bioskop. Dewi mengakui harga murah dan kenyamanan menjadi faktor utama kedatangannya di Showbiz. Buktinya film Hantu Jeruk Purut ditontonnya berulang kali di sana.

Tarif Showbiz bisa dikategorikan sangat terjangkau. Rp 21 ribu untuk tiga penonton. Tarif tersebut berlaku sama bila menonton hanya seorang diri.

Harga bioskop mini yang terjangkau menjadi pertimbangan Myriam Ayu Paramita (25 tahun) ketika menyambangi Subtitles. "Irit, karena patungan sama sepupu-sepupu," jelasnya. Bila membawa serta tujuh sepupu lainnya, agenda menonton bisa lebih murah ketimbang menonton di bioskop besar.

Menurut Mita, keenakan lainnya adalah Subtitles membolehkan pengunjungnya nonton sambil makan. Bukan cuma cemilan kecil-kecilan seperti berondong jagung, sushi serta sandwich tersedia di sana. "Beberapa resto di Dharmawangsa Square kerja sama dengan Subtitles jadi bisa pesan makan juga," ujar Mita.

Kebebasan tampaknya menjadi nilai plus bioskop mini. Agung Kurnianto, pengunjung Showbiz, merasa lebih nyaman nonton di bioskop mini karena ia tidak perlu repot mengantre tiket. Selain itu mahasiswa Universitas Diponegoro itu tidak perlu jauh-jauh ke pusat kota cuma untuk nonton film di bioskop. Film yang tak sempat ditontonnya di bioskop besar dapat ditontonnya kapan saja di Showbiz. "Bebas," ujarnya.

Meski penuh dengan kebebasan, Mita sesungguhnya lebih memilih pergi ke bioskop besar. Kekecewaannya terbetik ketika ia harus menunggu lama akibat rombongan yang sebelumnya masuk tak kunjung beranjak. Padahal jam sewa ruangannya sudah masuk waktu.
Kualitas suara bioskop mini yang biasa saja menjadi pertimbangan lain perempuan lulusan Fakultas Hukum UI itu. "Tapi, yang paling tidak enak, di tengah-tengah film kita pernah terpaksa berhenti dan akhirnya ganti film karena keping DVD-nya tergores," tuturnya.
Meski mengaku pemutaran film di bioskop mini dengan metode proyektor mengurangi kualitas tayangan. Zaki memaklumi itu. Sebelum bisa mewujudkan bioskop mini di kediaman pribadinya, Zaki akan terus mengunjungi bioskop kecil itu dan menonton film favoritnya. Mimpinya suatu saat bioskop mini langganannya memutar film klasik kesukaannya di dengan proyektor rel seperti bioskop besar.

Pesan Waktu Terlebih Dulu

"Mbak saya sudah booking kemarin untuk menonton film I am Legend," kata Agung Kurnianto kepada pegawai bioskop mini Showbiz di Ciledug, Tangerang.

Sebelum menonton di Showbiz ini, penonton memang direkomendasikan untuk memesan terlebih dahulu. Datang langsung ke Showbiz juga bisa, cuma siap-siap saja kecewa seandainya tidak dapat tempat.

Di bioskop mini Flicker, di Ke'ku:n Cafe, Jl Bangka Raya No 99A, Jakarta Selatan, pemesanan tempat tidak diberlakukan setiap hari. Manajer bioskop mini Flicker, Sunarya Arsyad, mengatakan di Flicker reservasi tempat untuk akhir pekan sudah ditiadakan. Alasannya, kata pria yang akrab dipanggil Oenank itu, banyak pemesan yang membatalkan datang. Sementara, calon penonton lain yang belum memesan tempat sudah tiba di Flicker. "Sekarang yang mau nonton di Sabtu atau Ahad jadinya ada yang datang dari jam 11.00 supaya dapat tempat," ujar Oenank.

Pada akhir pekan ruang bioskop di Flickers bisa penuh penonton sejak dibuka pukul 12.00 sampai jam operasi berakhir pada pukul 24.00 WIB. Selayaknya bioskop mini, Flicker tidak berukuran besar, hanya sekitar 8 x 6 meter. Dindingnya dilapis peredam suara berwarna merah marun berseling kain hitam.

Pengunjung Flicker dibatasi maksimal delapan orang dengan biaya sewa Rp 99 ribu untuk sekali menonton, baik untuk satu penonton maupun delapan penonton. Seluruhnya bisa duduk nyaman di tiga deret sofa besar yang empuk dan nyaman.

Sofa di baris paling depan berwarna jingga. Alasnya kain beludru. Barisan sofa kedua masih untuk tiga orang juga. Di sofa merah marun paling belakang bisa diisi dua orang. Masing-masing kursi dilengkapi bantal kecil berwarna serupa dengan sofanya.

Flicker juga dilengkapi peralatan standar home theater seperti amplifier, mesin pemutar keping DVD, speaker, subwoofer, layar sebesar dua kali tiga meter, dan proyektor. "Enggak canggih-canggih banget lah," kata Oenank.

