07 Januari 2008

HOW DO YOU FACE YOUR FAILURE ?

HOW DO YOU FACE YOUR FAILURE ?

Di setiap episode kehidupan ini, anda hanya akan dihadapkan pada dua pilihan dalam melihat kegagalan, yaitu result (hasil) atau reason (alasan).

Tengoklah dua pilihan ini karena sangat menentukan bagaimana anda melihat kegagalan dalam hidup ini. Jika kita tidak mendapatkan hasil yang diinginkan, kita mungkin mulai mencari alas an di balik kegagalan itu. Semakin kita dewasa, semakin mahir kita mendefinisikan alasan mengenai terjadinya sesuatu secara logis dan hal yang paling membahayakan terjadi, karena alasan itu terlihat begitu 'benar' sehingga menjadi keyakinan yang tidak memberdayakan seseorang dan menjadi kebohongannya. Cobalah anda mendengarkan cerita orang yang menceritakan mengapa mereka gagal dan anda akan menemukan alasan-alasan logis yang membuat seseorang itu gagal dan bahayanya ia percaya bahwa itulah kondisi yang tidak dapat dihindari dibandingkan keinginannya untuk berubah.

Oprah Winfrey, wanita berkulit hitam pembawa acara talkshow yang sangat terkenal di dunia, adalah orang yang paling 'menentang' pandangan banyak kalangan bahwa ia tidak cocok menjadi seorang pembawa acara talkshow. Parasnya yang pas-pasan, ukuran tubuh yang jauh dari standard kecantikan, kulitnya yang hitam (sulit bersaing dengan bule), dan masa lalunya yang suram (menjadi korban perkosaan). Itulah fakta mengenai Oprah Winfrey. Mungkin bagi kebanyakan orang, kondisi Winfrey adalah 'reason' untuk menganggap bahwa dirinya tidak pantas meraih kesuksesan; namun Oprah mengubahnya menjadi 'result' yang positif. Memutarbalikkan setiap kegagalan menjadi dorongan yang sangat hebat untuk meraih kesuksesan.

Oprah Winfrey berani menatap dan menghadapi kegagalan dan pengalaman buruknya pada masa lampau dan tetap mengambil langkah maju dengan membuang beban yang ada.

Demikian pula halnya dengan Elvis Presley ketika mencoba tampil untuk pertama kalinya, Elvis dilarang untuk balik naik panggung dengan cemoohan bahwa ia akan gagal selamanya. Apakah menurut anda Elvis muda saat itu menjadi takut dan mundur serta tidak melanjutkan langkahnya? Jawabannya tentu sudah kita pahami bersama bahwa Elvis Presley adalah Sang legendaris "King of Rock n Rol" abad 20 hingga kini.

Bagaimana dengan anda sendiri? Apakah anda dalam kondisi seperti itu akan melihatnya sebagai alasan logis untuk menyerah ataukah anda menganggapnya sebagai tantangan untuk mengubah fakta tersebut menjadi kenyataan positif bagi anda. Anda tentukan sendiri pilihannya.

Seringkali manusia gagal mencari jawaban atas kegagalan. Jawabannya bisa dua; yaitu menerima batasan atas kegagalan tersebut atau mencari jalan keluar untuk mendapatkan results yang berbeda. Kita tidak akan tiba ke tempat tujuan jika kita terus melihat dari kaca spion kendaraan saat mengemudi di jalan. Kita akan sulit maju jika pandangan kita hanya melihat kegagalan-kegagalan di masa lalu.

Kegagalan itu sesuatu yang berharga. Sebaiknya kita arahkan pandangan ke depan saat berkendaraan dan bersiap untuk menghadapi tantangan yang baru karena masa depan tidaklah sama dengan masa lalu kita.

(Dikutip dari "Fight Like A Tiger Win Like A Champion" hal 164-165).

"OUR GREATEST GLORY IS NOT IN NEVER FALLING, BUT IN RISING EVERYTIME WE FAIL" ( Confucius ).

"MANY OF LIFE'S FAILURE ARE MEN WHO DID NOT REALIZE HOW CLOSE THEY WERE TO SUCCESS WHEN THEY GAVE UP" ( Thomas Edison ).