Tepat di atas layar sebuah kamera pemantu atau CCTV diletakkan. Oenank mengatakan sebenarnya kamera bukan ditujukan untuk mengganggu privasi penonton. Kamera itu ditempatkan untuk menjaga agar ruang bioskop bebas asap rokok. Supaya ketika layar monitor dari kamera berasap, pegawai Flicker dapat langsung meminta penonton untuk mematikan rokoknya.

Tanya masa putar filmFlicker tidak menyediakan jasa penyewaan film dalam keping DVD. Penonton harus membawa sendiri film yang akan ditontonnya. Maka, biasanya pegawai di sana menanyakan film apa yang akan ditonton untuk mengetahui masa putar film. Tujuannya supaya calon penonton berikutnya tidak menunggu terlalu lama.

Di Showbiz, penonton tidak perlu susah-payah membawa keping DVD, karena tinggal sewa ke Showbiz. Pemilik Showbiz Cinema, Tasya, mengatakan koleksi DVD yang disewakan mencapai 500 keping. Semuanya dibeli Tasya dari toko penjual DVD asli. Sebagian besar koleksi DVD Showbiz adalah film asing. Sisanya, atau 30 persen lainnya, adalah film Indonesia. Agar memudahkan penonton, Tasya membuat katalog DVD yang dilengkapi resensi filmnya.
Usaha yang digarap Tasya diawali dari hobinya menonton film. "Saya tergolong orang yang gila fim sejak masih SMP," kata dia. Hobi Tasya menonton lantas dilampiaskan dengan membeli kepingan DVD. Dia mengaku pernah membeli ratusan keping DVD. Demi tidak mengonggokkan keping-keping DVD begitu saja, adik Tasya, Wahyudin, mengusulkan untuk membuat usaha bioskop mini.

Pelan-pelan, kakak-beradik itu mengumpulkan modal usaha. Setelah Rp 50 juta terkumpul, keduanya menyewa satu lantai di sebuah ruko di Ciledug. Perangkat pemutar film dan proyektor pun dibeli. Pada April 2007, Showbiz Cinema resmi dibuka dengan jam operasi dari pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.

Showbiz cuma memiliki satu studio. Ukurannya 4 x 6 meter. Di tempat ini terdapat satu sofa besar yang bisa diduduki empat orang. Di depan sofa terhampar karpet tebal. Penonton bisa menikmati film sembari bersila atau tidur-tiduran di atas karpet.

Kualitas suaranya tidak kalah dengan bioskop yang biasa ditemui di mal. Gambarnya jernih. Suaranya terpantul jelas dari empat unit subwoofer di empat sudut ruangan. Makan dan minum dalam ruangan diperbolehkan bahkan disediakan untuk dibeli di Showbiz.

Nonton Sembari Tidur?

Dian menyandarkan kakinya di sofa ranjang berukuran dua orang. Sepatunya dilepas. Dari bawah sofa berjok kulit itu ditariknya sebuah laci. Dian mengambil selimut putih didalamnya. Tubuhnya pun segera terselimuti. Mata Dian tertuju ke layar di depan. Sebentar lagi film yang akan ditontonnya dimulai.

Dian Sunardi, manajer pemasaran Blitz Megaplex, mengatakan itu baru namanya dimanja. "Nyaman banget," ujarnya. Pengalaman Dian menonton di atas sofa ranjang akan segera dinikmati penggemar film di Jakarta. Rencananya, pada 14 Februari 2008, Blitz meluncurkan dua studio baru bernama 'Velvet Room' yang memberikan kenyamanan menonton itu. Velvet Room hanya menampung 17 sofa ranjang. Masing-masing sofa diisi dua orang.

Di ruang itu penonton bisa tidur di atas sofa ranjang berukuran dua orang dewasa dengan teman enam bantal. Termasuk bantal berlapis beludru yang terasa sangat lembut menyentuh kulit. Disediakan pula sandal kain --seperti yang kerap ditemukan di kamar hotel-- dan kaus kaki untuk mengusir dingin pendingin ruangan.

Nah, selain rebah-rebahan di atas sofa sembari meluruskan kaki, Velvet Room membolehkan penonton makan dan minum. Penonton bisa mengelap tangan denagn handuk hangat yang disediakan.

Bukan cuma cemilan seperti berondong jagung yang diberikan secara cuma-cuma ketika menunggu di lounge khusus, Velvet Room menawarkan beragam jenis makanan yang dapat dikudap. "Mau steak juga bisa," terang Dian. Jangan takut tumpah, di samping sofa tersedia meja lipat sebagai alas makan.

Saat dahaga atau lapar menyergap di tengah pemutaran film, tinggal pijit tombol di samping sofa untuk memanggil pelayan. Velvet Room baru dapat dinikmati di Blitz Megaplex di One Pasific Place, SCBD, Jakarta Selatan. Velvet Room 1 bernuansa warna-warna tanah, sementara Velvet Room 2 sedikit lebih romantis dengan sapuan warna-warna lembayung.

Untuk menghindari kemungkinan dari penyalahgunaan sofa ranjang, Velvet Room dipasangi camera circuit television (CCTV). Velvet Room pun hanya bisa dinikmati pemilik kartu member Blitz Megaplex. Pemesanan tiket Velvet Room nantinya dapat dilakukan lewat telepon hotline khusus anggota. "Kalau kami punya data penonton harapannya tempat ini terjaga dari yang tidak-tidak," sambungnya.

Namun, sebelum dikhususkan bagi anggota, Velvet Room bebas dijajal publik selama kurang lebih dua bulan. Harga Tiket? Dian masih menutup mulutnya. Kisarannya antara Rp 200 ribu dan 250 ribu untuk satu atau dua orang

Sumber : Dari sini

Ide Bisnis: Bikin Duit Dari Buku-Buku Tua

Berbisnis dari Buku-buku Tua

Siapa mengira buku-buku usang malah mendatangkan omzet ratusan hingga puluhan juta rupiah. Pasarnya ada, dari kelas menengah ke atas. Peran buku sebagai sumber informasi dan pengetahuan tidak akan pernah lekang dimakan usia, meski buku itu sudah tergolong berumur. Sayang, peran buku yang sedemikian penting sebagai bahan bacaan ini tidak banyak diperhatikan orang. Bahkan, banyak yang terpaksa membuang buku karena menganggap buku tersebut sudah usang, atau tidak diminati orang.

Salah satu yang peduli pada buku tua adalah Samsuddin Effendi Siregar. Namanya memang cukup dikenal di kalangan kolektor buku, atau pemburu buku bekas bermutu di Jakarta hingga mancanegara. Pria yang memiliki kios di Taman Mini Indonesia Indah ini mengawali bisnisnya sekitar 1975 di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, sebagai pedagang kaki lima (PKL) buku bekas. Karena tidak memiliki kios, Samsuddin harus selalu berurusan dengan aparat tramtib DKI Jakarta. ''Saya hampir tiap hari ditangkap. Akhirnya diberi tempat di Lapangan Banteng (Jakarta Pusat). Tapi, tidak lama sesudah itu berdagang di Pasar Inpres Senen,'' katanya.
Ia juga tidak lama berdagang di pasar Inpres tersebut. Menganggap lokasi tersebut tidak aman, ia pindah ke Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Suatu ketika ia mengikuti sebuah pameran buku di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sekitar 1986 dan mendapat tempat sementara secara gratis.

Rupanya Dewi Fortuna mulai berpihak padanya. Ia mendapat order dari pemerintah untuk mencari buku-buku tentang Rusia. ''Saya sanggupi dan besoknya sudah saya siapkan. Jumlahnya puluhan buku. Kalau ditaksir waktu itu harganya sekitar Rp 500 ribu. Tapi, untuk negara saya berikan gratis,'' kenangnya.

Tanpa dinyana, beberapa hari kemudian petugas pemerintah yang membeli buku tersebut kembali mendatanginya. Kali itu mereka bukan hendak membeli buku, melainkan mengundang Samsuddin mendatangi kediaman resmi salah seorang pejabat tinggi negara saat itu. ''Saya ditanya apa yang saya inginkan. Saya hanya bilang ingin punya kios buku di Taman Mini dan itu akhirnya dikabulkan.''

Akhirnya impiannya memiliki kios buku terwujud pada 1987. Hingga kini Samsuddin telah memiliki lima kios di TMII di atas lahan seluas 500 meter persegi. Kiosnya menampung sekitar 20 ribu buah buku yang terdiri atas 6.000 judul. Ia menyebut tokonya sebagai Pasar Buku Langka Taman Mini Indonesia Indah agar orang mudah mencarinya. Kiosnya bersebelahan dengan anjungan Papua dan berseberangan dengan anjungan Sulawesi Tengah.

Tanpa modal Bisnis buku langka juga ditekuni oleh Daud sejak tahun lalu. Ia melihat penjual bisnis buku bekas atau langka tidak banyak. Para umumnya PKL hanya menjual buku-buku yang laku di pasaran. Mereka enggan menjual buku langka karena pertimbangan ekonomis. Peluang inilah yang ditangkap Daud dengan membidik kelas menengah atas sebagai target konsumennya. ''Mereka butuh kenyamanan untuk membeli,'' ujarnya.

Daud membuka kiosnya yang sederhana di Depok, Percetakan Negara, Jakarta Pusat dan Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan. Ia memiliki sekitar 40 ribu buku dengan berbagai judul. Mulai dari komik Jepang seperti Doraemon hingga buku tentang hukum berbahasa Latin keluaran tahun 1650. Daud juga mengaku memiliki buku berbahasa Belanda tentang sejarah Indonesia yang harganya mencapai puluhan juta rupiah. ''Harga buku tergantung dari isi dan jenis bukunya. Pernah dicetak banyak atau buku langka dan tingkat kesulitan mencarinya.''
Selain buku, Daud juga mengumpulkan manuskrip, koran kuno, hingga laser disc beberapa konser klasik musisi ternama. Barang-barang itu umumnya ia peroleh dari membeli dan barter dengan rekan-rekan sehobi. ''Saya selalu berkeliling Indonesia untuk mencari buku.''

Daud sering kali gagal memperoleh buku buruannya meski telah mendatangi lokasi yang dituju. Namun, ia tidak kecewa dan tetap membeli buku dari para pemulung buku yang setia memasok kebutuhannya. ''Saya hanya menjaga hubungan baik dengan mereka. Pokoknya saya selalu membelinya meskipun tidak sesuai dengan yang saya cari.''