ANDRIE WONGSO: SUKSES ADALAH HAK SAYA

ANDRIE WONGSO: SUKSES ADALAH HAK SAYA

Tak berlebihan jika Andrie Wongso disebut sebagai salah satu motivator terbaik di negeri ini. Proses hidup yang dijalani pengusaha kartu kata-kata mutiara Harvest ini, sangat inspiratif. Anak penjual kue yang lahir di Malang, 6 Desember 1954 itu, tak pernah tamat SD akibat gejolak Gestapu 1965.

Sejak itu, Andrie kecil harus jualan kue di pasar untuk menyambung hidup. Tahun 1976 ia nekad merantau ke Jakarta dengan pekerjaan pertama sebagai salesman sebuah pabrik sabun. Malam hari ia cari tambahan dengan melatih beladiri Kung Fu.

Merasa punya kepandaian dan penampilan oke, Andrie banting stir melamar jadi bintang film silat. Lamarannya ke perusahaan film HongKong diterima. Ia sempat tiga tahun mengadu nasib dan membintangi film "Kung Fu Executioner" dan "Fistful of Talon", serta satu film nasional "Surga di Telapak Kaki Ibu".Ternyata dunia film tidak memberi sesuatu seperti yang diimpi-impikan sebelumnya.

Orang beranggapan Andrie gagal karena tak sekalipun jadi bintang utama. Namun ia menilai dirinya sudah sukses. Sukses dalam proses mencari jatidiri dan berani memiliki imajinasi untuk mewujudkan cita-citanya."Sukses dalam perjuangan. Maka proses itulah nilai investasi yang paling tinggi. Prosesnya!," tegas suami Haryanti Leny Suharto itu.

Dan "kegagalan" itulah yang akhirnya justru membukakan lembaran barubagi ayah dari Vicky, Vendy, dan Valdy ini. Tahun 1985 ia merintis bisnis kartu ucapan kata-kata mutiara dari tempat kosnya.

Di luar dugaan, usaha kartu-kartu inspiratifnya berkembang pesat.Lalu ia dirikan MLM Forever Young, Action & Wisdom MotivationTraining, serta memiliki perusahaan hologram dan software.

Kegemarannya berbagi spirit kesuksesan menjadikannya seorang motivator yang luar biasa. Ia telah berbicara di banyak perguruan tinggi dan perusahaan komersil. Bersama pengamat bisnis dan manajemen Renald Kasali, ia membagi elanentrepreneurship di seluruh nusantara, selama tiga bulan berturut-turut selama pertengahan tahun 2002 lalu.

Andrie ada dibalik suksesTim Bulu Tangkis Olimpiade Sidney dan Thomas & Uber Cup tahun 2000.Kemenangan gemilang Tim Thomas Cup Mei 2002 lalu juga berkat sentuha nmotivasinya. Kini selain terus berwiraswasta, ia mendedikasikan talentanya untuk membangkitkan sikap mentalitas sukses kepada sebanyak mungkin orang.

"Kita bangsa yang cukup hancur akhir-akhir ini. Satu-satunya jalan adalah pembinaan sikap mental, baru bisa bangkit lagi," tegasnyakepada Edy Zaqeus, dalam sebuah wawancara eksklusif di di salah satukantornya di Kawasan Roxi Mas, Jakarta Barat.

Apa yang Anda cari dengan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar?

Memberi dan membagi pengalaman. Kalau kebetulan itu di perusahaanyang basisnya bisnis, ada timbal balik. Tapi kalau di universitas-universitas, anak-anak PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Indonesia: red), ya kita hanya memberilah.Yang menarik, ternyata orang-orang kita itu haus akan pengertian mentalitas atau motivasi. Dengan membagi pengalaman-pengalaman yang saya lewati selama ini, itu jelas dapat merangsang. Ternyata kualitas-kualitas seperti saya ini,yang notabene pendidikan formalnya SDTT -Sekolah Dasar Tidak Tamat-tapi ada satu visi yang bisa diambil melalui perjuangan selamapuluhan tahun terakhir. Beraneka ragam kehidupan saya. Dari SDTT,berjuang luar biasa sebagai pelayan toko, memperjuangkan impiansebagai seorang bintang film, memperjuangkan usaha melalui kartu ucapan Harvest, lalu terjun ke dunia MLM, sebagai motivator tim resmi Olimpiade. Kini makin banyak sekali undangan untuk memberi motivasi.

Dari pengalaman Anda sendiri, apa menariknya dalam entrepreneurship?