Ia juga mengaku sulit menyebut modal yang dikeluarkan karena buku yang dijual pertama kali adalah buku-bukunya ketika duduk di bangku SMP. Keuntungan yang diperoleh ia putar kembali untuk modal usahanya. Hal serupa juga diakui Samsuddin yang mengaku tidak bermodal uang ketika memulai bisnisnya. Ia menekuni usaha ini karena tertarik melihat rekannya menjual buku bekas dengan untung yang menggiurkan. Beberapa bukunya menjadi modal awalnya berdagang buku bekas.

Omzet pun sulit dihitung karena dalam sehari bisa saja Samsuddin hanya memperoleh pemasukan Rp 300 ribu. Tapi, pernah pula ia mendapatkan puluhan juta rupiah karena ada pesanan dari luar negeri. Yang jelas, dari usahanya ini Samsuddin mampu menyekolahkan kelima anaknya hingga perguruan tinggi dan membeli rumah.

Dari Pejabat Negara Hingga Artis

Di bisnis buku bekas atau langka tidak semua konsumennya kalangan berkantong pas. Beberapa pengusaha, pejabat tinggi negara, kolektor, ilmuwan hingga artis menjadi pelanggan tetap buku-buku bacaan tersebut. Namun, umumnya mereka memilih tutup mulut untuk menyebut idetitasnya.

''Mereka tidak mau jati dirinya diketahui orang banyak,'' kilah Daud, pemilik kios buku di Depok, Percetakan Negara, Jakarta Pusat dan Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan, yang mengaku memiliki pelanggan beberapa pejabat tinggi negara dan artis. Pemesanan buku cukup melalui pesan pendek lewat ponsel (SMS), atau Daud yang menghubungi mereka.

Daud yang sebelumnya telah mempelajari isi buku segera menjelaskan buku tersebut kepada calon konsumennya. Kalau berminat, mereka umumnya tidak terlalu mempersoalkan harga buku yang disodorkan Daud. ''Jadi, saya ini seperti konsultan saja,'' tuturnya.

Sampai kini Daud memiliki sekitar 30 orang pelanggan dari kelas premium tersebut. Jumlah tersebut belum termasuk pelanggan kelas menengah dan pelajar. Ia juga memberikan kesempatan foto kopi kalau ada pelajar yang berminat mempelajari buku yang dijualnya.
Selama menjalankan bisnisnya ini Daud sering kehilangan buku yang dijualnya. ''Pernah buku saya hilang dicuri tapi ketika saya cari ternyata buku itu sedang dibaca. Akhirnya saya biarkan saja.''

Lain lagi kisah Samsuddin yang memiliki pembeli hingga ke mancanegara. selain sejumlah kolektor di Tanah Air. Beberapa perguruan tinggi terkemuka di Jepang, Jerman, Belanda, Inggris, Malaysia, dan Singapura pernah membeli buku darinya. Beberapa pejabat tinggi negara setiap kali berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) juga menyempatkan diri mendatangi kiosnya.

Buku yang diminati umumnya seputar sejarah, budaya Indonesia, atau bidang sosial lainnya. Ia menjual mulai dari harga Rp 2.000 hingga Rp 100 juta per buku. Sebagian dari buku-buku tersebut ia dapatkan dengan cara membeli dari tukang loak. ''Sayang, yang banyak suka buku adalah orang asing. Jadi, banyak informasi tentang Indonesia yang dimiliki mereka.'' ( hir )

Sumber : Dari sini

Ide Bisnis : Bikin Duit Dari Pohon Pisang (Debog)

Memanfaatkan Pohon Pisang untuk Tas

Selama ini pohon pisang (orang Jawa menyebutnya debok) dianggap tidak berguna. Karena, begitu buah pisang sudah dipetik oleh pemiliknya, pohon pisang akan dibiarkan begitu saja. Atau, jika ditebang akan dibuang ke tempat sampah dan dibiarkan membusuk.Padahal, sampah pohon yang tidak berguna itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat tas dan dompet.

Inilah yang dilakukan oleh Yanto Suhardani (44), warga perumahan Mastrip, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Di tangan bapak tiga putra-putri, pohon pisang yang tidak berguna itu dibuat menjadi tas dan dompet yang memiliki peluang pasar.Usaha Yanto Suhardani yang dimulai sekitar empat tahun lalu ini berawal dari sebuah angan-angan.

Saat itu di lingkungan sekitar tempat tinggalnya banyak pohon pisang. Bagai pepatah habis manis sepah dibuang, pohon-pohon pisang itu dibiarkan membusuk, ditebang, atau dimasukkan ke tempat sampah begitu buah pisangnya dipetik.Melihat itu Yanto berangan-angan, apakah pohon pisang yang melimpah itu dapat dimanfaatkan. ''Setelah saya pikir dan teliti, saya mempunyai keyakinan bahwa pohon pisang itu dapat dimanfaatkan untuk membuat tas,'' ujarnya saat ditemui Republika di rumahnya.

Untuk dapat membuat bahan tas rapi dan baik perlu proses. Awalnya, pohon itu hanya dikuliti dan langsung dijemur. Tetapi, dengan proses seperti ini hasilnya kurang baik. Bahan itu tidak bisa bertahan lama. Paling hanya mampu bertahan sampai dua tahun.Setelah itu Yanto menemukan hal baru. Yaitu, pohon pisang yang telah dikuliti itu dijemur dahulu sampai kering, lalu dicuci dengan sabun hingga bersih dari getah. Kemudian dijemur kembali sampai kering, baru dibuat menjadi tas.

''Proses awal sampai jadi ini memerlukan waktu sekitar enam hari. Tetapi itu tergantung pada cuaca jga. Kalau ada panas matahari, empat hari saja sudah bisa. Dan kalau melalui proses seperti ini, tas itu mampu bertahan sampai sepuluh tahun,'' jelas Yanto, yang memang mempunyai keahlian membuat barang-barang kerajinan ini.

Cara membuat tas dari debok ini boleh disebut sangat gampang. Namun, perlu ketelitian, ketekunan, dan yang tidak kalah peting adalah memiliki keahlian seni. Karena, sentuhan seni akan menghasilkan tas yang bagus. Tahap awal membuat bahan dasar berupa anyaman dari andong (bahan tikar). Setelah anyaman andong ini berbentuk tas, lalu dibalutkan pada alat pencetak. Selanjutnya anyaman andong itu dibalut dengan bahan debok yang sudah jadi bahan tas tersebut. Tentu saja untuk merapatkan ada sedikit jahitan dan bahan perekat dari lim.

Oh, ya, bentuk tas tergantung pada selera.Yanto mengungkapkan, satu jenis tas jadi dijual sekitar Rp 10 hingga Rp 15 ribu. Setiap dompet dijual Rp 3 ribu. Tetapi harga itu berlaku bagi yang membeli langsung kepadanya. Jika pembelian dilakukan di toko atau di mal harga bisa mencapai Rp 30 hingga Rp 40 ribu per tas.

Untuk pemasaran Yanto tidak melakukannya secara khusus, hanya melalui orang per orang. Dari cara ini banyak orang mengetahui dan tertarik, lalu memesan ke rumahnya. Misalnya, kelompok ibu-ibu PKK memesan sampai ratusan tas.

Beberapa waktu lalu ada orang dari Surabaya memesan sekitar 300 tas. ''Kalau ada pesanan banyak seperti itu saya tidak mampu mengerjakan sendiri. Sebab, satu hari seorang hanya mampu membuat 5-7 tas saja. Akhirnya saya mencari orang untuk ikut membantu mengerjakan,'' ungkap Yanto. Kendapa yang sulit diatasi Yanto adalah saat musim hujan tiba. Jika musim itu datang, usahanya berhenti sebab ia tidak dapat menjemur pohon pisang. Apapun, Yanto merasa bangga karena tas yang berasal dari bahan yang dianggap sampah itu ternyata mampu menembus supermarket. Hasil karya Yanto saat ini dijual di salah satu supermarket di Surabaya.

Sumber : Dari sini

Ide Bisnis : Bikin Duit Dari Bulu Itik

Menghantar Sang Juara dengan Bulu Itik

Bulutangkis mendarah daging bagi rakyat Indonesia setelah sepak bola. Pertandingan yang melempar shuttlecock melewati jaring dengan raket ini umum dimainkan oleh orang Indonesia. Apalagi di cabang olah raga satu ini prestasi Indonesia sangat menonjol di peta olah raga dunia.

Namun, barangkali banyak yang tidak mengira, jika shuttlecock yang dipakai dalam pertandingan resmi bulu tangkis tingkat daerah maupun nasional ada yang berasal dari buah karya dari para ibu di Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jatim.

Atau, barangkali orang juga tidak tahu jika karya ibu-ibu rumah tangga di desa tersebut melahirkan atlet-atlet bulu tangkis tingkat nasional maupun internasional. Saat ini hampir seluruh rumah tangga di Desa Sumengko menekuni usaha pembuatan shuttlecock. Bahkan, boleh dikata pembuatan alat olah raga badminton yang memanfaatkan bulu itik tersebut sudah menjadi semacam industri rumah tangga (home industry).

Industri rumahan itu berawal pada 1970-an. Saat itu warga Desa Sumengko banyak yang memelihara mentok (itik). Karena banyak itik -- yang bentuknya seperti angsa tapi lebih pendek -- bulu-bulu yang dihasilkan juga banyak. Lagi pula bulu-bulu itu dibiarkan menjadi barang yak terpakai.

Dari sini ibu-ibu rumah tangga di desa tersebut memanfaatkan bulu tersebut dengan menjadikannya shuttlecock. ''Awalnya hanya seperti orang bermain-main saja. Karena banyak bulu mentok, lalu dimanfaatkan menjadi shuttlecock. Kebetulan saat itu warga juga sudah mengenal olah raga bulu tangkis,'' ujar Sujadi, salah satu pemilik industri shuttlecock kepada Republika.