Satu sikap mental atau cara pandang terhadap kesulitan itu. Carapandang apa itu sukses. Di Indonesia ini banyak orang kena penyakitmitos. Misalnya, pendidikan saya rendah, saya anaknya pegawai kecil,saya anak orang miskin, anak petani. Kalau itu yang dibuat pedoman,kita habis. Karena sikap mental tadi, membawa dampak keseluruhan.Membuat Anda ini tidak bisa bertanding, karena sudah mikir dulu 'sayakan cuma SD, saya kan cuma SMP, cuma SMA'. Yang S-1 pun 'bapak saya orang miskin, mungkin saya tidak bisa sukses, hanya sebagai pekerja biasa saja'.Itu mentalitas yang mematikan seluruh pandangan. Mitos itu antaralain pendidikan. Mitos kesehatan, merasa dirinya tidak kuat fisik.Mitos nasib 'saya berjuang bagaimanapun saya tidak akan sukses,karena nasib sudah menentukan saya hidup seperti ini'. Mitos umur 'saya sudah tua, ini kerjaan atau bidang anak muda' atau sebaliknya. Mitos kelamin, 'dia kan cewek ya bisa, bukan kerjaanlelaki'. Mitos warna kulit 'saya kan item, dia kan orang Tionghoa kulitnya putih bisa sukses'. Ini semua penyakit-penyakit mitos, tidak berlaku. Maka dalam kehidupan saya, saya ringkas dalam satu kalimat;SUCCESS IS MY RIGHT. Sukses adalah hak saya. Inti seminar saya itu,dengan moto kata-kata mutiara "Kesuksesan bukan milik orang-orangtertentu.Sukses milik Anda, milik saya, dan milik siapa saja yang`benar-benar menyadari, menginginkan, dan memperjuangkan dengan sepenuh hati".

Banyak orang terbelenggu mitos-mitos itu?

Banyak sekali, sangat banyak. Saya lihat di seminar-seminar saya. Diatlet saja ada kok. Atlet PBSI yang top semua itu juga kena mitos berat, mitos susah. Penyakit juga yang membuat orang susah bangkit.

Cara untuk keluar dari belenggu itu?

Mental! Mental kan butuh pengertian. Tanpa disentuh itu, bagaimana bisa bangkit wong dia sendiri tidak tahu? Tahunya mau kerja merasatidak bisa. Ini perlu dikuak dulu! Nah, itu tugas saya sekarang.Dengan begitu saya merasa membantu negara. Kadang ketika mauberwirausaha, soal modal dan risiko menjadi kendala utama. Dua penyakit itu yang paling berat.Takut ambil risiko dan tidak punya modal. Saya mulai justru dengankeduanya itu tidak ada. Saat saya mulai kartu Harvest tahun 1985,tidak ada modal sama sekali. Saya cuma punya ide. Jadi dalam prosesperjuangan dulu, saya punya kata-kata mutiara, "Harga sebuah kegagalan dan kesuksesan bukan dinilai dari hasil akhir, tapi dinilai dari proses perjuangannya". Jadi saya pulang dari Taiwan bikin kata-kata mutiara ini. Orang mikir saya gagal sebagai bintang film karena tidak ada satu film pun saya bintangi sebagai bintang utama. Tapi saya pikir itu sukses! Sukses`dalam perjuangan. Maka proses itulah nilai investasi yang paling tinggi. Prosesnya! Waktu saya punya ide membuat kartu kata-kata mutiara, saya tidak punya modal. Maka sayapasang iklan ngajar Kung Fu. Kumpulin uang buat modal. Jadi berangkat tanpa modal.

Tapi mana yang mendahului?