''Tetapi saat itu kualitasnya belum seperti sekarang ini,''Sujadi mengungkapkan, awalnya shuttlecock tersebut hanya dipakai untuk pertandingan bulu tangkis oleh anak-anak di Desa Sumengko. Setelah itu cock semakin berkembang dan kemudian dikenal oleh masyarakat di luar Desa Sumengko. Pada 1980-an shuttlecock dari desa itu dikenal di tingkat Kabupaten Nganjuk. Setiap ada pertandingan bulu tangkis tingkat kabupaten, panitia selalu memesan shuttlecock dari desa tersebut.

Selain Sujadi ada pengusaha shuttlecock yang cukup sukses. Dia adalah Edi Hari Prasetyo, yang merintis usaha tersebut sekitar 1987-an dengan meneruskan usaha orang tuanya. Sekarang dengan 50 orang karyawan, usahanya mampu menghasilkan sekitar 200 lusin shuttlecock per minggu. ''Kami mencoba memanfaatkan peluang. Tetapi itu semuabergantung pada modal,'' ujar Edi.

Menurut Edi, modal yang dipakai untuk membuat 1.000 lusin shuttlecock mencapai sekitar Rp 40 juta. Jika terjual, 1.000 lusin itu bisa laku sekitar Rp 45 juta. Jika dipotong untuk biaya produksi, seperti upah buruh, maka keuntungan yang diperoleh Edi sekitar Rp3.000.000,00.Jumlah yang terbilang lumayan.

Sayang, kendala modal masih terjadi. Sebab, tak jarang pihaknya tak mampu melayani pemesanan karena kurang modal.Shuttlecock yang dihasilkan dipasarkan ke beberapa daerah, seperti luar Jawa, Malang, Surabaya, Bandung, Semarang dan Jakarta. Untuk memasarkan produksi tersebut pihaknya bekerja sama dengan para agen dan klub-klub bulu tangkis di berbagai daerah.

Menurut Edi, biasanya para agen itu yang memesan lebih dahulu. ''Dengan demikian kami tahu berapa kebutuhannya sehingga seluruh produk ini laku di pasaran,'' paparnya. Edi mengungkapkan, sejak beberapa tahun terakhir biaya pembuatan shuttlecock meningkat. Itu karena bahan baku berupa bulu itik harus diimpor dari Taiwan. Sayang sekali. Langkah impor bulu mentok itu terpaksi dilakukan karena Indonesia, terutama di Nganjuk, saat ini jarang orang beternak itik. Tentu saja ini menyulitkan pencarian bahan baku.

''Kami akui, kualitas bulu mentok lokal lebih bagus dibanding bulu mentok impor.Tetapi, saat ini untuk mencari bulu mentok lokal sangat sulit. Kalaupun ada, sangat sedikit dan tidak mampu memenuhi kebutuhan,'' papar sarjana ekonomi tersebut.Edi mengungkapkan bahwa shuttlecock produksi Nganjuk sudah diakui di tingkat nasional.

Sayangnya, para perajin belum mempunyai hak paten sehingga kebanyakan shuttlecock belum diberi merek. Tentunya hal ini memungkinkan pihak-pihak lain membajak dan memberi merek ketika melemparkannya ke pasaran.Dari ratusan unit usaha itu baru tiga yang sudah mempunyai hak merek, yakni merek Mina, Aldo RI, dan Memori. Padahal dengan banyaknya unit usaha di Nganjuk, diperkirakan ada sekitar 10 ribu shuttlecock yang dipasok untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Sumber : Dari sini

Ide Bisnis : Bikin Duit Pake Kertas Sak Semen

Mencetak Wayang dari Kertas Bekas Semen

Di tangan para dalang, tokoh-tokoh perwayangan menampilkan perannya masing-masing. Dari lembaran-lembaran kulit binatang, wayang-wayang itu dibuat. Itulah sebabnya disebut wayang kulit.Namun, ada yang unik dan kreatif dari sebuah dusun di Jawa Timur. Di sini, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, wayang tidak dibuat dari kulit binatang.

Sosok laki-laki lanjut bernama Soekarno menciptakannya dari kertas bekas pembungkus semen yang disebut seplit.'' Ya, karena betul-betul tidak ada modal lagi. sementara saya sangat suka dengan wayang, dan butuh makan,'' kata Soekarno kepada Republika, beberapa waktu lalu, tentang alasannya beralih memakai bahan baku kertas bekas pembungkus semen.
Di atas lembaran-lembaran cokelat bertekstur keras mirip kulit itu, Soekarno menggambar tokoh-tokoh wayang dan memotonginya. Pria kelahiran 1945 ini menekuni wayang kulit beserta perwatakannya sejak usia belasan tahun. Pria yang tinggal di perkampungan dingin di kaki Gunung Panderman itu mendesain wayang, menggambar, dan mengecatnya sesuai pesanan. Bahan baku berupa seplit tadi tidak ditemukan di toko mana pun.
Sebab, Soekarno sendiri yang meramunya.Lebih jauh tentang seplit, bahan baku ini hasil ciptaan Soekarno dari hasil daur ulang kertas-kertas bekas pembungkus semen. Ia mendapatkan kertas-kertas berwarna coklat dan kotor itu dari siapa pun. Dengan spons basah, ia mengelap kertas-kertas tersebut. Lalu satu per satu kertas bekas itu dicuci dan dikeringkan dengan cara mengangin-anginkan, bukan menjemurnya di bawah sinar matahari.Setelah kering, kertas-kertas coklat tadi ditempelkan pada kertas semen lain dengan lem tembok hingga ketebalannya mencapai rangkap sembilan lembar kertas.
Ketika kering, hasilnya mirip kulit hewan yang dikeringkan. Keras dan liat. ''Selesai dilem pada kertas lain, digosok-gosok pakai lap. Lalu, jadilah seplit,'' ujarnya.Pemberian nama seplit pada bahan itu lebih karena merupakan ungkapan emosional Soekarno terhadap keadaan yang dialami sepanjang melestarikan budaya wayang. Seplit, katanya, adalah akronim dari ungkapan Jawa Seseking ati nganti kertas semen dilempit-lempit. (Begitu sesak rasa hatinya hingga kertas semen dilipat-lipat).Sejak 1984 Soekarno sangat jarang menggunakan kulit hewan sebagai bahan wayang. Alasannya klasik, dia tidak punya dana untuk membeli kulit. Semakin lama ia bahkan merasa yakin, seplit lebih unggul dari kulit. Sebab, kulit merupakan bahan yang 'hidup' sehingga mudah sekali menjamur, apalagi catnya mudah luntur.Kehadiran wayang seplit Soekarno cukup diakui pemerhati budaya wayang dari Denmark, Belanda, dan Australia.
Terbukti dari beberapa foto yang disimpan dalam albumnya. Tampak sejumlah mahasiswa bule pernah mengunjungi rumahnya ketika ia masih tinggal di Jalan Mergan Lor, RT 11 RW 06, Sukun, Kota Malang.Bahkan seorang seniman Belanda bernama Coor Muller menuliskan kesan pada buku tamu, ''You are real artist! Thank you for explanation, and all your patience to tell me the meaning of wayang.
''Perhatian juga datang dari beberapa perwira tinggi TNI pada masa orde baru. Dari catatan pribadi, ada sedikitnya tiga perwira tinggi yang peduli lalu memberikan kontribusi pada Soekarno. Yakni, Pangarmatim pada tahun 1990-an, Laksamana Bambang Suryanto, Jenderal TNI Wiyogo Suyono, dan beberapa pejabat TNI lainnya.Wayang seplit Soekarno dijual relatif murah, berkisar antara Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu per tokoh. Werkudoro, misalnya, dijual Rp 50 ribu. Tokoh-tokoh wayang yang sering dipesan beberapa seniman dari mancanegara antara lain, Kumbo Karno, Anoman, Broto Seno, Punto Dewo dan Punokawan.mamang pratidina ( )

Sumber : Dari sini

Menteri Marketing

Menteri Marketing

''Menteri Marketing?'' Binatang apalagi ini! Memang beberapa hari ini kita semua sedang berdebar-debar menunggu formasi kabinet baru bentukan presiden terpilih SBY-Kalla. Banyak kalangan menilai formasi kabinet ini merupakan ujian pertama pemerintahan SBY-Kalla: kalau diisi orang-orang korup dan tidak kompeten, habislah kredibilitas pemerintah baru ini. Tapi, sebaliknya apabila diisi orang-orang yang tepat ia akan menjadi early-win yang memperkokoh legitimasinya. Pertanyaannya, mungkinkah ''menteri marketing'' ada di formasi kabinet baru tersebut?

Dengan nada pesismistis, saya mengatakan 99,9 persen itu tak akan terjadi. Bahkan, banyak dari para pembaca yang barangkali mengatakan, ini mimpi saya di siang bolong. Memang betul ide itu tidak realistis dan barangkali tidak mungkin dijalankan. Namun, setidaknya ide itulah yang selama beberapa hari ini berputar-putar di kepala saya. Masih saja saya terus bermimpi agar negeri ini memiliki seorang menteri marketing. Berikut ini adalah alasan saya, kenapa kita butuh menteri marketing.

Saya melihat, brand Indonesia saat ini di mata dunia internasional begitu buruknya. Bahkan, berada di posisi terendah dalam sejarah perjalanan negeri ini. Bagi saya brand adalah persoalan sangat mengkhawatirkan yang perlu secara strategis dipecahkan oleh negeri ini secepat mungkin. Tak berlebihan untuk menyebut Indonesia saat ini sebagai the bottom of all brand. Kenapa demikian? Karena memang Indonesia adalah jawaranya untuk berbagai hal yang buruk -- korupsi, kemiskinan, instabilitas politik-keamanan, mampetnya arus foreign direct investment (FDI), minimnya law enforcement, dan sebagainya.

Kalau dilihat dari kaca mata konsep marketing nation bisa dikatakan brand adalah ''nyawa'' sebuah negara. Kenapa demikian? Karena kalau brand suatu negara hancur, maka habis pulalah negara tersebut. Dia tak akan dilirik trader, tourist, dan investor. Bahkan, penduduk dan warganegaranya pun ikut-ukutan emoh tinggal. Mereka lebih memilih hengkang dan tinggal di negara lain.

Celakanya kalau warganegara ini dari jenis sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Kalau sudah demikian maka akan terjadi brain-drain dan talent outflow. Ujung-ujungnya sudah bisa dipastikan, daerah dan negara tersebut akan semakin keropos daya saingnya.