Ide! Ide itu yang mendahului,saya pasti berhasil.Jadi embrionya pengertian "Success is My Right" tadi. Karena adapengertian itu, muncul keberanian untuk mencoba. Ada nggak keuletan?Pasti! Masalah-masalah itu jadi kecil karena kita berani menghadapisesuai dengan pengertian kita, bahwa saya pasti berhasil. Risiko?Udah nggak ngerti lagi apa itu risiko! Jalan aja, risiko itu kan nanti? Maka harus berani ambil keputusan mencoba.Kalau sudah berani ambil keputusan mencoba, pasti berani risiko.Risiko gagal, wong sekarang nol kok gagal? Berangkatnya kan nol?Nothing to lose, always win!Bagaimana Anda bisa memelihara spirit dari dalam, penuh motivasi terus-menerus?Kalau secara singkat bahasa rohani mengatakan..karunia. Tapi ingat itu ilmu yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Karena saya terbiasa dalam latihan Kung Fu yang saya namakan Hap Kun Do, ini menghilhami saya. Harus selalu konsisten mentalnya, terjaga. Terutama kemauan,kepercayaan diri, komitmen, konsekuen, satria, berani, tanggungjawab, disiplin, moralitas.Itu semua kelompok karakteristik yang harus dimiliki orang yang mauberhasil. Kapan berhentinya? Ini tidak berhenti sampai kita mati.Hidup terus. Kok begini? Ini sebetulnya konsisten yang benar. Karenasedikit yang konsisten, jadi luar biasa saya. Padahal itu biasa saja.Bagaimana ilmu beladiri bisa memberi spirit dan selalu mengilhamiseperti itu? Karena di dalam Kung Fu sebenarnya adalah pelatihan fisik yang menghasilkan mental. Kalau kita tertekan fisiknya karena latihan fisik, itu akanmenghasilkan pengkristalan kekuatan mental. Kalau latihan ndak kuat,dipaksa dikit! Ndak kuat, dipaksa dikit! Itu sama dengan kita mengalami penderitaan. Begitu mengalami penderitaan kita tahan,tahan, ternyata ya kuat. Jadi kekuatan mental menghadapi masalah itujadi tumbuh.Dengan teriakan (dalam latihan beladiri: red), itu aktualisasi diriakan muncul. Dari aktualisasi itu akan menimbulkan kepercayaan diri.Membuka keyakinan diri.

Kalau dianalogikan dengan risiko bisnis?

Nyemplung saja! Satu-satunya jalan seseorang dinilai luar biasa bukandari banyaknya prestasi yang dihasilkan. Tapi dari berapa banyakmasalah yang dihadapi. Itu baru luar biasa. Kalau kita orang kayaluar biasa, itu kan orang punya uang banyak, bukan orang sukses?Orang sukses dinilai dari bagaimana dia menghadapi masalah dengantenang dan berani. Kalau orang seperti ini, ndak ngerti itu risiko.Yang tahu saya berhasil. Semangat seperti ini perlu dibudidayakan di Indonesia. Kita bangsayang cukup hancur akhir-akhir ini. Satu-satunya jalan adalahpembinaan sikap mental, baru bisa bangkit lagi.Mengisi peran pembinaan sikap mental itu, pilih institusi formal ataunon formal?Dua-duanya. Contohnya sudah lebih dari 15 universitas, pelantikan dari S-2 sampai S-3. Dari perusahaan-perusahaan, perbankan, semualini yang paling top pun sudah saya masuki. Di situ itu butuh motivasi. Karena motivasi tidak bicara status, bukan milik orang sekolahan, tidak juga milik tukang sapu, tidak juga milik presiden.Semuanya! Itu soal mentalitas, maka jangan bicara status. Semuanya!Lha, bangsa kita saat ini membutuhkan pembangunan karakter. Ini yanglebih penting. Kalau itu ada, berduyun-duyun bersama-sama, kitaadakan hari ini. Sebulan saja setelah hari ini, pasti berubah. Satu tahun kemudian, berubah atau berubah? Pasti berubah! Masalah sikapmental seperti contoh tadi, itu yang perlu dikembang-biakkan.

Dikaitkan dengan perubahan sikap mental itu, apa yang mesti dilakukanorang-orang muda?

Anak-anak muda sekarang ini harus belajar nilai sebuah sikap mental.Anak-anak sekolah ini kan tonggak bangsa yang dimiliki? Isinya berantem, bunuh-bunuhan. Kalau kita lihat sebagai cermin, bagaimanaorang kayak gini bisa tumbuh dengan baik? Wong isinya keras sama orang lain, bukan keras terhadap diri sendiri? Itu tidak tahu sama sekali apa artinya mental. Itu berarti harus step by step. Orang mau berjuang, masih nggak berhasil, kita harus beritahu mentalmu begini. Kualitas bangsa ini lagi turun semua, itu yang saya lihat.

Disiplin nasional sekarang ini mundur atau maju?