Untuk membangun kembali brand Indonesia, kita membutuhkan pemimpin-pemimpin dan manajer-manajer yang berwawasan marketing. Contoh dari negara yang punya wawasan marketing kuat adalah Singapura. Bagi saya Singapura adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang birokratnya sangat marketing-oriented dalam membangun negara. Pendekatan-pendekatan marketing seperti segmentasi, positioning, diferensiasi, atau branding dengan cerdas diterapkan oleh pemerintah Singapura layaknya sebuah organisasi bisnis. Inilah yang saya istilahkan dengan enteprising the government.

Dengan menggunakan pendekatan marketing yang cerdas negara Merlion itu menjual pariwisata melalui branding campaign bertema Uniquely Singapore. Negara kota ini juga berupaya keras mendatangkan orang-orang terbaik (pebisnis, profesor, peneliti, seniman, dan sebagainya) untuk tinggal di Singapura dengan program Contact Singapore. Negara ini juga mendorong perusahaan-perusahaannya untuk go international dengan beragam program yang dirancang oleh badan pemerintah IE (International Enterprise). Dan masih banyak lagi.

Dua bulan lalu kebetulan saya menghadiri Global Brand Forum 2004 di Singapura, di mana Lee Kuan Yew berbicara di situ sebagai keynote speaker. Satu hal yang paling menarik perhatian saya dari ceramah Lee adalah visi marketing yang dia miliki. Ada satu pernyataan simpel di awal ceramahnya yang sangat menarik perhatian saya. ''Singapore is different,'' kata Lee.
Tiga kata itu sepertinya sangat sederhana, tapi bagi Lee memiliki makna sangat besar dan diakuinya menjadi kunci kesuksesan Singapura. Ia melanjutkan, sejak 1965 Singapura terus berjuang di tengah kelangkaan resources untuk selalu be different dibanding dengan negara berkembang lain.

Pernyataan Lee ini tak lain merupakan esensi dari konsep diferensiasi dalam marketing. Dari pendekatan pembangunan yang ia lakukan selama 25-30 tahun saya tak ragu sedikit pun untuk mengatakan bahwa Lee Kuan Yew adalah seorang negarawan yang yang juga seorang nation marketer dengan visi marketing yang sangat kental. Rupanya visi marketing ini menjadi inspirasi bagi kalangan birokrasi Singapura dalam membangun negara. Karena itu, menjadi relevan kalau Lee Hsien Loong, perdana menteri baru Singapura, mengangkatnya sebagai minister mentor dua bulan lalu.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini: ''Mungkinkah 'menteri marketing' ada di formasi kabinet baru tersebut?'' Jawaban saya masih saja sama, 99,9 persen itu tak akan terjadi. Namun, masih saja saya mendambakannya. Sebesar 99,9 persen saya yakin saat ini kita membutuhkannya. Semoga SBY-Kalla membaca tulisan ini.

Marketing Oleh:

Yuswohady, Chief of Corporate & Strategy Practice MarkPlus&Coe-mail: marketing_probis@yahoo.comfaksimile: 021-7983623

Sumber : dari sini

Bangun Komunitas Kita

Suatu ketika ada dialam antah berantah ada seseorang diundang berkunjung kesebuah rumah perenungan, setiba disana dia disambut oleh sang Ketua dan mulailah teman kita ini melihat-lihat apa saja yang diajarkan dalam rumah ini.

Pertama kali sang Ketua mengajak teman kita ini kesebuah ruangan besar dengan meja yang memanjang dan kursi yang terletak bersebrangan yang dipenuhi orang, dimeja tampak makanan yang enak, ada soto madura, gudeg yogya ... wah pokoknya enak serta bisa menggoyang lidah ... tetapi suasana sangat sepi orang-orang yang duduk disitu hanya pada bengong sambil melihat makanan dengan muka sedih tanpa melakukan sesuatu .... lha ternyata setiap orang membawa sendok dan garpu yang panjangnya 1 meter ... gimana mau makan kalau begitu ... pantesan muka mereka pada ditekuk.

Kemudian pak Ketua mengajak teman kita ini keruang sebelah yang sama besar dengan suara riuh rendah, penuh gelak tawa dan saling ledek dengan akrab ... wah ada apa ya ... lho pemandangan persis sama seperti ruang satunya kecuali orang-orangnya yang gembira dan makanan yang hampir habis ... padahal mereka membawa sendok garpu yang sama panjang ... kok bisa yaaa.

Penasaran sekali teman kita ini dan diperhatikan dengan jelas apa yang beda ... oooh ternyata mereka saling menyuapi temannya, yang duduk disebelah kiri meja menyuapi yang sebelah kanan, begitu juga sebaliknya .... akhirnya makanan tersebut habis.

Teman-teman semua ... ini refleksi dari kehidupan kita sehari-hari .. tinggal kita pilih mau bersikeras melakukan usaha sendiri padahal kita tahu itu menyusahkan atau saling tolong dan semua bisa bergelak tawa dalam satu irama kegembiraan ... mari kita bangun keakraban dan budaya saling tolong menolong di komunitas ini ...

Wassalam,

Harmanto