Jauh, berantakan!Kita bertaruh aja, Rp1 lawan Rp1 juta; di lampu merah begitu merah,ada nggak yang nyerobot? Waktu mau hijau, keluar semua, udah tidakada yang tertib. Itu juga mental! Itu kalau kita tidak punya,bagaimana kita berjuang kalau melawan negara lain? Itu tugas kita!Bagaimana dengan orang tua yang hanya menyerahkan begitu saja pendidikan anak di sekolah? Orang tua itu juga tidak tahu. Maka bangsa ini harus mengembangkan, membudidayakan, mentradisikan,mengumandangkan pentingnya nilai sikap mental. Termasuk (institusi) yang formal ataupun informal.Keduanya sangat banyak yang tidak tahu. Sekolah-sekolah saja, pulang berantakan. Yang tarung itu berapa banyak, yang ketularan juga banyak. Segelintir saja yang mengerti soal ini. Buat saya, anak-anak muda ini number one. Dalam masa transisi ini, sepuluh tahun mendatang generasi muda ini yang lebih penting. Kalau mereka sekarang disiapkan dengan matang, ya jalan, berproses. Sepuluh tahun kemudian baru diketahui kualitas manusia Indonesia. Kalau itu tidak dibenahi, tidak ada itu Indonesia Baru. Tugas siapa itu?Tugas semuanya! Terutama, sudah pasti dong yang berwenang, ya kabinet ini. Dan termasuk kita semua, masyarakat yang sadar dan mengerti. Saya bisanya memberi ini (motivasi) untuk apa? Untuk membangun orang lain. Jadi idealisnya itu ikut membangun bangsa. Karena saya sadar,yang SDTT kayak saya, SD tidak tamat yang hidupnya berantakan, banyaksekali. Yang SMP, SMA hidup berada juga banyak.Mereka baik, kualitas baik, intelektualnya baik, mentalnya belum baik? Ini yang jadi masalah. Harus dipisahkan antara intelektual dan mentalitas. Seorang SMP, SMA, S-1, S-2 mungkin punya intelektualitas luar biasa. Tapi kena masalah hidup yang berat, nggak kuat menghadapi. Karena pengertian tentang kehidupan mentalitas yang tidak cukup.

Guru-guru terbaik Anda?

Guru-guru terbaik saya adalah kehidupan. Penderitaan itu guru yangpaling saya hormati. Setiap orang bisa menjadi guru bagi orang lain.Selama kita waspada dengan pikiran dan batin yang jernih, anytime andanyway, itu guru semua. Justru penderitaan dalam kehidupan, termasukkelompok kegagalan, kesakitan, kesalahan, ini semua guru nomor satu.Selama kita waspada melihat proses kehidupan. Tanpa ini bisa maju nggak, tidak mungkin maju! Secara fanatik, kelompok penderitaaninilah satu-satunya jalan kita bisa maju. Masak takut? Ndak usahtakut! Wong bisa dihadapi kok.

Kapan saat-saat berefleksi diri?

Hampir setiap hari saya merenung dan meditasi. Saya Budhis, jadi saya banyak melakukan perenungan ajaran Sang Budha yang luar biasa.Terutama yang paling saya senangi adalah 'hidup hanya proses' dan'hidup semua adalah tanggungjawabmu sendiri'. Jadi apa saja tingkahkita itu mengandung risiko. Risiko apa saja itu tanggungjawab kita.Tidak bisa dilimpahkan ke orang lain.Kalau tahu itu, maka langkah kita harus hati-hati. Kalau ada salah,ndak masalah.. Just a process. Orang seperti itu, biarpun uangnyabelum banyak, dia sudah sukses! Setuju ndak? Bukan berapa banyakmasalah yang dihadapi, tapi bagaimana kita memandang masalah itu.

Dalam hidup ini, apalagi yang Anda inginkan?

Keinginan manusia itu selalu berproses dan berubah. Besok bisaberubah? Bisa! Hari ini target saya ini, tahap ini mentalitas yangini, merasa sudah cukup, target harus berubah. Target saya makin tahukehidupan, makin rendah hati.Jadi sementara ini saya ingin menyumbangkan mentalitas saya,pengertian saya, pengalaman saya, pengetahuan saya, untuk semakinbanyak orang, supaya sama-sama mereka menikmati kehidupan yang lebihbaik dari hari ini. Karena apa? Cuma satu catatan: sukses adalah haksaya! Ini saja dibagikan dengan cara saya, lewat seminar, lewat wawancara dengan majalah Anda.

(Wawancara ini pernah dimuat di Majalah Berwirausaha Edisi 5/Thn 1/2002).

Tangan (tetap) Di Atas

Jim Braddock adalah petinju yang sama sekali tidak diunggulkan. Lawan dalam pertarungan saat itu adalah Max Baer, juara dunia kelas berat yang demikian ganasnya sampai pernah menewaskan dua lawan sebelumnya. Sementara Jim bertinju sekedar untuk bertahan hidup, bahkan sering sekedar untuk dapat menyediakan makan malam bagi keluarganya. Amerika Serikat di awal tahun 30-an adalah masa "great depression" dengan puncaknya kejatuhan pasar saham tahun 1929. Dampaknya langsung dirasakan James Braddock dan keluarganya. Petinju yang sangat berbakat itupun harus lebih sering bekerja sebagai kuli di galangan kapal daripada berlatih tinju. Namun, melawan Max Baer yang diunggulkan 10 : 1, ternyata James mampu bertahan, bahkan kemudian memenangkan pertarungan 15 ronde yang sangat ketat dan brutal. James Braddock kemudian tercatat sebagai juara dunia tinju kelas berat dari tahun 1935 hingga 1937.

Dibalik keberhasilan Jim, adalah Joe Gould, manager dan sahabat Jim yang selalu memompakan semangat kedalam diri Jim. Padahal kehidupan Joe sendiri juga bukanlah tanpa persoalan. Meskipun tinggal di apartemen berkelas dan selalu tampil selayaknya manager sukses, Joe sebenarnya dalam kondisi nyaris bangkrut. Apartemen mewahnya, ternyata di dalamnya sudah kosong nyaris tanpa perabotan. Ada satu kalimat dari Joe Gould yang menjelaskan mengapa sekalipun dalam kondisi bangkrut, Joe, dengan pakaian yang selalu rapih, terus berusaha bernegosiasi memperoleh pertandingan yang baik untuk Jim. Kalimat yang sama, yang selalu diingatkannya kepada Jim, agar dapat bertahan dari gempuran pukulan lawan. Yaitu, "Always keep your hands up.". Jaga tanganmu tetap di atas!

Demikianlah kisah nyata perjalanan hidup James Braddock, yang diceritakan dalam film Cinderella Man yang dibintangi Russel Crowe.

Menjalankan bisnis bagi saya ada persamaanya dengan perjuangan petinju di atas ring. Butuh keberanian dan perjuangan untuk mendapat kesempatan bertanding di atas ring. Namun butuh perjuangan yang lebih besar lagi untuk dapat bertahan di atas ring. Butuh perjuangan untuk memulai usaha. Namun jangan lupa, akan perlu perjuangan yang lebih keras lagi untuk membuat usaha Anda bertahan.

Paling tidak demikianlah pengalaman saya. Pada masa awal memulai usaha, sama seperti kebanyakan pengusaha pemula, semangat saya begitu berkobar. Namun dalam beberapa bulan, ketika cash outflow selalu lebih besar dari cash inflow, dapat Anda bayangkan, usaha saya dengan cepat berubah menjadi petinju kurang tenaga yang hanya dapat berjalan seperti zombie. Pukulan-pukulan tajam dari kreditor yang datang menagih, mulai terasa sangat menyakitkan. Apalagi pukulan-pukulan balasan dalam bentuk usaha penjualan yang sekuat tenaga coba saya lontarkan dengan sisa tenaga, hanya mengenai tempat kosong, alias gagal total. Ibarat petinju, usaha saya sudah terpojok di sudut ring, dan yang bisa saya lakukan hanyalah menjaga "tangan tetap di atas", agar tidak terkena pukulan mematikan. Seperti kata Joe Gould, "Always keep your hands up." Kalau dalam bisnis, konkretnya seperti apa "menjaga tangan tetap di atas" tadi. Tentu dapat berbeda-beda tergantung situasi yang Anda hadapi. Kalau dalam kasus saya dahulu, ada tiga hal yang saya lakukan untuk dapat bertahan di atas ring bisnis saya. Tiga prinsip yang saya sebut sebagai prinsip "Tangan Tetap di Atas".

Tidak pernah lari. Tidak pernah bersembunyi.

Ketika Anda memiliki kewajiban usaha, Anda pasti dicari-cari orang. Cara mudah yang paling sering ditempuh adalah "menghilang". Mulai dari tidak mengangkat telpon, berganti nomor telpon, tidak merespon surat, email, selalu tidak ada di rumah, hingga ekstrimnya pindah tempat tinggal. Apakah masalahnya kemudian selesai? Bisa ditebak, biasanya malah lebih parah, karena pihak lain yang semula masih mau bicara baik-baik, kini sudah kehilangan kesabaran. Lebih buruk lagi, dengan sulit dihubungi, tidak mau menerima telpon, atau bahkan menghilang, maka peluang-peluang pun ikut pergi. Ketika punya masalah, memang setiap kali telpon berdering, kadang membawa beban ketakutan. Namun, siapa tahu kalau yang menelpon adalah orang yang akan memberi order, bukan debt collector? Lagipula tidak ada alasan untuk lari, karena toh yang kita hadapi manusia juga, yang masih memiliki hati nurani dan rasa hormat kepada sesama manusia.

Sewaktu menghadapi masalah, memang selalu ada godaan untuk diam merenung di rumah. Kalau buat saya ini malah menambah stress. Untuk menghilangkannya saya memilih untuk selalu melakukan sesuatu pekerjaan setiap hari. Saya ingat, dulu setiap pagi saya membuat catatan apa yang akan saya lakukan hari ini, siapa yang akan saya telpon, siapa yang akan saya temui. Dan saya kadang kaget sendiri karena jadwal saya luar biasa padat. Begitu banyak orang yang saya temui, bahkan kadang sekedar meeting-meeting tidak penting. Paling tidak bertemu orang membuat saya tidak memikirkan "masalah" lagi, bahkan kemudian terbukti pertemuan-pertemuan tadi membawa peluang-peluang baru.

Lihat fakta, bukan opini.

Dalam masa sulit, maka biasanya penilaian kita akan dikaburkan oleh opini. Sewaktu upaya-upaya penjualan saya tidak membawa hasil, sementara kewajiban semakin menumpuk, yang mengemuka di pikiran saya adalah opini, bahwa saya nyaris bangkrut, bahwa bisnis saya sudah "habis", bahwa saya punya banyak hutang, dan sebagainya. Semuanya hanyalah opini. Yang segera masuk ke perasaan, dan terasa sangat berat. Padahal ketika saya mencoba mengurai fakta nya, maka situasinya lebih mudah dipahami dan dicari penyelesaiannya. Dan fakta dalam bisnis adalah angka-angka rupiah yang mudah dihitung. Saya kemudian mengesampingkan opini dan perasaan, dan masuk ke dalam detil angka. Berapa rupiah kewajiban saya, berapa rupiah piutang saya di luar, berapa rupiah saya bisa mendapat pinjaman pihak lain. Atas dasar analisa angka-angka tadi, saya dengan mudah dapat menawarkan solusi kepada kreditor untuk membayar kewajiban secara bertahap. Fakta berupa angka-angka tadi menjadipanduan yang sangat baik untuk segera keluar dari masalah.

Hanya memikirkan peluang.

Pada awalnya ini mungkin bentuk dari pelarian saja. Karena berpikir tentang peluang jauh lebih menyenangkan daripada memikirkan persoalan. Jadi saya lebih suka memikirkan peluang-peluang dibanding masalah yang waktu itu saya hadapi. Pada masa sulit, saya telah menyusun puluhan proposal dan melakukan puluhan presentasi, sekalipun tidak semua membawa hasil. Dan ajaibnya, memikirkan peluang dan selalu melakukan sesuatu setiap hari, ternyata menarik lebih banyak ide, peluang dan orang, yang kemudian sangat membantu dalam bisnis saya. Dan ketika peluang berhasil kami wujudkan dalam bisnis yang nyata, yang menghasilkan cash inflow, maka masalah selesai dengan sendirinya.

Demikian tiga prinsip sederhana yang dulu pernah membuat saya bertahan untuk tidak KO. Semoga mengilhami Anda untuk memiliki prinsip sendiri agar selalu dapat menjaga "Tangan Tetap di Atas", tidak peduli seberat apapun pukulan-pukulan yang Anda hadapi di atas ring bisnis Anda. (FR).

By_Fauzi Rachmanto (milist TDA)